Aceh Darussalam

Jadilah Mukmin yang Kuat, Bukan Mukmin yang Rapuh Apalagi Pendendam

Ustazd Sanjaya Abdullah

Langsa, desernews.com
Hidup ini tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Kadang ada ujian ekonomi, masalah keluarga, tekanan pekerjaan, ucapan orang yang menyakitkan, bahkan kekecewaan terhadap sesama.

Karena itu Islam mengajarkan agar kita menjadi pribadi yang kuat, bukan pribadi yang mudah rapuh, sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit baper, lalu ngambek berkepanjangan. Hal itu disampaikan oleh Ustazd Sanjaya Abdullah, pada pengajian Rutin Jum’at Subuh, 24 April 2026 di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Kota Langsa.
Lebih Lanjut DR. Sanjaya Abdullah mengatakan,

Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim).

Hadits ini bukan hanya bicara kuat badan, tetapi kuat iman, kuat sabar, kuat mental, kuat menghadapi ujian, dan kuat memegang prinsip kebenaran.

Mukmin yang kuat bukan berarti kasar. Bukan yang suaranya paling keras. Bukan yang paling mudah marah. Bukan yang paling ditakuti orang. Mukmin yang kuat adalah orang yang: tetap tenang ketika diuji, tetap santun ketika disakiti, tetap jujur ketika ada peluang curang, tetap istiqamah ketika godaan datang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi ukuran kuat dalam Islam bukan otot semata, tetapi kemampuan menguasai diri.

Sekarang banyak orang mudah tersinggung. Sedikit dikritik langsung marah. Sedikit tidak disapa langsung merasa dibenci. Sedikit beda pendapat langsung menjauh. Sedikit tidak dilibatkan langsung kecewa berhari-hari. Padahal belum tentu orang lain bermaksud buruk. Bisa jadi dia sedang sibuk, sedang ada masalah, atau memang lupa.

Allah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Jangan sampai hati kita rusak hanya karena prasangka yang belum tentu benar.

Yang lebih berat lagi adalah sifat ngambek berkepanjangan.
Ada orang gara-gara tersinggung, lalu tidak mau ke masjid lagi. Gara-gara kecewa pada seseorang atau jamaah, lalu menjauh dari pengajian.
Gara-gara tidak dipuji, lalu berhenti beramal. Inilah yang bisa sebabkan munculnya penyakit hati. Karena kalau ibadah tergantung suasana hati, kita sendiri yang rugi.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Bersabarlah, dan kesabaranmu itu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

Lalu bagaimana menjadi mukmin yang kuat?

Pertama, dekatkan diri kepada Allah.
Kekuatan seorang mukmin bermula dari hubungannya dengan Allah. Saat hati dekat kepada Allah, jiwa jadi tenang, pikiran lebih jernih, dan langkah lebih kokoh.

Orang yang dekat kepada Allah tidak mudah goyah oleh ujian, tidak mudah hancur oleh penilaian manusia, dan tidak mudah sombong saat diberi nikmat.
Karena manusia akan lemah jika hanya mengandalkan dirinya, tetapi akan kuat jika bersandar kepada Rabb-nya.
Dekat kepada Allah dilakukan dengan shalat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, taubat, ikhlas, dan taat dalam keseharian.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS.Ath-Thalaq: 3).

Kedua, belajar sabar.
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63).

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman: 17).

Tidak semua hal harus dibalas. Tidak semua ucapan harus ditanggapi. Karena kemuliaan itu kadang ada pada diam dan kemampuan menahan diri. Maka mari belajar sabar, karena kesabaran melahirkan ketenangan dan ketenangan melahirkan kebijaksanaan.

Ketiga, kendalikan emosi.
Kalau marah, tahan lisan. Kalau kecewa, tahan keputusan. Menahan amarah itu adalah sifat mulia, dan langka orang yang seperti ini.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali Imran: 134).

Kuat bukan yang meledak saat marah, tapi yang mampu menahan diri. Maka saat marah, diam itu lebih selamat.

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah dia diam.” (HR. Ahmad)

Kalau marah, tahan lisan. Banyak penyesalan lahir dari kata-kata sesaat. Dan orang bijak akan menahan reaksi dan kalimat hingga emosinya mereda.

Keempat, fokus memperbaiki diri.
Jangan habiskan tenaga memikirkan omongan orang. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya (QS. Al-Ma’idah: 105).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tidak akan membahayakan kamu orang yang sesat apabila kamu telah mendapat petunjuk.”

Fokus utama kita adalah membenahi diri, bukan sibuk memikirkan orang lain. Manusia mendapat balasan dari usahanya sendiri (QS. An-Najm: 39).

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

Energi terbaik yang kita miliki dipakai maksimal untuk berkembang, bukan untuk memikirkan komentar orang. Jadi, tinggalkan hal yang tidak bermanfaat. Omongan orang yang tidak memberi manfaat tak perlu menguras pikiran kita.

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Jami` at-Tirmidhi)

طُوبَىٰ لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ
“Beruntung orang yang disibukkan oleh aib dirinya sehingga tidak sibuk dengan aib manusia.” (HR. Al-Bazzar, maknanya shahih di kalangan ulama)

Kelima, mudah memaafkan.
Hati yang penuh dendam itu berat. Sebab, dendam memang sering lebih menyiksa orang yang menyimpannya daripada orang yang dituju. Ia menguras pikiran, menahan ketenangan, dan membuat hati sulit lapang. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tapi membebaskan diri dari beban yang terus dipikul.

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. A-Baqarah: 237).

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (QS. Asy-Syuura: 40).

Allah memuji orang bertakwa:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Kita hidup di dunia ini cuma sebentar.
Maka jangan habiskan umur untuk ngambek, merajuk, dan pendendam.
Jangan habiskan tenaga untuk tersinggung. Jangan habiskan waktu memikirkan ucapan manusia.

Jadilah mukmin yang kuat.
Kalau dicela, tetap tenang. Kalau diuji, tetap sabar. Kalau gagal, bangkit lagi. Kalau kecewa, tetap beribadah. Kalau lelah, istirahatlah sejenak namun tetap melangkah. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang kuat imannya, luas hatinya, sabar jiwanya, dan istiqamah amalnya.

Wallahu a’lam bish-shawwab.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close