
Banda Aceh, desernews.com
Dalam menghadapi musibah atau bencana, kita sebagai seorang Muslim dituntut untuk memiliki cara pandang yang tepat dan bijaksana. Ada ddua perspektif yang bisa kita gunakan untuk menyikapi peristiwa bencana:
1. Perspektif Iman: Ujian dari Allah
Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa setiap musibah adalah ujian dari Allah SWT untuk mengukur kadar keimanan dan kesabaran kita.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka Allah pun ridha kepadanya. Dan barang siapa yang murka, maka Allah pun murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi no. 2396, dinilai hasan)
Musibah bisa menjadi penghapus dosa, peningkatan derajat, dan penguat keimanan. Dalam surat Al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kalau tidak, niscaya Allah akan menurunkan azab kepada kalian semua. Lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan.” (HR. Tirmidzi no. 2169, Hasan)
Maka marilah kita melihat bencana dengan dua kacamata:
1. Sebagai ujian iman, agar kita tetap bersabar dan introspeksi diri.
2. Sebagai peringatan kolektif, agar kita semakin kuat dalam amar makruf nahi munkar.
Semoga Allah SWT melindungi negeri kita, mengampuni dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa sadar, sabar, dan bertindak.
Akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
2. Perspektif Sosial: Teguran atas Kemaksiatan
Namun dalam perspektif lain, bencana juga bisa menjadi teguran Allah atas kelalaian kolektif masyarakat, terutama ketika kemaksiatan dibiarkan tanpa ada upaya pencegahan.
Allah berfirman: “Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)
Lalu dalam QS. Al-An’am: 44, Allah mengingatkan: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
Bencana bisa menimpa bukan hanya kepada pelaku maksiat, tetapi juga orang-orang saleh yang membiarkan maksiat terjadi di sekitarnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh kalian harus menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika tidak, niscaya Allah akan menimpakan kepada kalian azab dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun doa kalian tidak akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi no. 2169, dinilai hasan oleh al-Albani)
Hadis ini memberi peringatan keras bahwa meninggalkan amar makruf nahi mungkar akan membawa murka Allah secara kolektif, bahkan bisa membuat doa kita tidak lagi didengar. Ini menegaskan bahwa diam terhadap kemungkaran bukanlah sikap yang netral, melainkan berbahaya bagi keselamatan masyarakat secara luas.(T.Jamaluddin)




