
Banda Aceh, desernews.com
Pertanyaannya: bagaimana Ramadhan itu bisa terasa manis? Dan bagaimana ia menjadi indah dalam kehidupan kita?
Ternyata, ada dua dimensi dalam memahami makna manis dan indah:
Makna hakikiyah (sebenarnya, lahiriah).
Makna maknawiyah atau majaziyah (batiniah, spiritual).
– Pertama: Manis dalam Makna Hakiki
Secara lahiriah, manis adalah rasa yang kita rasakan dengan indera.
Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW biasa berbuka puasa dengan ruthab (kurma muda yang masih basah). Jika tidak ada, beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Kurma memiliki rasa manis.
Ini menunjukkan bahwa Islam memperhatikan aspek fisik dan kesehatan. Bahkan secara medis, makanan manis alami seperti kurma cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Tetapi pertanyaannya, apakah manisnya Ramadhan hanya pada rasa kurma?. Tentu tidak.
– Kedua: Manis dalam Makna Maknawi (Manisnya Iman)
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman…”. Tiga perkara itu adalah:
1. Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.Artinya, kecintaan kita kepada Allah dan Rasul harus mengalahkan kecintaan kepada harta, jabatan, bahkan diri kita sendiri.Ramadhan adalah ujian cinta. Ketika adzan Subuh berkumandang, kita berhenti makan karena cinta kepada Allah. Ketika lapar dan haus, kita bertahan karena cinta kepada-Nya.
2. Mencintai seseorang semata-mata karena Allah.Inilah ukhuwah sejati. Kita menyayangi bukan karena kepentingan, bukan karena harta, bukan karena jabatan.Di bulan Ramadhan, rasa ini tumbuh. Kita berbagi takjil, mengundang berbuka, membantu fakir miskin.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang tersebut.”. Lihatlah, betapa manisnya berbagi di bulan ini.
3. Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan ke dalam api. Artinya, iman bukan hanya dicintai, tetapi juga dijaga. Ramadhan melatih kita menahan diri dari yang halal di siang hari, apalagi yang haram.
Inilah manisnya iman. Ia tidak terasa di lidah, tetapi terasa di hati.
Indah dalam Makna Hakiki dan Maknawi
Indah secara hakiki adalah sesuatu yang sedap dipandang mata. Masjid yang penuh jamaah, suasana tarawih, lantunan ayat Al-Qur’an, semuanya indah.
Tetapi yang lebih dalam adalah indah secara maknawi.
Dalam Surah Al-Hujurat ayat 7, Allah berfirman: “Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menjadikannya indah di dalam hatimu…”. Betapa luar biasanya ayat ini. Iman itu bukan hanya kewajiban, tetapi perhiasan hati.
Ketika hati dihiasi iman:
Shalat terasa nikmat. Sedekah terasa ringan. Membaca Al-Qur’an terasa menenangkan. Menahan amarah terasa mulia. Ramadhan memperindah hati kita. Ia seperti taman yang menyuburkan iman.
Tujuan Ramadhan: Mencapai Taqwa
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.”
Tujuan akhir Ramadhan adalah taqwa.
Di sini kita perlu memahami tingkatan manusia dalam beragama:
1. Muslim: Orang yang telah mengucapkan syahadat. Secara lahiriah ia telah masuk Islam, walaupun mungkin belum sempurna dalam menjalankan ibadah.
2. Mukmin Muslim yang menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan Allah. Ia bukan hanya berstatus, tetapi berkomitmen.
3. Muttaqin Ini tingkatan tertinggi.Ia bukan hanya menjalankan yang wajib, tetapi juga memperbanyak amalan sunnah, menjaga hati, menjaga lisan, menjaga pikiran.
Ramadhan adalah madrasah untuk naik kelas: Dari Muslim menjadi Mukmin. Dari Mukmin menjadi Muttaqin.
Bagaimana Menjadikan Ramadhan Benar-Benar Manis dan Indah?. Perbaiki niat, jangan sekadar ikut-ikutan suasana. Perbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Hidupkan malam dengan shalat dan doa. Perbanyak sedekah dan berbagi. Jaga hati dan lisan. Jangan sampai kita hanya menahan lapar, tetapi tidak menahan amarah, ghibah, dan dusta.
Manisnya Ramadhan bukan pada kolaknya.Indahnya Ramadhan bukan pada lampu-lampunya.
Manisnya Ramadhan adalah ketika iman terasa hidup.Indahnya Ramadhan adalah ketika hati terasa dekat dengan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bukan hanya melewati Ramadhan, tetapi berubah karena Ramadhan.Bukan hanya berpuasa, tetapi menjadi orang yang bertaqwa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (T. Jamaluddin)




