Pesantren Darul Muttaqin, Ikhtiar Pendidikan Islam yang Tumbuh dari Kepedulian Umat di Dua Koto

Pasaman (Dua Koto), desenews.com
Pondok Pesantren Darul Muttaqin yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Adawiyah Al Munawwarah, Jalan Silang Empat, Jorong Pembangunan, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, perlahan namun pasti terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Keberadaan pesantren tersebut kini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Kecamatan Dua Koto, khususnya warga Silang Empat. Di tengah dinamika perkembangan pendidikan, Pesantren Darul Muttaqin hadir bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar masyarakat dalam menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan agama, akhlak mulia dan kepedulian terhadap kehidupan sosial.
Pesantren Darul Muttaqin menyelenggarakan pendidikan pada tingkat madrasah hingga tingkat Madrasah Aliyah. Perkembangan fisik pesantren terlihat cukup signifikan. Berawal dari hanya empat lokal ruang kelas belajar, kemudian bertambah menjadi delapan ruang kelas.
Kini, pembangunan kembali dilanjutkan dengan pembangunan empat ruang kelas di lantai dua. Pembangunan tersebut tengah berlangsung dan diharapkan dapat diselesaikan sesuai kemampuan serta dukungan masyarakat.
Tidak berhenti sampai di sana, setelah pembangunan lantai dua selesai, pengelola pesantren merencanakan pembangunan lantai tiga. Dengan demikian, apabila seluruh tahapan pembangunan dapat direalisasikan, Pesantren Darul Muttaqin nantinya akan memiliki sebanyak 16 ruang kelas belajar yang representatif untuk menunjang proses pendidikan para santri dan santriwati.

Perkembangan tersebut tidak terlepas dari komitmen dan ketekunan pimpinan Pondok Pesantren Darul Muttaqin, Ustadz Erpin, S.Pd, yang sekaligus dipercaya sebagai ketua panitia pembangunan pondok.
Sosok Ustadz Erpin dinilai memiliki keteguhan dalam mengembangkan pendidikan keagamaan. Pembangunan pesantren tidak semata-mata dipandang sebagai pembangunan fisik, tetapi sebagai investasi amal jariyah yang manfaatnya diharapkan terus mengalir kepada masyarakat dan generasi mendatang.
Dari perkembangan komunikasi dan informasi dalam grup pembangunan pesantren, terlihat bahwa dukungan berupa infak dari para hamba Allah terus mengalir. Sumbangan tersebut datang dari berbagai kalangan, baik masyarakat Kecamatan Dua Koto maupun para dermawan dari luar daerah.
Fenomena tersebut memperlihatkan adanya kepercayaan dan kepedulian umat terhadap keberlangsungan pendidikan Islam. Bagi para donatur, membantu pembangunan tempat pendidikan agama bukan hanya persoalan membangun gedung, melainkan bagian dari amal kebajikan yang diharapkan menjadi bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Dalam perspektif keislaman, dunia memang merupakan tempat persinggahan sementara. Kehidupan manusia pada akhirnya akan menuju kehidupan akhirat yang kekal. Karena itu, setiap harta yang disisihkan untuk kepentingan pendidikan, dakwah dan kemaslahatan umat diharapkan menjadi amal yang terus memberikan manfaat.
Semangat itulah yang tampaknya menjadi salah satu energi dalam pembangunan Pesantren Darul Muttaqin. Sedikit demi sedikit, dari infak dan kepedulian banyak orang, pembangunan pesantren terus bergerak.

Saat ini, jumlah santri dan santriwati Pesantren Darul Muttaqin telah mencapai puluhan orang yang sebagian besar berasal dari wilayah Kecamatan Dua Koto. Mereka mendapatkan pembinaan dari tenaga pendidik dan pengasuh yang memiliki pengalaman dalam dunia pendidikan pesantren.
Para guru dan pengasuh yang mengabdikan diri di pesantren tersebut antara lain Tasya, Yelpina, Ustadz Fadlan, Ustazah Raunah, Ibu Patimah, Ibu Fitri, Ibu Rahmah, Ibu Wirda, Ibu Eta dan Ustadz Sukri MSQ.
Keberadaan para guru tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Pesantren Darul Muttaqin. Sebab, bangunan yang megah tidak akan memiliki makna apabila tidak diisi dengan proses pendidikan yang berkualitas, keteladanan dan pengabdian para pendidik.
Sebagian tenaga pendidik yang direkrut disebut memiliki pengalaman mengajar di sejumlah pondok pesantren. Bahkan, terdapat pula tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan dari luar negeri.
Dedikasi para guru tersebut patut diapresiasi. Mereka tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para santri, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk membentuk karakter, akhlak dan kepribadian generasi muda.
Di sisi lain, kiprah Ustadz Erpin dalam dakwah di tengah masyarakat juga menjadi salah satu kekuatan yang turut menopang keberadaan pesantren. Dalam berbagai kesempatan, ia aktif memberikan tausiah ke sejumlah kampung di Kecamatan Dua Koto, terutama pada momentum keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Isra Mikraj.

Gaya dakwah Ustadz Erpin yang lugas, sederhana dan mudah dipahami masyarakat membuat pesan-pesan keagamaannya relatif mudah diterima oleh jamaah. Dakwah tidak hanya berhenti pada penyampaian materi di atas mimbar, tetapi diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak mengherankan apabila pada momentum tertentu, jadwal tausiah Ustadz Erpin cukup padat. Dari satu kampung menuju kampung lainnya, ia terus memenuhi undangan masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman.
Bahkan, masih banyak kampung dan sekolah yang membutuhkan kehadirannya untuk memberikan tausiah, sementara waktu yang tersedia sangat terbatas karena padatnya agenda dakwah.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan Pesantren Darul Muttaqin tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga tumbuh dari semangat dakwah dan pengabdian kepada umat.
Ustadz Erpin bersama seluruh guru dan pengasuh Pesantren Darul Muttaqin patut mendapat apresiasi atas ikhtiar dan pengabdiannya dalam membangun lembaga pendidikan Islam di Kecamatan Dua Koto.
Sebab, mendirikan dan mengembangkan pesantren bukanlah pekerjaan yang ringan. Dibutuhkan kesabaran, keikhlasan, ketekunan serta dukungan masyarakat yang berkesinambungan.

Semoga pembangunan Pesantren Darul Muttaqin terus diberikan kemudahan oleh Allah SWT, para santri semakin bertambah, kualitas pendidikan semakin baik dan seluruh pihak yang terlibat, baik pimpinan, guru, pengasuh maupun para donatur, mendapatkan keberkahan serta menjadi bagian dari amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Sebagaimana semangat yang terus digaungkan dalam perjuangan pendidikan Islam, membangun pesantren berarti menanam kebaikan untuk generasi hari ini sekaligus menyiapkan bekal bagi kehidupan akhirat. (H. Eddi Gultom)




