Merawat Pendidikan PAUD dan Dikdasmen Pasca Banjir: Catatan tentang Ketangguhan yang Dibangun Perlahan
Oleh: Laksamana Muflih Iskandar Hasibuan

Banda Aceh, desernews.com
Setiap kali banjir datang, sekolah selalu menjadi salah satu tempat yang paling cepat dan paling berat terdampak.
Air menggenangi ruang kelas, buku-buku dan alat belajar rusak, kursi tidak lagi dapat digunakan, bahkan beberapa bangunan sekolah mengalami kerusakan serius hingga roboh.
Selain itu, rasa aman anak-anak juga terguncang, ritme belajar terputus, serta ketenangan guru dan orang tua ikut tergerus. Anak-anak yang biasanya bangun pagi dan berangkat ke sekolah, kini bangun di tenda pengungsian.
Pada awal-awal banjir mereka bahkan bangun pagi dengan rambut dan pakaian yang berlumpur, kegiatan belajar mereka terhenti selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Sebuah perubahan mendadak yang kerap memicu kebingungan dan keterkejutan psikologis, terutama bagi anak usia dini.
Anak-anak khususnya usia dini ini sangat peka terhadap perubahan dan pengalaman yang bersifat mendadak. Dalam kondisi pasca banjir, anak-anak harus belajar di tempat belajar darurat dan suasana yang juga darurat.
Mereka berangkat ke sekolah dengan pemandangan kerusakan yang berat sebelum tiba di sekolah. Beberapa biasanya diantar oleh Bapak atau Ibunya, hari ini diantar oleh Om atau Tante mereka.
Jam masuk kelas berubah, beberapa guru dan teman tidak lengkap, mainan yang hilang hingga aroma kelas yang berubah adalah hal baru bagi anak-anak.
Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, persoalannya sedikit berbeda.
Disamping kondisi diatas mereka sudah harus mengikuti ujian awal semester. Setidaknya mereka harus mengikuti ujian 10 hingga 15 mata pelajaran. Untuk mereka yang kelas akhir ditambah dengan persiapan untuk naik ke jenjang berikutnya.
Anak-anak kelas 9 akan bersiap untuk kelas 10 dan kelas 12 bersiap untuk masuk perkuliahan.
Melihat anak-anak sedang berada pada fase perkembangan yang rentan dan masa transisi menuju jenjang yang lebih tinggi, jika kondisi ini tidak diperhatikan dengan baik anak-anak akan kehilangan waktu belajar karena beberapa sekolah masih mendapatkan pelajaran seadanya, beberapa pulang lebih awal, daring dan sekolah darurat.
Selain itu, mereka juga kehilangan keteraturan yang menopang keseharian dan proses tumbuh kembang mereka. Belum lagi usia mereka termasuk periode pubertas dan pencarian jati diri.
Singkatnya, dengan rutinitas yang serba baru ini, pemulihan sebagai proses membangun ulang ritme belajar yang masuk akal dan manusiawi sangat diperlukan. Daripada menempatkan anak-anak pada situasi yang memaksa yakni segera mengejar ketertinggalan, sekolah diharapkan untuk bersikap arif, menentukan materi yang benar-benar esensial untuk dipelajari, sekaligus menyederhanakan atau menunda tuntutan pembelajaran yang tidak mendesak. Sementara pada pendidikan dasar dan menengah, asesmen sederhana untuk memahami kondisi belajar siswa sering kali jauh lebih bermanfaat daripada ujian formal.
Pembelajaran dapat dimulai dari hal-hal kecil: menyanyi bersama, bercerita, menggambar, atau bermain peran yang membantu anak mengekspresikan perasaannya.
Lingkungan sekolah diharapkan menghadirkan ketenangan. Cara guru menyapa murid, memberi waktu, dan menyesuaikan pembelajaran sangat krusial.
Pemulihan psikis ini sama pentingnya dengan pemulihan fisik sekolah, karena kondisi emosional yang stabil menjadi dasar bagi proses belajar yang sehat. Pemulihan ini penting, pertama, untuk mengembalikan rasa aman dan kepercayaan anak terhadap lingkungan sekolah, dan kedua, untuk membantu anak mengelola rasa takut, cemas, serta kebingungan yang muncul akibat pengalaman bencana.
Apabila pemulihan psikis ini terabaikan, dampak krusial yang dapat muncul adalah terganggunya motivasi dan konsentrasi belajar anak, yang dalam jangka panjang berisiko menimbulkan penolakan terhadap sekolah serta hambatan perkembangan emosional.
Selain hal di atas, pembersihan menyeluruh pasca kebanjiran juga kita perhatikan. Kita membersihkan lumpur dan sampah yang mengendap di ruang kelas, toilet, perpustakaan, serta area sekolah lainnya, yang kemudian diikuti dengan sanitasi dan disinfeksi untuk mencegah munculnya penyakit kulit, diare, dan demam berdarah.
Perlahan fasilitas sekolah juga kita perhatikan dengan baik, instalasi listrik dan air, kondisi meja dan kursi, buku-buku pelajaran, hingga peralatan laboratorium. Ventilasi dan pengeringan ruang berjalan optimal juga sangat kita juga kita utamakan agar kelembapan dapat dikurangi dan mencegah pertumbuhan jamur dan menjaga kualitas udara di lingkungan sekolah.
Jika ditarik lebih jauh, banjir seharusnya mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana sekolah dipersiapkan menghadapi situasi krisis. Ketangguhan pendidikan tidak lahir dari respons sesaat, melainkan dari kebiasaan merencanakan, berkolaborasi, dan belajar dari pengalaman. Pendidikan kebencanaan, rencana pembelajaran darurat, serta keterlibatan orang tua dan komunitas bukanlah tambahan, melainkan bagian dari kerja pendidikan itu sendiri.
Pada akhirnya, pendidikan kita diharapkan menjadi pendidikan yang tetap hadir ketika keadaan tidak ideal. Di sekolah-sekolah PAUD dan Dikdasmen, ketangguhan itu sering tampak dalam bentuk yang sederhana. Anak yang kembali dijalani hari demi hari (T. Jamaluddin)




