Pilpres 2024: Cawapres Jadi Kunci Pertarungan Suara di Jawa

Jakarta, desernews.com
Koalisi dan nama-nama yang bakal menjadi calon presiden di Pilpres 2024 makin terlihat. Saat ini giliran penentuan sosok calon wakil presiden (cawapres) yang bakal menjadi penting untuk menentukan kans kemenangan para calon.
Sampai saat ini terdapat tiga peta koalisi dan tiga capres. Ketiga sosok capres yakni Anies Baswedan yang diusung NasDem, Demokrat, dan PKS; Prabowo Subianto dari Gerindra dan PKB; serta terbaru Ganjar Pranowo yang didukung PDIP dan PPP.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro memandang pemilihan sosok Cawapres bagi ketiga Capres tersebut berperan signifikan untuk meningkatkan peluang menang.
Agung menilai elektabilitas antara ketiga Capres masih belum memiliki celah yang terlalu jauh. Sehingga pemilihan sosok Cawapres dinilai dapat memperlebar jarak dengan pasangan yang lain.
“Peran Cawapres menjadi sangat signifikan mendongkrak kemenangan,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (3/5).
Setidaknya terdapat tiga faktor yang seharusnya bakal dipertimbangkan partai politik dalam memilih sosok Cawapres tersebut. Pertama dari segi elektabilitas, sosok Cawapres terpilih diharuskan dapat melengkapi basis massa atau ideologi masing-masing Capres.
Dalam konteks tersebut, kata dia, Cawapres dengan pengaruh besar di Jawa Barat dan Jawa Timur menjadi paling relevan bagi Ganjar. Sementara sebaliknya bagi Anies dan Prabowo diharuskan menggaet sosok populer di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kedua, Agung menilai juga penting bagi Cawapres untuk memiliki kapasitas dari segi kemampuan-pengalaman yang mumpuni. Entah sebagai seorang solidarity makers atau administratur pemerintahan.
“Ketiga terkait isi tas atau pembiayaan pilpres. Menjadi sebuah keniscayaan seorang cawapres juga diharapkan bisa membantu ongkos politik selama pemilihan berlangsung. Menimbang biaya yang dibutuhkan sangat besar,” jelasnya.
Menurutnya, kemampuan pendanaan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang akan dipertimbangkan lantaran Pilpres 2024 mendatang dimungkinkan berlangsung hingga 2 putaran.
Menurutnya, faktor finansial juga menjadi dibutuhkan agar bisa melewati tahapan-tahapan pemilihan sampai menuju putaran final.
“Dengan 3 variabel tadi, cawapres bisa bergerak optimal menjadi ‘kartu hidup’ bagi Capres yang saat ini bersaing. Karena memiliki modal lengkap untuk bertarung dalam segala situasi,” tuturnya.
Signifikan untuk oposisi
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah memandang sosok cawapres hanya akan berdampak signifikan pada Capres yang diusung parpol oposisi saja.
“Bagi koalisi yang cenderung mendapatkan dukungan penguasa saat ini, cawapres tidak begitu banyak berdampak,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/5) malam.
“Tetapi bagi Koalisi Perubahan yang terkesan antitesa Jokowi, Cawapres bisa menjadi penentu kemenangan,” sambungnya.
Meski begitu, Dedi sepakat dengan Agung apabila penentuan sosok Cawapres harus dilakukan dari kelompok yang berbeda dengan capres, agar tidak ada tumpang tindih pemilih.
Selain itu, Cawapres juga harus mampu untuk menjadi kekuatan memecah suara lawan. Apabila tidak mampu mengimbangi dari segi suara atau ketokohan, ia khawatir sosok tersebut justru tidak akan berdampak banyak mendulang suara pemilih.
Terlebih, kata dia, kelompok pemilih sudah semakin terbelah pascapilpres 2014 dan 2019. Dia menilai branding atau persona cawapres yang kuat di masyarakat akan menjadi nilai jual tambah.
“Konflik sosial sejak 2014 dan 2019 menjadi penyebab sehingga pemilih sudah terbelah, situasi ini membuat afiliasi kelompok tidak lagi dominan. Tokoh NU tidak bisa dipastikan mendapat suara NU, begitupun yang lainnya,” jelasnya.
Khusus bagi Anies yang didukung oleh kelompok oposisi, Dedi menilai pemilihan sosok cawapres dari kelompok pemerintahan akan mampu mendompleng perolehan suara masyarakat.
Perolehan suara tersebut dirasa akan jauh melampaui apabila Anies diduetkan dengan sosok yang juga berasal dari kelompok oposisi.
“Misalnya saja perbandingan Anies-AHY, dengan Anies-Erick Thohir atau Mahfud MD, di mana pasangan ini bersumber cawapres dari kelompok penguasa, maka Erick dan Mahfud justru punya peluang peningkatan dibanding sesama oposisi,” tuturnya.
Sedangkan untuk Prabowo, Dedi menilai parpol pendukungnya perlu mencari figur yang sekiranya dapat menjadi pemecah suara nasionalis bagi Ganjar.
Ia menyebut langkah tersebut diperlukan mengingat sejak Pilpres 2019 anggapan Prabowo sebagai kelompok hijau atau religius sudah melekat di masyarakat.
Lebih lanjut, Dedi menyebut nantinya seluruh partai koalisi akan bertarung secara penuh untuk meraih suara dominan di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pasalnya ketiga wilayah tersebut merupakan penyumbang suara terbanyak pada kontestasi Pemilu di tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan karakteristik pemilihnya, Dedi menyebut, Jawa Barat jauh lebih beragam ketimbang wilayah lainnya. Menurutnya, masyarakat di sana saat ini sudah mulai mempertimbangkan kinerja dan rekam jejak dari capres.
Sementara untuk Jawa Tengah dinilai memiliki potensi suara yang cukup solid kepada PDIP. Selain itu, ia mengatakan kebanyakan pemilih di wilayah ini juga turut melihat faktor kedekatan Capres dengan kelompok kelas bawah ataupun secara kesukuan.
Khusus untuk Jawa Timur, Dedi menyebut masyarakat akan mempertimbangkan faktor kedekatan pasangan Capres-Cawapres dengan organisasi keagamaan seperti NU.
“Secara umum, Prabowo dan Anies berpeluang mendapat suara dominan dibanding Ganjar di Jatim dan Jabar, dalam survei IPO periode Maret lalu, Anies bahkan unggul di Jabar,” jelasnya.
Senada, Agung menjelaskan berdasarkan demografi dan ideologi pemilihnya, wilayah Jawa Barat memang didominasi oleh kelompok masyarakat Islam Kanan yang lebih mengutamakan pemurnian ajaran Islam.
“Corak pemilih ini lebih cenderung memilih Anies dan sebagian ke Prabowo karena sisa-sisa hasil pertarungan dengan Jokowi selama periode 2014 dan 2019,” tuturnya.
Sedangkan khusus untuk wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Agung menilai akan menjadi arena pertarungan bagi Ganjar dan Prabowo lantaran pemilihnya didominasi oleh kalangan Islam tradisional dan basis laten massa kaum nasionalis.
“Wilayah Jateng lebih menguntungkan Ganjar karena sejak lama PDIP merawat daerah pemilihan ini sejak era Sukarno. Sementara untuk Prabowo, Jateng menjadi lumbung suara karena identitas kuat Gerindra dan dirinya sebagai partai serta figur nasionalis,” ujarnya.
“Jatim tak jauh berbeda dengan Jateng basis massa Islam tradisional dan kaum nasionalis saling berkelindan sehingga berturut-turut lebih menguntungkan Ganjar dan Prabowo,” sambungnya.(cnn/DN)




