Aceh Darussalam

Puasa Tapi Rajin Berghibah

Oleh: Ustazd Nursanjaya Abdullah

Ustazd Nursanjaya Abdullah.

desernews.com
Ramadhan datang untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri. Kita menahan lapar, menahan dahaga, dan berusaha menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.nNamun ada satu penyakit yang sering luput kita jaga, ghibah.

Lucunya, ada orang yang sangat disiplin menjaga puasanya dari makan dan minum, tetapi lisannya justru sibuk membicarakan keburukan orang lain. Di warung kopi, di kantor, di grup WhatsApp, bahkan menjelang berbuka—yang dibahas sering kali adalah aib orang.
Padahal ghibah adalah dosa yang sangat berat.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengumpamakannya seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan. Bayangkan, seharian kita menahan lapar demi pahala puasa, tetapi pahala itu perlahan habis karena lisan kita sendiri.

Para ulama mengingatkan:
Puasa bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan lisan. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa, tetapi yang ia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga, karena lisannya tidak dijaga.

Ramadhan seharusnya menjadi latihan untuk mengendalikan diri. Jika tidak ada yang baik untuk dibicarakan, maka lebih baik diam. Karena sering kali, dosa lisan jauh lebih cepat menghabiskan pahala daripada dosa anggota tubuh lainnya.

Mari kita jaga puasa kita dengan menjaga lisan. Kurangi membicarakan orang, perbanyak membicarakan kebaikan.
Kurangi mencari aib, perbanyak memperbaiki diri.

Semoga puasa kita bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membersihkan hati dan menjaga lisan dari dosa. Wallahu a’lam bish-shawwab.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close