Keutamaan Sifat Tawadhu
Oleh: Ustazd Abrar Zim, S.Ag, MH pada pengajian rutin Sabtu Subuh, 1 Agustus 2026 di Mesjid Tgk H. Jakfar Hanafiah, Kampus UNMUHA Banda Aceh

Banda Aceh, desernews.com
Tawadhu adalah akhlak mulia berupa sikap rendah hati yang lahir dari kesadaran bahwa seluruh nikmat, kelebihan, ilmu, harta, jabatan, dan kedudukan hanyalah karunia Allah SWT. Karena itu, seorang yang tawadhu tidak pernah merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ia menghormati sesama, terbuka menerima nasihat, serta senantiasa berusaha memperbaiki diri. Tawadhu bukan berarti merendahkan diri, melainkan menempatkan diri secara proporsional dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan.
Lawan dari sifat tawadhu adalah takabbur atau kesombongan, yaitu merasa diri lebih mulia sehingga meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.
Adapun ciri-ciri orang yang tawadhu di antaranya adalah menerima kebenaran dari siapa pun, tanpa memandang usia, status sosial, ataupun kedudukan. Baginya, kebenaran lebih berharga daripada gengsi. Selain itu, ia tidak merasa lebih baik dari orang lain karena menyadari bahwa semua kelebihan berasal dari Allah SWT. Orang yang tawadhu juga tidak suka memuji atau membanggakan dirinya, tidak menyombongkan ilmu, harta, pangkat, maupun jabatannya.
Allah SWT menjelaskan sifat hamba-hamba-Nya yang mulia dalam firman-Nya:
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menunjukkan bahwa kerendahan hati merupakan salah satu ciri utama hamba Allah yang dicintai-Nya.
Keutamaan tawadhu sangat besar. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa orang yang merendahkan hati karena Allah justru akan dimuliakan dan ditinggikan derajatnya oleh-Nya.
Dalam kehidupan Rasulullah SAW, beliau menjadi teladan terbaik dalam bersikap tawadhu. Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah ketika beliau tetap berbuat baik kepada seorang Yahudi tua yang buta. Meskipun orang tersebut sering menghina dan mencaci beliau tanpa mengetahui bahwa yang menyuapinya adalah Rasulullah SAW sendiri, Nabi tetap datang setiap hari dengan penuh kasih sayang, melembutkan makanan lalu menyuapkannya. Kisah ini menggambarkan betapa tawadhu melahirkan kelembutan hati, kesabaran, dan sikap pemaaf.
Orang yang memiliki sifat tawadhu akan merasakan ketenangan batin, dijauhkan dari sifat sombong yang mendatangkan murka Allah, serta memperoleh kemuliaan di sisi-Nya. Sikap tawadhu juga menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat karena melahirkan rasa saling menghormati, kasih sayang, dan persaudaraan.
Kesimpulannya, tawadhu adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Semakin tinggi ilmu, jabatan, maupun kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kerendahan hati. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tawadhu, yang senantiasa menerima kebenaran, menjauhi kesombongan, dan memperoleh kemuliaan di dunia maupun di akhirat.(T. Jamaluddin)




