Sejarah dan Dinamika Pemikiran Islam

Banda Aceh, desernews.com
Dalam kajian antropologi keagamaan, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: kapan manusia mulai beragama? Para ahli berpendapat bahwa agama sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri,” kata Ustazd DR. H. Aslam Nur MA pada pengajian rutin Ahad Subuh, 17 Mei 2026 di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh.
Lebih lanjut Ustazd menyampaikan, sejak manusia pertama hidup di bumi, sejak itu pula manusia memiliki kesadaran tentang adanya kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya.
Manusia memiliki keterbatasan. Ketika menghadapi ketakutan, bencana alam, kematian, penyakit, dan berbagai misteri kehidupan, manusia mulai mencari tempat bergantung dan perlindungan. Dari sinilah lahir kesadaran beragama.
Secara umum, inti agama memiliki tiga unsur utama:
-Unsur kepercayaan, yaitu keyakinan terhadap kekuatan yang lebih tinggi atau yang bersifat supranatural.
-Unsur spiritual dan ritual, yaitu adanya bentuk ibadah atau aktivitas tertentu sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan atau kekuatan gaib.
-Unsur aturan hidup, yaitu adanya norma dan ketentuan yang mengikat manusia agar hidup tertib dan patuh terhadap nilai yang diyakini.
Karena itu, para ahli antropologi agama menyimpulkan bahwa sejarah agama berjalan seiring dengan sejarah manusia di bumi.
Pada masa-masa awal peradaban, agama sering kali menyatu dengan budaya. Apa yang dianggap sakral menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Agama dipahami sebagai cara manusia mencari ketenangan, perlindungan, dan keselamatan hidup.
Berbagai penemuan arkeologis menunjukkan bahwa praktik keagamaan telah ada sejak ribuan tahun lalu. Di wilayah Turki misalnya, ditemukan batu-batu pemujaan kuno yang diperkirakan berasal dari puluhan ribu tahun sebelum Masehi. Ini menunjukkan bahwa manusia sejak dahulu telah memiliki naluri untuk berhubungan dengan sesuatu yang dianggap suci dan memiliki kekuatan besar.
Lalu bagaimana manusia zaman dahulu berkomunikasi dengan kekuatan supranatural?
Dalam teori evolusi agama, pada fase animisme dan politeisme, manusia melakukan pendekatan kepada kekuatan gaib melalui persembahan-persembahan tertentu. Mereka memberikan sesajen berupa hasil panen, hewan ternak, bahkan dalam beberapa peradaban kuno ada yang sampai mengorbankan manusia. Dalam budaya Jawa dikenal istilah sesajen, yaitu persembahan yang diyakini dapat mendatangkan keselamatan atau menolak bala.
Pada masa itu, inti praktik agama budaya adalah memberikan persembahan kepada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Selain itu, ada pula aturan-aturan tabu, yaitu larangan tertentu yang harus dipatuhi agar terhindar dari malapetaka menurut keyakinan mereka.
Namun Islam datang membawa perubahan besar dalam cara manusia memahami hubungan dengan Tuhan.
Dalam Islam, Allah SWT tidak membutuhkan persembahan materi dari manusia. Allah tidak membutuhkan makanan, darah, ataupun daging. Ketika Allah mensyariatkan qurban, Allah menegaskan bahwa hakikat ibadah bukanlah materi yang dipersembahkan, melainkan ketakwaan yang ada di dalam hati manusia.
Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat penting bahwa Islam bukan agama yang menuntut manusia “memberi makan Tuhan”, tetapi agama yang mendidik manusia agar bertakwa.
Karena itu, hewan qurban yang disembelih justru diperintahkan untuk dimakan dan dibagikan kepada sesama manusia. Daging qurban menjadi sarana memperkuat persaudaraan sosial, membantu fakir miskin, serta menjadi bagian dari ketahanan pangan masyarakat (food security). Orang yang berqurban pun dianjurkan ikut memakan hewan qurbannya.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara ajaran tauhid dengan praktik keagamaan budaya masa lalu.
Islam memurnikan hubungan manusia dengan Allah. Semua ibadah dalam Islam bertujuan mendidik manusia agar menjadi pribadi yang bertakwa, ikhlas, disiplin, dan peduli terhadap sesama.
Shalat misalnya, bukan untuk kepentingan Allah, tetapi untuk mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Puasa bukan agar Allah mendapatkan sesuatu dari rasa lapar kita, tetapi agar manusia belajar mengendalikan hawa nafsu. Zakat bukan memperkaya Allah, tetapi membersihkan jiwa manusia dari sifat kikir serta membantu kaum dhuafa.
Dengan demikian, seluruh ajaran Islam sesungguhnya kembali untuk kebaikan manusia sendiri.
Pemikiran Islam yang benar akan melahirkan cara beragama yang sehat: tidak terjebak pada simbol semata, tidak hanya sibuk pada ritual lahiriah, tetapi memahami hikmah dan tujuan di balik setiap ibadah.
Karena itu umat Islam harus terus belajar agar memahami agama secara utuh. Jangan sampai Islam dipahami hanya sebatas tradisi turun-temurun tanpa ilmu. Sebab Islam adalah agama wahyu yang membimbing manusia dengan ilmu, akal, dan petunjuk Ilahi.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang memahami agama dengan benar, memiliki ketakwaan yang tulus, dan mampu mengambil hikmah dari setiap ajaran Islam. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (T.Jamaluddin)




