Produksi Gabah Merosot Akibat Gangguan Tanaman, Petani Kampung Pinang Pertanyakan Intensitas Pendampingan PPL

Pasaman (Dua Koto), desernews.com
Produksi gabah sejumlah petani di Kampung Pinang, Nagari Cubadak Tengah, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, dilaporkan mengalami penurunan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan gangguan pada tanaman padi yang oleh petani disebut berasal dari serangan tikus dan organisme pengganggu tanaman lainnya yang belum mereka kenali.
Temuan tersebut diketahui ketika wartawan Desernews.com melakukan peninjauan langsung ke kawasan persawahan Kampung Pinang, Minggu (13/9/2026).
Sejumlah petani mengaku kesulitan mengidentifikasi jenis gangguan yang menyerang tanaman padi mereka. Selain tikus, terdapat organisme berwarna hitam yang menurut petani kerap muncul dari bagian bawah rumpun padi ketika dilakukan penyemprotan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena petani yang berada di lapangan tidak hanya membutuhkan bantuan dalam bentuk sarana produksi, tetapi juga membutuhkan pendampingan teknis agar dapat mengenali sejak dini penyakit maupun hama yang berpotensi menurunkan produktivitas.
Saat ditanya mengenai keberadaan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari sektor pertanian yang melakukan pemantauan secara rutin, beberapa petani mengaku belum mengetahui atau belum pernah mendapatkan pendampingan secara langsung di lokasi sawah mereka.
Salah seorang petani berinisial S juga mengaku tidak mengetahui secara pasti nama maupun jenis organisme yang menyerang tanaman padinya.
”Kalau kita menyemprot dengan racun, hama yang berwarna hitam itu keluar ke atas dari bawah rumpun padi,” ungkapnya.
Para petani berharap PPL lebih intensif turun ke lapangan, terutama ketika memasuki masa rawan serangan hama dan penyakit. Menurut mereka, kehadiran penyuluh bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan bagian penting dari sistem perlindungan dan peningkatan produktivitas pertanian.
BPP Tak Dapat Ditemui Saat Konfirmasi Awal
Upaya wartawan melakukan konfirmasi kepada pihak Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Dua Koto pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 09.15 WIB di kantor BPP yang berada di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kecamatan Dua Koto, Andilan, belum membuahkan hasil.
Saat wartawan mendatangi kantor tersebut, belum ada pegawai yang dapat ditemui sehingga informasi mengenai persoalan yang dikeluhkan petani belum dapat dikonfirmasi pada saat itu.
Kondisi tersebut patut menjadi perhatian dalam konteks pelayanan publik, khususnya lembaga penyuluhan pertanian yang memiliki fungsi strategis dalam memberikan pendampingan kepada petani.
Kantor penyuluhan semestinya tidak hanya hadir secara kelembagaan, tetapi juga mampu memastikan akses pelayanan dan komunikasi dengan petani berjalan efektif. Terlebih, persoalan hama dan penyakit tanaman membutuhkan respons yang relatif cepat agar kerugian petani tidak semakin besar.
PPL: Yang Menyerang Tanaman Bukan Hama, Melainkan Penyakit Blas
Konfirmasi lanjutan kemudian dilakukan wartawan pada Rabu (16/9/2026). Wartawan bertemu dengan Koordinator PPL Kecamatan Dua Koto, Dian Deswita, didampingi Zulfa, PPL wilayah Cubadak Tengah.
Dian menjelaskan, berdasarkan informasi dan gejala yang disampaikan petani, gangguan pada tanaman padi yang menyebabkan bagian tertentu tanaman mengalami kerusakan bukanlah hama, melainkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit blas.
”Itu penyakit blas namanya. Penyakit blas ini tidak ada obatnya. Kalau sudah kena, ibaratnya seperti kanker dan biasanya diketahui ketika sudah stadium lanjut,” jelas Dian.
Menurutnya, penyakit blas disebabkan oleh jamur sehingga pada tahap awal serangannya tidak selalu mudah dikenali. Gejala baru terlihat ketika serangan telah berkembang. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti penyakit pada manusia yang baru diketahui setelah memasuki kondisi parah.
Dian menerangkan, salah satu bentuk serangan dapat terjadi pada bagian leher atau tangkai malai padi. Bagian tersebut mengalami kerusakan sehingga aliran nutrisi menuju bagian atas tanaman terganggu. “Di lehernya ini digerogoti pangkalnya, sehingga tidak mengalir lagi makanannya ke atas. Jadi bagaimana buahnya mau menunduk,” ujarnya.
Dengan demikian, menurut pihak PPL, petani perlu membedakan antara hama dan penyakit tanaman. Hama umumnya berupa organisme yang dapat terlihat secara langsung, sedangkan penyakit tertentu yang disebabkan jamur dapat berkembang tanpa mudah dikenali pada tahap awal.
Organisme Hitam Disebut Kepinding Tanah
Sementara mengenai organisme berwarna hitam yang disebut petani keluar dari bawah rumpun padi ketika dilakukan penyemprotan, Dian mengatakan organisme tersebut diduga merupakan kepinding tanah.
Menurut dia, kepinding tanah relatif lebih mudah dikendalikan dibandingkan penyakit yang disebabkan jamur.
Ia menyebutkan salah satu cara tradisional yang dapat dilakukan adalah menggunakan kain yang dicelupkan ke dalam oli bekas kemudian ditempatkan pada saluran air yang mengalir ke persawahan. Selain itu, pengendalian juga dapat dilakukan menggunakan pestisida sesuai kebutuhan dan aturan penggunaannya.
Penjelasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi petani Kampung Pinang sebenarnya membutuhkan identifikasi lapangan secara langsung. Petani tidak seharusnya dibiarkan menerka-nerka sendiri apakah tanaman mereka terserang hama, penyakit, atau organisme tertentu.
PPL Akui Keterbatasan Jangkauan Penyuluhan
Menanggapi pengakuan petani yang menyebut tidak mengetahui PPL yang bertugas di wilayahnya, Dian mengatakan kemungkinan petani tersebut tidak tergabung dalam kelompok tani.
Menurutnya, sasaran utama kegiatan penyuluhan memang kelompok tani karena jumlah tenaga penyuluh terbatas.
Ia menjelaskan, PPL Zulfa menangani wilayah Cubadak Tengah dengan cakupan sebanyak 42 kelompok tani. Kondisi tersebut membuat jangkauan penyuluhan secara individual kepada seluruh petani menjadi tidak mudah.
”Sasaran pertama penyuluhan itu adalah kelompok tani, petani yang berkelompok.
Karena kami terbatas. Satu, Buk Zulfa, wilayahnya Cubadak Tengah seluruhnya, ada 42 kelompok tani,” kata Dian.
Namun demikian, keterbatasan jumlah PPL seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengendurkan fungsi penyuluhan. Justru diperlukan strategi pelayanan yang lebih adaptif agar petani yang belum aktif dalam kelompok tani tetap memperoleh akses informasi dasar mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Sebab, ketika produktivitas gabah menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani secara individual, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan ekonomi keluarga petani dan produktivitas sektor pertanian di daerah tersebut.
PPL Bantah Tidak Pernah Turun ke Kampung Pinang
Dian juga membantah anggapan bahwa PPL tidak pernah melakukan kegiatan di Kampung Pinang.
Menurutnya, pada Senin (14/9/2026), PPL Zulfa justru mengadakan pertemuan dengan kelompok tani di Kampung Pinang.
Pernyataan tersebut menjadi klarifikasi atas pengakuan sejumlah petani yang sebelumnya mengaku belum pernah mendapatkan kunjungan atau mengetahui keberadaan PPL di lokasi mereka.
Perbedaan informasi antara petani dan penyuluh ini semestinya menjadi bahan evaluasi bersama. Jika kegiatan penyuluhan telah dilakukan, persoalannya adalah bagaimana memastikan informasi tersebut benar-benar sampai kepada seluruh petani, termasuk mereka yang belum aktif dalam kelompok tani.
Alasan Pegawai BPP Belum Berada di Kantor
Terkait kondisi kantor BPP yang belum terdapat pegawai ketika wartawan melakukan konfirmasi pada Senin sekitar pukul 09.15 WIB, Dian menjelaskan bahwa pada pagi tersebut seluruh pegawai mengikuti apel di kantor Camat Dua Koto.
Setelah kegiatan apel selesai, menurut penjelasannya, sebagian pegawai kemudian mencari sarapan sebelum kembali menjalankan aktivitas.
Penjelasan tersebut patut menjadi perhatian manajemen pelayanan publik.
Bagaimanapun, masyarakat yang datang ke kantor pemerintahan membutuhkan kepastian bahwa pelayanan dapat diakses pada jam kerja.
Khusus bagi BPP, keberadaan petugas di kantor tetap penting sebagai titik layanan informasi bagi petani. Sementara kegiatan lapangan juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tugas penyuluhan.
Karena itu, persoalan utama bukan semata-mata siapa yang benar antara petani dan PPL, melainkan bagaimana membangun komunikasi yang lebih efektif sehingga petani memperoleh kepastian mengenai siapa penyuluh yang bertanggung jawab atas wilayahnya, kapan penyuluh dapat ditemui, serta bagaimana mekanisme melaporkan gangguan tanaman secara cepat.
Petani Membutuhkan Solusi, Bukan Sekadar Penjelasan
Persoalan tanaman padi di Kampung Pinang memberikan gambaran bahwa penguatan penyuluhan pertanian masih menjadi kebutuhan penting di tingkat lapangan.
Petani yang tidak mengetahui perbedaan antara hama, penyakit, dan organisme pengganggu tanaman berpotensi mengambil tindakan pengendalian yang tidak tepat. Akibatnya, biaya produksi dapat bertambah sementara hasil panen justru menurun.
Karena itu, BPP Kecamatan Dua Koto dan para PPL diharapkan meningkatkan komunikasi langsung dengan petani, memperkuat pemantauan tanaman pada masa kritis, serta memberikan edukasi mengenai identifikasi penyakit dan hama secara sederhana dan mudah dipahami.
Kritik terhadap kinerja penyuluhan hendaknya tidak dipandang sebagai bentuk menyudutkan petugas, melainkan sebagai dorongan agar fungsi PPL semakin terasa di tengah petani.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penyuluhan bukan hanya seberapa banyak pertemuan kelompok tani dilaksanakan, tetapi juga sejauh mana petani di lapangan mampu mengenali persoalan tanaman, memperoleh solusi tepat waktu, dan mempertahankan produktivitas hasil pertaniannya.
Desernews.com akan terus memantau perkembangan persoalan tersebut serta membuka ruang bagi pihak terkait untuk memberikan data maupun klarifikasi lebih lanjut mengenai kondisi pertanian di Kampung Pinang, Cubadak Tengah.(H.Eddi Gultom)




