Nusantara

‎Rano Karno Pulang ke Bonjol, Air Mata Kerinduan Tumpah di Tanah Leluhur

Ribuan warga Bonjol Pasaman sambut Rano Karno Wakil Gubernur DKI Jakarta pulang ke kampung


‎Pasaman, desernews.com
‎‎Tradisi “pulang marantau” kembali menghadirkan kisah yang menyentuh hati di Ranah Minang. Setelah puluhan tahun dipisahkan jarak dan waktu, Rano Karno yang merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta akhirnya kembali menjejakkan kaki di tanah kelahiran orang tuanya, Bonjol, Kabupaten Pasaman, Selasa (14/4/2026).

‎Kepulangan sosok yang akrab disapa “Si Doel” ini disambut bukan sekadar meriah, tetapi juga penuh haru oleh ribuan masyarakat yang telah lama memendam rindu.

‎Sejak pagi, suasana di kawasan Tugu Equator Bonjol yang berdekatan dengan Museum Tuanku Imam Bonjol telah dipadati warga. Mereka datang dari berbagai nagari dan jorong, berdiri dengan penuh harap, menanti kedatangan “anak rantau” yang telah mengharumkan nama kampung halaman di pentas nasional.

‎Ketika rombongan tiba sekitar pukul 09.30 WIB, tangis haru seakan pecah di tengah keramaian. Wajah-wajah penuh kebanggaan bercampur rasa rindu yang selama ini terpendam.

‎Meski ini bukan kunjungan pertama, melainkan yang ketiga kalinya, kehangatan sambutan tidak sedikit pun berkurang, justru terasa semakin dalam dan emosional.

‎“Sejak pukul 08.00 WIB kami sudah menunggu. Rasanya seperti menyambut keluarga sendiri yang lama pergi,” ujar Yusuf (40), salah seorang warga, dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

‎Rano Karno hadir bersama sang istri, Dewi Karno, serta keluarga besar. Rombongan sebelumnya bertolak dari Bukittinggi usai menghadiri agenda kerja sama di Pariaman.

‎Namun, kepulangan ke Bonjol kali ini terasa berbeda, lebih personal, lebih dalam, dan sarat makna.

‎Prosesi penyambutan berlangsung khidmat melalui Tari Pasambahan, dipimpin oleh Bupati Pasaman, Welly Suhery, bersama jajaran Forkopimda. Dalam sambutannya, ia tak mampu menyembunyikan rasa bangga dan haru.

‎“Selamat datang di Bonjol, kota pahlawan nan legendaris. Ini bukan sekadar kunjungan, ini adalah pulang, pulang ke akar, pulang ke sejarah,” ucapnya dengan suara bergetar.

‎Dihadapan masyarakat yang memadati lokasi, Rano Karno pun tak kuasa menahan emosi. Suaranya lirih saat mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan yang begitu tulus.

‎“Saya sangat terharu. Ini bukan hanya perjalanan pulang, tetapi perjalanan batin. Saya kembali bukan hanya sebagai Rano Karno, tetapi sebagai anak yang menunaikan amanah orang tuanya,” ujarnya.

‎Ia mengungkapkan bahwa kepulangannya ke Bonjol merupakan pesan mendalam dari almarhum ibundanya,sebuah amanah untuk menjaga silsilah keluarga agar tidak terputus oleh waktu dan jarak.

‎Kalimat itu seolah menggambarkan betapa kuatnya ikatan antara rantau dan kampung halaman dalam budaya Minangkabau.

‎Selama berada di Bonjol, Rano Karno dijadwalkan menjalani serangkaian agenda yang sarat makna, mulai dari peletakan batu pertama rumah keluarga, ziarah ke makam leluhur, hingga mengunjungi Museum Tuanku Imam Bonjol.

‎Ia juga akan mengikuti tradisi makan bajamba di rumah pusaka keluarga di Kampuang Jambak,sebuah simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap akar budaya.

‎Di tengah suasana haru, terselip harapan akan masa depan. Rano Karno membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah, khususnya dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan.

‎Ia menilai Pasaman memiliki potensi besar untuk menjadi penopang kebutuhan pangan ibu kota.
‎Namun lebih dari itu, kehadiran Rano Karno di Bonjol adalah tentang kerinduan yang terbayar, tentang sejarah yang kembali dirajut, dan tentang hubungan batin yang tak pernah benar-benar terputus.

‎Di tanah leluhur ini, di antara pelukan masyarakat dan doa-doa yang mengiringi, seorang anak rantau akhirnya pulang, membawa cerita, kenangan, dan air mata yang tak mampu lagi dibendung.(H.Eddi Gultom)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close