Aceh Darussalam

Menyembelih Nafsu Kebinatangan untuk Meraih Derajat Taqwa

Ustazd Hermansyah Adnan,S.Ag. M.Sos

Banda Aceh, desernews.com
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali menghadiri majelis ilmu ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Kita sedang berada pada hari-hari istimewa dalam suasana Idul Adha, hari-hari ketika umat Islam diperintahkan untuk berqurban. Namun sesungguhnya, qurban bukan hanya tentang menyembelih kambing, sapi, atau unta. Yang lebih penting adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang masih bercokol dalam diri kita,” ucap Ustazd Hermansyah Adnan,S.Ag. M.Sos di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda  Aceh pada pengajian rutin Ahad Subuh, 31 Mei 2026.

Ustazd Herman melanjutkan, Allah SWT berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama qurban bukanlah darah atau dagingnya, melainkan lahirnya ketakwaan dalam diri seorang hamba.

Apa Itu Nafsu Kebinatangan?
Setiap manusia memiliki potensi kemuliaan sekaligus potensi kehinaan. Allah memberikan akal dan wahyu agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya. Ketika manusia mengikuti hawa nafsu tanpa kendali, ia bisa jatuh lebih rendah daripada binatang.

Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sungguh, Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Mengapa lebih sesat dari binatang?
Karena binatang tidak diberi akal dan petunjuk syariat. Sedangkan manusia diberi akal, hati, dan wahyu, tetapi memilih mengikuti hawa nafsunya.

Bentuk-Bentuk Sifat Kebinatangan yang Harus Disembelih:

1. Suka Melukai dan Menyakiti Orang Lain

Ada manusia yang merasa senang ketika orang lain susah, suka memfitnah, mengadu domba, menghina, dan merendahkan sesama.

Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang tidak melukai dengan senjata, tetapi melukai dengan ucapan, tulisan, komentar, dan fitnah yang lebih tajam daripada pisau.

Qurban mengajarkan kita untuk membunuh sifat agresif, dendam, kebencian, dan kezaliman terhadap sesama manusia.

2. Nafsu Makan Tanpa Memedulikan Halal dan Haram.

Salah satu sifat hewan adalah hanya mengikuti insting perut. Apa yang terlihat enak langsung dimakan.

Seorang mukmin tidak demikian. Ia bertanya: halal atau haram? baik atau buruk? bermanfaat atau merusak?

Allah SWT berfirman: “Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Banyak kerusakan lahir dari makanan dan harta yang haram: korupsi, riba, suap, manipulasi, dan penipuan.

Qurban mengingatkan kita bahwa ketakwaan harus tampak dalam cara kita mencari nafkah, berbelanja, dan mengonsumsi makanan.

3. Syahwat yang Tidak Terkendali.

Syahwat adalah karunia Allah, tetapi harus dikendalikan sesuai syariat.

Di zaman sekarang, banyak manusia menjadi budak syahwat. Media sosial, tontonan, dan pergaulan sering menjadi pintu masuk kerusakan moral.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki setelahku selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam tidak memerintahkan membunuh syahwat, tetapi mengendalikannya melalui pernikahan, puasa, dan ketakwaan.

4. Mulut yang Tidak Terkendali.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW ditanya: “Wahai Rasulullah, apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga?” Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Kemudian beliau ditanya: “Apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka?” Beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi).

Betapa banyak persahabatan rusak karena mulut. Betapa banyak keluarga hancur karena mulut. Betapa banyak dosa menumpuk karena mulut yang tidak dijaga.

Karena itu, menjelang Idul Adha, jangan hanya menyembelih hewan. Sembelih juga lisan yang suka mencela, memfitnah, menggunjing, dan menyakiti orang lain.

Qurban Nabi Ibrahim: Menyembelih Ego dan Kepentingan Pribadi

Kisah Nabi Ibrahim AS bukan sekadar kisah penyembelihan Ismail AS. Hakikatnya adalah kemenangan ketaatan atas hawa nafsu.

Ibrahim rela mengorbankan yang paling dicintainya demi memenuhi perintah Allah. Inilah makna sejati qurban.

Hari ini mungkin Allah tidak meminta kita menyembelih anak. Tetapi Allah meminta kita menyembelih: Kesombongan, Keserakahan, Kedengkian, Kemarahan, Nafsu dunia yang berlebihan, Kecintaan terhadap harta yang melalaikan.

Ketika pisau qurban menggores leher hewan pada hari raya nanti, hendaknya pada saat yang sama kita juga menggores dan mematikan sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita.

J-angan sampai kambing yang mati, tetapi kesombongan tetap hidup.

-Jangan sampai sapi yang disembelih, tetapi keserakahan tetap tumbuh.

-Jangan sampai darah qurban mengalir, tetapi hawa nafsu tetap berkuasa.

Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk menyembelih hawa nafsu dan menumbuhkan ketakwaan.

Karena sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging qurban kita, melainkan ketakwaan yang tumbuh dalam hati kita.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close