Aceh Darussalam

Resep Kuliner Aceh Berubah karena Alam Tak Sehat Lagi

Banda Aceh, desernews.com
Pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, mengatakan tanaman hutan yang tumbuh liar bagi orang Aceh sejak dulu menjadi bumbu dapur hingga obat. Akhir-akhir ini, beberapa jenis tanaman itu hilang dan sulit dicari.

“Buat memenuhi kualitas daripada bumbu makanan tidak begitu lengkap lagi,” kata Tarmizi, kolektor manuskrip kuno Aceh ini. “Kekurangan bahan baku ini karena rusaknya hutan.”

Bumbu kuliner Aceh mengandung rempah atau daun-daun tumbuhan liar karena fungsi selain penghilang lapar juga sekaligus obat-obatan. “Selain makan, dia sudah terobati dengan rempah-rempah,” ujar Cek Midi, panggilan Tarmizi.

Karena itu, masyarakat Aceh masa kesultanan dulu sangat bergantung dengan hutan sehingga sangat menjaganya. Dalam naskah Qanun Al-Asyi atau undang-undang Kesultanan Aceh Darussalam yang dikoleksi Cek Midi, sultan sangat detail mengatur soal hutan.

Misalnya, Qanun Al-Asyi mengatur tiap menebang sebatang pohon di hutan wajib menanam sebatang yang lain. Tak cuma itu, pohon yang ditebang juga tidak boleh kurang 100 meter dari sungai atau sumber air.

Pohon yang ditebang juga tak sembarangan, mesti pohon tua yang daunnya kering dan sudah berjatuhan. “Waktu diketuk batangnya, daun kering jatuh, itu baru boleh ditebang,” katanya.

Sultan juga memilih Pawang Uteun atau pawang hutan di tiap kawasan hutan. Mereka inilah yang jadi penjaga hutan masa kesultanan.

Kelangkaan beberapa jenis tumbuhan liar ini, menurut Cek Midi, membuat warga Aceh akhirnya mengubah resep kulinernya. Bila dulu masakan bertabur rempah, kini mulai dilengkapi penyedap rasa buatan.

“Ada resep kuliner Aceh yang berubah dengan kondisi alam yang tidak sehat,” kata Cek Midi. (TJ/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close