Aceh Darussalam

Tiga Sebab Terjadinya Bencana

Oleh : Ustadz Hermansyah Adnan, S.Ag. M.Sos.

Ustadz Hermansyah Adnan, S.Ag. M.Sos.

Banda Aceh, desernews.com
“Mengapa bencana terjadi?” Dalam Islam, para ulama menjelaskan bahwa bencana dapat terjadi karena tiga sebab utama. Ketiganya memiliki hikmah dan pelajaran bagi kita semua.

1. Bencana sebagai tanda cinta Allah kepada hamba-Nya

Tidak semua bencana adalah azab. Banyak bencana justru merupakan ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali kepada-Nya dan diangkat derajatnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Betapa besarnya ujian seseorang, maka sebesar itu pula pahala yang Allah siapkan baginya bila ia bersabar. Karena itu, musibah bisa menjadi jalan menuju surga.

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa seorang hamba, bahkan meliputi anak-anaknya, keluarganya, dan hartanya, terus diuji oleh Allah. Apabila ia bersabar hingga bertemu Allah, maka dosa-dosanya akan dihapuskan.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian kesalahannya dan mengangkat satu derajat baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka kunci agar musibah berubah menjadi pahala adalah sabar. Sabar dalam hati, lisan, dan perbuatan.

2. Bencana sebagai bentuk kemurkaan Allah

Sebab kedua adalah ketika bencana menjadi peringatan keras akibat kedurhakaan dan maksiat yang merajalela.

Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96:“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan, maka Kami timpakan kepada mereka azab karena apa yang telah mereka kerjakan.”

Umat-umat terdahulu seperti kaum Nabi Luth, kaum ‘Ad, dan Tsamud menjadi contoh nyata bahwa maksiat dan pembangkangan terhadap Allah dapat mendatangkan azab. Sejarah itu menjadi pelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

3. Bencana karena kita tidak peduli terhadap kemaksiatan di sekitar kita

Sebab ketiga muncul ketika masyarakat tidak lagi peduli dengan kemaksiatan di sekitarnya, tidak lagi mengingatkan, tidak lagi saling menasehati.

Rasulullah SAW bersabda: “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, hendaklah kalian memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika tidak, niscaya Allah akan menurunkan azab kepada kalian, lalu kalian berdoa, namun doa kalian tidak dikabulkan.”
(HR. Tirmidzi).

Allah juga memerintahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 104:“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”

Ketika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan, masyarakat menjadi pasif terhadap dosa, maka bencana sosial maupun alam dapat menjadi teguran agar umat kembali meluruskan langkah.

Dari tiga sebab ini, kita belajar bahwa setiap bencana memiliki pesan.

Bagi yang beriman, musibah adalah peluang untuk mendekat kepada Allah. Namun juga bisa menjadi peringatan agar kita bertaubat dan memperbaiki lingkungan kita.

Semoga Allah melindungi kita, menjadikan setiap musibah sebagai penghapus dosa, dan memberi kekuatan untuk selalu bersabar dan memperbaiki diri.(T.Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close