Internasional

Topan Khanun Ancam Jambore Pramuka Dunia ke-25 di Buan, Korea Selatan

Jambore ditutup sebelum waktunya

Peserta jambore pramuka sedunia di Korsel berkemas untuk meninggalkan areal perkemahan akibat ancaman badai.

Seoul (Korsel), dessernews.com
Eksodus massal peserta Jambore Dunia di Korea Selatan (Korsel) terpaksa dilakukan pada Selasa (8/8), akibat gelombang panas yang telah membuat ratusan peserta jatuh sakit, sehingga mendorong Amerika Serikat (AS) dan Inggris menarik kontingennya lebih awal.

“Ini adalah pertama kalinya dalam lebih dari 100 tahun penyelenggaraan Jambore Pramuka Sedunia, kami harus menghadapi tantangan yang begitu besar,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Organisasi Gerakan Pramuka Sedunia Ahmad Alhendawi, seperti dilaporkan Deutch Welle, Rabu (9/8).

Alhendawi mengatakan, agenda yang mengumpulkan sekira 43.000 anggota pramuka di perkemahan Provinsi Jeolla Utara, Korea Selatan, begitu sangat tidak beruntung dengan adanya gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sekarang topan.

“Kondisi cuaca ekstrem seperti itu, secara signifikan berdampak pada perencanaan dan pelaksanaan Jambore Pramuka Dunia ke-25,” ungkap Alhendawi, seraya menambahkan bahwa terlepas dari tantangan-tantangan yang ada, para anggota pramuka telah menunjukkan “ketangguhan, tekad, dan kepemimpinan yang sejati dalam menghadapi kesulitan.”

Organisasi pramuka sedunia itu juga mengatakan, bahwa perayaan tahun ini adalah pertama kalinya satu agenda perkemahan dievakuasi akibat cuaca buruk, setelah insiden ketika angin topan melanda agenda Jambore Dunia di Jepang pada tahun 1971 silam.

Pada Selasa (8/8), terlihat puluhan ribu anggota pramuka mengemasi tenda dan barang-barang mereka di area perkemahan yang luas di Buan, lalu mengantre untuk naik ke bus menuju akomodasi alternatif di Seoul dan sekitarnya.

Pasukan Khusus Korea berada di lokasi perkemahan untuk membantu evakuasi, menurut pantauan wartawan AFP di lokasi, Pemerintah Korsel juga telah mengirimkan 1.000 bus untuk memindahkan para anggota pramuka yang sebagian besar adalah remaja, dari lokasi tersebut.

Media Korea menyebut, jambore tahun ini sebagai “aib nasional”, setelah gelombang panas yang ekstrem menyebabkan ratusan remaja jatuh sakit.

Meski demikian, para anggota pramuka di perkemahan Buan itu justru mengatakan kepada tim AFP bahwa mereka merasa sedih untuk pergi.

Topan Khanun, yang menewaskan sedikitnya dua orang di Jepang, diprediksi akan melanda Korea Selatan pada Kamis (10/8) waktu setempat, di area dekat perkemahan Jambore Dunia tersebut.

Badan cuaca Korea Selatan mengatakan, Topan Khanun diperkirakan akan membawa hujan lebat dan angin kencang melintasi Semenanjung Korea, termasuk angin dengan kecepatan maksimum hingga 160 kilometer per jam.

*Dievakuasi*
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan, kontingen Indonesia yang mengikuti jambore pramuka di Korea Selatan sudah mulai dievakuasi dengan 40 bus. “Kemarin saya dapat informasi bahwa jumlah bus untuk kontingen Indonesia sekira 40-an, tapi sekali lagi bus yang diperlukan tentunya sejumlah yang dapat mengangkut seluruh anak-anak,” kata Retno di Jakarta, Selasa (8/8).

Pimpinan Kontingen Gerakan Pramuka, Mayor Jenderal Mar (Purn) Yuniar Ludfi mengatakan, jumlah WNI peserta jambore itu mencapai 1.569 orang. Para WNI itu dievakuasi karena cuaca panas ekstrem menerjang Korsel.

Retno menyebut proses evakuasi para WNI itu dilakukan secara bertahap.
Peserta dari Indonesia itu bakal dipindahkan dan ditampung di Wonkwang University Dormitory.

“Jadi laporan dari Dubes RI untuk Korea Selatan Pak Gandi Sulistiyanto tadi pagi, per pagi ini kontingen Indonesia akan ditampung di Wonkwang University Dormitory, yang berjarak sekira 55 kilometer dari Saemangeum,” tutur Retno.

“Dan proses pemindahan sudah mulai berjalan dan didampingi oleh tim KBRI yang sudah berada di Wonkwang University.”

Retno mengatakan, para peserta jambore saat ini dalam kondisi sehat. Dia berharap anak-anak tersebut senantiasa sehat hingga mereka pulang kembali ke Indonesia.

Jambore Pramuka Sedunia ke-25 di Korea Selatan menjadi sorotan setelah cuaca panas ekstrem menerjang negara itu. Ratusan peserta dilaporkan jatuh sakit.

Pemerintah Korsel pun mengerahkan dokter militer dan bus-bus berpendingin ruangan untuk menolong peserta yang terdampak suhu ekstrem.

Acara luar ruangan selama dua minggu ini sendiri, dimulai pada Selasa (1/8), ketika pihak berwenang mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk suhu ekstrem pertama kalinya dalam empat tahun.

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura sampai-sampai batal mengirim peserta jambore demi menghindari kondisi ekstrem.

Masalah ini diperparah dengan ancaman Topan Khanun yang diprediksi mendekati wilayah Saemangeum, lokasi bumi perkemahan, pada 9-10 Agustus mendatang.

Imbasnya, kegiatan jambore dihentikan lebih awal. Penutupan acara rencananya dilakukan pada 11 Agustus malam, dengan penampilan konser beberapa grup K-Pop di Stadion Sangam World Cup di Seoul.

Kontingen Indonesia sendiri bakal tetap pulang sesuai rencana awal, yaitu pada 12, 13, dan 14 Agustus 2023, mengikuti jadwal penerbangan masing-masing.(H. Suhartoyo/dtn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close