YANG TERSISA CERITA DARI PERJALANAN IBADAH HAJI 2023
Pasar Kakiyah Makkah, "Surga" Belanja Jamaah Haji Indonesia

Pasar Kakiya,
Makkah, desernews.com
“Surga”, sangat menjadi dambaan hamba Allah SWT untuk bisa meraihnya dan tak luput dalam setiap do’a ketika menunaikan ibadah, permohonan selalu dipanjatkan.
Itulah harapan hamba yang beriman dan bertakwa padaNya, agar senantiasa kita dipertemukan dengan orang-orang tercinta ditempat yang telah dijanjikan, dengan berbuat kebaikan, menjauhi segala larangan semasa hayatnya.
Surga Belanja
Kali ini kita cerita bukan soal *”Surga”* akhirat, tapi *”Surga Tempat Belanja”* atau berburu oleh-oleh para jemaah haji dan umroh, khususnya jemaah asal Indonesia.
Siang itu, penulis bersama rekan haji asal Kota Medan H. Ngadi, SE, bermaksud belanja dan meninjau kawasan Pasar Kakiyah, yang namanya cukup populer dan familiar dikalangan jemaah Indonesia.
Jaraknya hanya 8 kilometer dari Masjidil Haram Makkah, dibutuhkan waktu 10 menit menumpang taksi dengan ongkos 20 riyal.

Tiba di Pasar Kakiyah, sudah ramai dengan orang berbelanja. Dari sudut kesudut penulis dan rekan H. Ngadi jelajahi, umumnya yang berbelanja adalah jemaah asal Indonesia.
Tak banyak jemaah berasal dari negara lain, seperti India, Uzbeskistan, Tazikistan, Iran, Malaysia, Irak, Thailand, Brunei Darussalam, Bahrain, Cina, Afghanistan dan beberapa negara eropa lainnya.
Namun, penulis bersama rekan H. Ngadi dilain waktu, 2 hari setelah kunjungan pertama, kembali lagi untuk berbelanja dengan masing-masing membawa isteri, Pasar Kakiyah ditutup.
Hampir seminggu Pasar Kakiyah tutup pada Musim Haji 2023, disebabkan ada Jemaah Haji Indonesia yang meninggal dunia, karena kelelahan akibat terlampau semangat berbelanja, sehingga lupa waktu dan kesehatan diri.
Buah Tangan
Membawa buah tangan atau oleh-oleh sebagai kenang-kenangan sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia yang pulang dari bepergian di luar kota atau luar negeri.
Tak terkecuali juga bagi jamaah haji yang akan pulang dari Tanah Suci Makkah, setelah usai menjalankan ibadahnya.
Barang-barang dan makanan khas Arab Saudi menjadi incaran para jamaah haji Indonesia.
Tempat perbelanjaan yang menawarkan barang yang dicari pun “diserbu” jamaah, seperti Pasar Suq Kakiyah Liljumlah, banyak didatangi jamaah Indonesia dan negara lainnya karena harga lebih murah untuk belanja grosiran atau lusinan.
Hampir semua bentuk oleh-oleh dari Arab ada di pasar ini. Mulai dari abaya, tasbih berbagai ukuran dan bahan, kerudung, parfum, sorban, hingga sajadah, perhiasan perak dan karpet.
Ada juga gelas, teko, boneka onta, cincin batu dan lainnya yang rata-rata barang didatangkan dari Turki, China, India, atau Pakistan.
Pasar Kakiyah, memiliki empat lantai yag berisi ratusan toko. Di pasar ini juga dijual beragam jenis kurma dan kudapan khas Arab.
Meski sebagian besar pedagang yang menjajakan jualan adalah warga lokal, namun sebagian besar pedagang bisa dan faham bahasa Indonesia. Sehingga transaksi bisa dilakukan tanpa bantuan penerjemah.
“Mari ibu, cari apa. Lihat dulu harga murah,” kata penjual warga Arab menjajakan dagangannya kepada pengunjung Indonesia yang melintas di depan tokonya.
Tidak sedikit pula pedagang yang menyebutkan sejumlah tokoh Indonesia untuk menarik pengunjung Indonesia berkenan mampir ke tokonya.
“Jokowi…Jokowi…Anies…Anies…Syahrini, apa kabar?Murah…Murah… Sini beli,” ucap pedagang.
Pedagang lokal disana menawarkan dagangannya dengan menyebutkan harga pakai istilah populer “100 jokowi atau 50 jokowi”, bukan nilai uang riyal.
Pasar Kakiyah sendiri ‘lebih hidup’ sejak sore hingga malam hari. Harga yang dijual dinilai murah, misalnya sorban, harganya antara 10 real (Rp 40 ribu) satu buahnya, itu juga sudah ditawar lagi. Selain itu, berbagai kerudung bermerek asal Turki dihargai antara 10-25 real, padahal di Indonesia harga termurahnya Rp 80 ribu.
“Barangnya bagus-bagus, harganya juga lumayan. Yang penting bisa nawar,” kata Vitri, Jamaah asal Solo yang sudah memborong kerudung Turki kepada wartawan.
Hal senada juga dikatakan Endang, jamaah asal Jakarta ini, sudah banyak memborong barang untuk dijadikan oleh-oleh.
“Sudah 3 kali ke pasar Kakiyah ini. Beli jam tangan, jilbab, sajadah, baju abaya, kopiah dan lainnya. Harga lebih murah, apalagi kalau beli lusinan. Saya juga beli Hena pewarna kuku, tasbih mutiara, gantungan kunci, sorban, dompet, lipstik dan celak mata,” ungkapnya.
Barang-barang yang sudah dibelinya itu tidak perlu repot-repot dibawa sendiri ke Indonesia karena pasti akan melebih bagasi.
Endang pun memilih memaketkan barang belanjaannya ke Jakarta dengan menggunakan cargo.
“Sudah saya kirim pakai cargo, ongkos kirim nya sampai 3 juta rupiah untuk berat sekitar 30 kg lebih. Itu semua untuk dikasih ke anak, mantu dan saudara. Nantinya kalau tas kabin masih cukup saya isi lagi dengan barang oleh-oleh yang mau dibeli seperti kurma, kacang, coklat dan lainnya,” kata Endang.
Demikian juga dengan Jemaah Haji asal Kota Medan dan Tebingtinggi seperti H. Ngadi, H. Wakijan. Mereka berbelanja penuh semangat, karena harganya terjangkau.
“Terjangkau harganya mas, murah. Misal Parfum Kiswah dan Raudah, 1 kotak isi 10 btl harganya cuma 20-25 riyal atau Rp. 80 ribu-Rp. 100 ribu. Kalau di Medan atau Tebingtinggi, harganya mencapai Rp. 250 ribu-Rp.300 ribu. Makanya saya ambil 3 kotak untuk dibagi keluarga,” ucap H. Ngadi sumringah.
“Tak muat koper bagasi saya, banyak beli oleh-oleh, terpaksa dipaketkan lewat jasa cargo dengan biaya 20 riyal perkilo,” kata H. Ngadi.(H. Suhartoyo)



