Aceh Darussalam

Pendidikan Aceh Tak Boleh Sekadar Berjalan, Harus Melompat

Oleh: Dr. H. Iskandar Muda Hasibuan, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh

Ist.

Banda Aceh, desernews.com
Pendidikan Aceh tidak sedang kekurangan sekolah. Yang kita butuhkan sekarang adalah lompatan mutu.

Pernyataan ini semakin terasa setelah saya melakukan kunjungan kerja ke sejumlah satuan pendidikan Muhammadiyah di Aceh Tamiang dan Langsa pada 13–14 September 2026. Di lapangan saya melihat semangat yang kuat, guru-guru yang bekerja dengan penuh pengabdian, pimpinan sekolah yang terus berusaha melakukan pembenahan, dan peserta didik yang menyimpan potensi besar.

Namun, saya juga melihat sesuatu yang lebih penting: potensi tersebut membutuhkan sistem, keberanian berinovasi, ukuran keberhasilan yang jelas, dan kepemimpinan pendidikan yang mampu membawa sekolah bergerak lebih cepat.

Kita tidak boleh puas hanya karena sekolah masih berjalan.

Pertanyaan kita harus lebih mendasar: apakah sekolah kita menghasilkan manusia yang siap menghadapi masa depan?

Pertanyaan ini penting karena dunia berubah jauh lebih cepat daripada perubahan di dalam banyak ruang kelas kita.

Dari Angka ke Dampak

Secara statistik, pembangunan manusia Aceh menunjukkan kemajuan. Indeks Pembangunan Manusia Aceh pada 2025 mencapai 76,23. Tetapi capaian agregat tersebut tidak boleh membuat kita berhenti melakukan evaluasi.

Rata-rata lama sekolah penduduk Aceh pada 2024 masih sekitar 9,64 tahun, sedangkan harapan lama sekolah mencapai 14,39 tahun. Ada jarak yang harus kita isi antara apa yang kita harapkan dengan apa yang benar-benar dialami masyarakat.

Lebih jauh lagi, kemiskinan Aceh pada September 2025 masih mencapai 12,22 persen.

Data tersebut memberi pesan yang sangat jelas: pendidikan harus menghasilkan mobilitas sosial.

Sekolah harus menjadi salah satu jalan paling kuat untuk memutus mata rantai kemiskinan. Anak-anak dari keluarga miskin tidak boleh mendapatkan pendidikan yang sekadar cukup. Justru mereka harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas, relevan, dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya angka partisipasi sekolah atau angka kelulusan.

Kita harus berani mengukur dampak pendidikan.

Apakah literasi anak meningkat? Apakah numerasinya kuat? Apakah kemampuan berpikir kritis berkembang? Apakah karakter terbentuk? Apakah mereka mampu menggunakan teknologi? Apakah mereka memiliki keterampilan hidup? Apakah mereka memiliki keberanian menciptakan peluang ekonomi?

Inilah ukuran pendidikan masa depan.

Guru Tidak Boleh Berhenti Belajar

Tidak ada reformasi pendidikan tanpa reformasi kualitas guru.

Guru adalah titik awal perubahan. Karena itu, investasi pendidikan yang paling strategis bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun kapasitas manusia yang berada di balik proses pendidikan.

Guru Muhammadiyah harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Kecerdasan buatan, teknologi digital, perubahan dunia kerja, dan arus informasi yang sangat cepat menuntut guru memperbarui kompetensinya.

Namun, kita juga harus memahami satu hal: teknologi tidak menggantikan guru.

Teknologi dapat membantu mencari informasi, mengolah data, membuat materi, dan mengembangkan metode pembelajaran. Tetapi keteladanan, empati, nilai, disiplin, dan pembentukan karakter tetap membutuhkan manusia.

Karena itu, kita tidak membutuhkan guru yang takut terhadap teknologi. Kita membutuhkan guru yang menguasai teknologi tetapi tetap menjadi manusia yang mendidik manusia.

Sekolah Harus Menghasilkan Kompetensi

Anak-anak kita akan memasuki dunia yang berbeda dari dunia yang kita hadapi dahulu.

Sebagian pekerjaan yang akan mereka jalani mungkin belum ada sekarang. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mempersiapkan anak untuk menjawab soal ujian.

Kita harus mempersiapkan mereka untuk memecahkan persoalan kehidupan.

Literasi dan numerasi harus menjadi fondasi. Tetapi fondasi itu harus diperkuat dengan kreativitas, komunikasi, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kewirausahaan, kepemimpinan, dan karakter.

Kita harus mengubah orientasi dari “anak pintar menjawab soal” menjadi “anak mampu menyelesaikan masalah.”

Perubahan paradigma ini sangat penting.

Sebab dunia membutuhkan manusia yang bukan hanya mengetahui banyak hal, tetapi mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menciptakan nilai dan menyelesaikan persoalan.

Muhammadiyah Harus Menjadi Laboratorium Pembaruan

Dalam konteks inilah saya melihat posisi strategis Muhammadiyah.

Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam pendidikan. Amal usaha pendidikan telah tersebar di berbagai daerah. Tetapi sejarah yang panjang tidak boleh membuat kita hanya menjaga apa yang sudah ada.

Tradisi besar harus melahirkan keberanian besar untuk berinovasi.

Sekolah Muhammadiyah di Aceh harus menjadi laboratorium pembaruan pendidikan.

Kita membutuhkan sekolah yang kuat dalam keislaman, unggul dalam ilmu pengetahuan, adaptif terhadap teknologi, kuat dalam karakter, dan memiliki hubungan erat dengan masyarakat.

Sekolah Muhammadiyah harus mampu menjadi contoh bahwa pendidikan Islam tidak identik dengan keterbelakangan teknologi dan pendidikan modern tidak harus kehilangan nilai.

Kita harus membuktikan bahwa keduanya dapat berjalan bersama.

Iman dan ilmu. Karakter dan kompetensi. Tradisi dan inovasi. Lokalitas dan globalitas.

Itulah identitas pendidikan Muhammadiyah yang harus kita bangun.

Pendidikan Harus Berangkat dari Potensi Daerah

Aceh tidak kekurangan potensi.

Pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, budaya, dan kewirausahaan merupakan ruang belajar yang sangat luas.

Karena itu, sekolah tidak boleh terpisah dari lingkungan.

Anak-anak harus belajar dari persoalan nyata di sekitarnya. Mereka harus mengenal potensi daerah, memahami persoalan masyarakat, belajar mengembangkan produk, mengenal pemasaran digital, dan memperoleh pengalaman kewirausahaan.

Sekolah harus mengajarkan anak bukan hanya bagaimana mencari pekerjaan, tetapi bagaimana menciptakan pekerjaan.

Jika pendidikan mampu melakukan ini, sekolah bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi ikut menciptakan ekosistem ekonomi masyarakat.

Disinilah pendidikan memiliki dampak yang lebih luas.

Aceh Tamiang dan Langsa sebagai Titik Berangkat

Kunjungan ke Aceh Tamiang dan Langsa juga memperlihatkan bahwa pembangunan pendidikan Muhammadiyah tidak boleh menggunakan pendekatan yang seragam.

Setiap daerah memiliki persoalan, potensi, dan karakteristik sendiri.

Karena itu, Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh harus memperkuat pendampingan berbasis kebutuhan sekolah.

Sekolah yang sudah maju harus menjadi pusat pembelajaran bagi sekolah lain. Praktik baik harus didokumentasikan. Kepala sekolah dan guru perlu membangun jejaring. Program yang berhasil harus direplikasi.

Kita harus membangun ekosistem pendidikan Muhammadiyah Aceh, bukan bekerja dalam ruang-ruang yang terpisah.

Aceh Tamiang dan Langsa bukan sekadar lokasi kunjungan kerja. Keduanya harus menjadi bagian dari proses membangun model pendidikan Muhammadiyah yang dapat dikembangkan ke seluruh Aceh.

Menatap 2045

Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Tetapi generasi yang akan menjadi pelaku Indonesia Emas itu sedang duduk di bangku sekolah hari ini.

Artinya, 2045 sebenarnya sedang dibangun sekarang. Pertanyaannya: manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan?

Saya membayangkan generasi Aceh yang memiliki iman dan integritas, menguasai ilmu pengetahuan, mampu menggunakan teknologi, memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, mandiri, produktif, serta mampu bersaing tanpa kehilangan identitas keacehannya.

Generasi yang tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta peluang.

Generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan inovasi.

Generasi yang tidak hanya pintar berbicara tentang perubahan, tetapi mampu menjadi pelaku perubahan.

Untuk melahirkan generasi seperti itu, kita tidak bisa mempertahankan seluruh cara lama.

Dunia sudah berubah. Sekolah harus berubah. Guru harus berubah. Cara belajar harus berubah. Kepemimpinan pendidikan juga harus berubah.

Yang tidak boleh berubah adalah nilai dasar kita: keimanan, akhlak, integritas, kemanusiaan, dan komitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saatnya Melompat

Saya percaya pendidikan Muhammadiyah Aceh memiliki modal yang cukup untuk mengambil peran lebih besar.

Kita memiliki sekolah. Kita memiliki guru. Kita memiliki jaringan persyarikatan. Kita memiliki perguruan tinggi. Kita memiliki kader. Kita memiliki pengalaman panjang.

Yang kita perlukan sekarang adalah keberanian untuk mengonsolidasikan seluruh kekuatan tersebut menjadi gerakan pendidikan yang terukur.

Kita harus berani menetapkan target.

Berani mengukur mutu.

Berani mengevaluasi kelemahan.

Berani meninggalkan praktik yang tidak efektif.

Dan yang paling penting, berani mencoba sesuatu yang baru.

Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan laporan kegiatan. Pendidikan harus menghasilkan perubahan kehidupan.

Karena itu, saya ingin menegaskan kembali pesan yang saya bawa dari kunjungan kerja di Aceh Tamiang dan Langsa:

Pendidikan Aceh tidak boleh sekadar berjalan. Pendidikan Aceh harus melompat.

Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton dari lompatan tersebut. Muhammadiyah harus menjadi salah satu penggeraknya.

Kita harus membangun sekolah yang bermutu, guru yang terus belajar, peserta didik yang memiliki kompetensi dan karakter, serta sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Sebab pada akhirnya, masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak gedung yang kita bangun atau berapa banyak program yang kita laksanakan.

Masa depan Aceh ditentukan oleh kualitas manusia yang kita lahirkan.

Dan manusia itu sedang kita bentuk hari ini—di ruang-ruang kelas, di tangan para guru, dan melalui keberanian kita mengambil keputusan pendidikan.

Inilah saatnya Muhammadiyah Aceh bergerak lebih cepat, bekerja lebih terukur, dan berpikir lebih visioner.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close