Aceh Darussalam

Sejarah dan Dinamika Pemikiran Islam

Oleh: Rektor UNMUHA, Ust. Dr. H. Aslam Nur, MA, pada pengajian rutin Ahad Subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh.

Ust. Dr. H. Aslam Nur, MA.

Banda Aceh, desernews.com
Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, terjadi pergeseran pusat studi Islam. Dahulu, orang yang ingin belajar Islam banyak mengarahkan perjalanannya ke Timur Tengah, terutama ke pusat-pusat keilmuan seperti Makkah, Madinah, Baghdad, Kairo, dan wilayah-wilayah lain yang menjadi pusat perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Namun, dalam perkembangan berikutnya, terutama sejak berkembangnya tradisi keilmuan modern di Eropa dan Barat, pusat-pusat kajian Islam juga tumbuh di dunia Barat.

Karena itu, ketika kita mempelajari Islam, kita perlu memahami bahwa terdapat berbagai pendekatan dalam studi Islam. Secara umum, dapat dibedakan setidaknya menjadi tiga pendekatan.

1. Islam Normatif

Pendekatan pertama adalah Islam normatif, yaitu mendiskusikan Islam dengan menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utama. Misalnya, ketika membahas hak dan kewajiban perempuan dalam Islam, maka pembahasannya berangkat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Pendekatan ini penting karena Islam pada dasarnya memiliki sumber ajaran yang jelas. Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 2 bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Rasulullah SAW juga menjadi penjelas dan teladan dalam memahami serta menjalankan ajaran tersebut.

Namun, perlu dipahami bahwa ketika ayat dan hadis dikaji, manusia tetap membutuhkan ilmu untuk memahami konteks, bahasa, hubungan antardalil, serta cara mengambil kesimpulan hukum. Karena itu, pendekatan normatif tidak berarti menutup ruang pemahaman dan penafsiran.

2. Islam Interpretatif

Pendekatan kedua adalah Islam interpretatif, yaitu membahas Islam melalui penafsiran, pemahaman, dan pemikiran para ulama, ilmuwan, ahli, atau mazhab-mazhab tertentu.

Di sinilah kita menemukan adanya keragaman pemikiran dalam sejarah Islam. Para ulama dapat memiliki perbedaan dalam memahami suatu persoalan karena perbedaan metode, pengetahuan, konteks sosial, maupun cara mereka membaca dan menghubungkan dalil.

Perbedaan pendapat dalam masalah yang memang memungkinkan adanya ijtihad bukan berarti umat Islam tidak mempunyai kebenaran yang bersumber dari wahyu. Justru hal itu menunjukkan adanya dinamika intelektual dalam memahami wahyu. Karena itu, kita perlu membedakan antara wahyu yang menjadi sumber ajaran dengan pemahaman manusia terhadap wahyu yang dapat memiliki perbedaan.

Allah mengingatkan dalam QS. Az-Zumar ayat 18 tentang orang-orang yang mendengarkan berbagai perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Ayat ini menunjukkan pentingnya sikap ilmiah dan kemampuan menilai berbagai pendapat dengan dasar yang kuat.

3. Islam Praktis

Pendekatan ketiga adalah Islam praktis. Sebagian ahli mengaitkannya dengan pendekatan historis atau sosial, yaitu melihat Islam dari sudut pandang praktik: bagaimana Islam dipahami dan dipraktikkan oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pendekatan ini, yang menjadi perhatian bukan hanya apa yang tertulis dalam kitab atau bagaimana ulama menafsirkannya, tetapi juga bagaimana ajaran tersebut hadir dalam kehidupan masyarakat.

Praktik Islam bisa berbeda antara masyarakat di Aceh dengan masyarakat di Jawa. Begitu juga praktik kehidupan umat Islam di Arab, Afrika, Asia Selatan, Eropa, dan berbagai wilayah lainnya. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh sejarah, budaya, lingkungan sosial, pendidikan, tradisi keilmuan, dan kondisi masyarakat masing-masing.

Karena itu, ketika kita melihat praktik keislaman di berbagai tempat, kita perlu berhati-hati dalam mengambil kesimpulan. Tidak semua praktik umat Islam dapat langsung disebut sebagai ajaran Islam, dan tidak semua tradisi masyarakat Muslim merupakan bagian dari ketentuan agama. Di sinilah pentingnya membedakan antara ajaran yang memiliki dasar wahyu dengan praktik sosial yang berkembang dalam masyarakat.

Perbedaan Pendekatan Timur Tengah dan Barat

Yang membedakan studi Islam di dunia Timur Tengah dan Barat, secara umum, bukan berarti salah satunya mempelajari Islam sementara yang lainnya tidak. Perbedaannya lebih terletak pada tradisi dan pendekatan keilmuan yang digunakan.

Di banyak lembaga pendidikan Islam di Timur Tengah, kajian Islam secara tradisional sangat kuat pada pendekatan normatif dan interpretatif. Al-Qur’an, hadis, fikih, usul fikih, tafsir, hadis, dan berbagai disiplin ilmu keislaman menjadi bagian penting dalam tradisi pendidikan.

Sementara itu, dalam perkembangan studi Islam di dunia Barat, banyak kajian menggunakan pendekatan sejarah, sosial, antropologi, politik, budaya, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Islam juga dilihat dari bagaimana agama tersebut dipahami dan dipraktikkan oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan praktis atau historis ini kemudian memperlihatkan kepada kita bahwa umat Islam di berbagai tempat memiliki beragam model dalam menjalankan kehidupan keagamaannya. Dari sini para peneliti dapat menemukan berbagai bentuk ekspresi keberislaman dan kemudian memberikan interpretasi atau definisi yang beragam terhadap fenomena tersebut.

Dari sini kita dapat memahami satu hal penting: Islam sebagai wahyu tidak sama dengan Islam sebagaimana dipahami dan dipraktikkan oleh setiap individu atau masyarakat. Wahyu bersumber dari Allah, sedangkan pemahaman dan praktik manusia selalu berada dalam ruang sejarah dan kemampuan manusia.

Karena itu, ketika kita menemukan perbedaan praktik keislaman, kita tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semuanya adalah perbedaan dalam agama. Kita perlu melihat: mana yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah, mana yang merupakan hasil ijtihad ulama, dan mana yang merupakan kebiasaan atau praktik sosial masyarakat Muslim.

Dengan cara pandang seperti ini, kita dapat mempelajari sejarah dan dinamika pemikiran Islam secara lebih objektif, sekaligus tetap menjaga keyakinan bahwa sumber utama ajaran Islam adalah wahyu Allah dan Sunnah Rasulullah SAW.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close