Pungutan Liar Cemari Kenyamanan Wisata di Pantai Pohon Seribu Sasak Ranah Pesisir

Pasaman Barat, desernews.com
Keberadaan objek wisata Pantai Pohon Seribu Sasak Ranah Pesisir yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi favorit di Sasak Ranah Pesisir,Kecamatan Sasak,Kabupaten Pasaman Barat,Sumatera Barat kini mendapat sorotan.
Pasalnya, sejumlah pengunjung mengaku resah dengan maraknya dugaan pungutan liar yang dilakukan oleh oknum pemuda setempat dengan dalih uang kebersihan.
Praktik tersebut disebut-sebut sudah cukup lama terjadi dan kerap menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan yang datang menikmati keindahan pantai yang populer dengan sebutan Pantai Pohon Seribu itu.
Tidak hanya memungut uang kebersihan, para pemuda tersebut juga diduga sering menghentikan kendaraan roda empat para pengunjung di jalan sebelum mencapai kawasan pantai.
Mereka menawarkan tiket masuk dengan harga lebih murah, yakni sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 per kendaraan.
Para pengunjung biasanya diberi penjelasan bahwa harga tiket di pintu gerbang pantai jauh lebih mahal.
Padahal, menurut sejumlah sumber, praktik penjualan tiket oleh para pemuda tersebut dilakukan setelah sekitar empat hingga lima hari usai Hari Raya Idul Fitri, ketika pintu gerbang pantai tidak lagi menjual tiket karena hiburan pantai telah berakhir.
Yang menjadi pertanyaan, para pemuda tersebut tetap memiliki tiket masuk pantai untuk dijual kepada pengunjung. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
“Apakah ada kerja sama antara para pemuda tersebut dengan oknum dari dinas pendapatan di Kabupaten Pasaman Barat?” demikian pertanyaan yang mulai muncul di kalangan masyarakat dan pengunjung.
Bagi wisatawan yang belum mengetahui situasi sebenarnya, tawaran tiket murah tersebut tentu terlihat menguntungkan. Padahal, ketika mereka sampai di kawasan pantai, sebenarnya tidak ada lagi penjualan tiket resmi karena kegiatan hiburan telah selesai.
Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya praktik tersebut. Namun, ia mengaku masyarakat sulit untuk menegur para pemuda yang terlibat.
“Memang iya pak, anak-anak muda di sini memang begitulah tingkah mereka. Pengunjung jadi resah. Kami juga susah mau bicara. Kalau kami menegur, sampan (perahu) kami yang di tepi pantai bisa diganggu, bahkan dibocorkan atau dipindahkan entah ke mana.
Jadi kami lebih memilih diam saja,” ujarnya.
Di sisi lain, pantauan wartawan menunjukkan bahwa para pedagang yang membuka pondok di sepanjang pantai justru bersikap sangat ramah kepada pengunjung. Mereka tidak memungut biaya sewa pondok kepada wisatawan yang ingin beristirahat.
Para pengunjung hanya diminta membeli makanan atau minuman sekadarnya, bahkan hanya segelas teh manis sudah cukup bagi pemilik pondok untuk mempersilakan wisatawan menikmati tempat duduk bersama keluarga.
Sikap ramah tersebut tentu menjadi nilai positif yang membedakan kawasan ini dengan sejumlah objek wisata pantai di daerah lain, khususnya di Sumatera Utara, di mana wisatawan kerap dikenakan biaya sewa pondok maupun tikar dengan harga yang cukup tinggi.
Karena itu, untuk menjaga kenyamanan wisatawan dan citra objek wisata kebanggaan daerah ini, masyarakat berharap pihak terkait, terutama Dinas Pariwisata Kabupaten Pasaman Barat, dapat turun tangan dan mengambil langkah tegas terhadap praktik pungutan liar tersebut.
Jika tidak segera ditertibkan, dikhawatirkan perilaku segelintir oknum ini justru akan merusak citra Kabupaten Pasaman Barat sebagai daerah tujuan wisata, khususnya bagi para pecinta wisata pantai yang datang dari berbagai daerah.(hegh/DN)




