Ekspresi Kecintaan kepada Rasulullah SAW
Oleh: Ust. Prof. Dr. Ali Abubakar, MA, pada Pengajian rutin Ahad Subuh, 30 Agustus 2026 di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh.

Banda Aceh, desernews.com
Berbicara tentang Maulid Nabi, pada hakikatnya kita sedang berbicara tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kecintaan kepada Rasulullah adalah bagian penting dari keimanan. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana cinta itu kita ekspresikan? Apakah cukup dengan mengadakan peringatan, membaca kisah kelahiran beliau, bershalawat dan berkumpul bersama, ataukah cinta itu harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah, akhlak, perjuangan, dan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari?
Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas. Allah menyatakan bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah. Karena itu, Rasulullah bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani.
Bahkan Allah menegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 31: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa cinta yang benar bukan hanya perasaan di dalam hati, tetapi harus melahirkan ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah SAW.
Karena itu, apabila Maulid Nabi dimaknai sebagai momentum untuk mengenal Rasulullah lebih dekat, mengingat perjuangannya, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah, memperkuat silaturahmi, bersedekah, dan kemudian mendorong umat untuk mengikuti sunnah beliau, maka nilai pendidikannya sangat besar.
Namun kita juga perlu jujur secara ilmiah. Tidak terdapat ayat Al-Qur’an atau hadis sahih yang secara khusus memerintahkan umat Islam untuk menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi pada tanggal tertentu. Karena itu, persoalan hukum dan bentuk pelaksanaan Maulid memang menjadi wilayah perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada ulama yang membolehkannya sebagai bentuk kegiatan keagamaan selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan syariat, sementara ulama lain tidak membolehkannya karena Nabi SAW, para sahabat, dan generasi awal Islam tidak menjadikannya sebagai perayaan keagamaan tahunan.
Yang perlu kita sepakati adalah bahwa mencintai Rasulullah SAW merupakan kewajiban, sedangkan cara mengekspresikannya harus tetap berada dalam batas-batas ajaran Islam.
Rasulullah SAW sendiri pernah ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjelaskan bahwa hari Senin adalah hari ketika beliau dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadanya. Hadis ini terdapat dalam Sahih Muslim. Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengingat nikmat kelahirannya, tetapi bentuk ekspresinya adalah ibadah, yaitu berpuasa.
Karena itu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa mengenang Rasulullah hendaknya membawa kita kepada ketaatan kepada Allah, bukan sekadar kepada kemeriahan acara.
Ada pula sebuah kalimat yang sering beredar di tengah masyarakat: “Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberikan syafaat kepadanya kelak di hari akhirat…” Kalimat semacam ini sering disampaikan sebagai hadis, padahal tidak diketahui sumber hadisnya dalam kitab-kitab hadis yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, jangan menyandarkan kalimat tersebut kepada Rasulullah SAW sebagai hadis.
Kita harus berhati-hati dalam berbicara atas nama Rasulullah SAW. Beliau memberikan peringatan keras terhadap orang yang sengaja berdusta atas namanya. Dalam Sahih Bukhari disebutkan bahwa siapa yang berdusta atas nama Nabi dengan sengaja, maka tempatnya di neraka.
MAULID DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
Kalau kita melihat sejarah, peringatan Maulid dalam bentuk perayaan yang terorganisasi memang muncul beberapa abad setelah Rasulullah SAW wafat. Sejarah awalnya cukup kompleks dan tidak sesederhana mengatakan bahwa satu tokoh tertentu adalah orang pertama yang merayakannya.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir telah terdapat perayaan mawlid yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW, Ali, Fatimah, dan keluarga serta penguasa Fatimiyah. Perayaan tersebut pada awalnya bersifat seremonial istana dan berkaitan pula dengan identitas politik-keagamaan Dinasti Fatimiyah.
Dalam perkembangan berikutnya, tradisi Maulid berkembang dalam lingkungan masyarakat Sunni. Salah satu perayaan yang paling terkenal adalah di Irbil pada awal abad ke-13, yang diselenggarakan oleh Muẓaffar al-Din Kökbörü, seorang penguasa Irbil dan ipar Sultan Salahuddin. Perayaan tersebut berlangsung besar-besaran, melibatkan ulama, penyair, masyarakat, pembacaan kisah Nabi, dan pemberian makanan serta sedekah.
Karena itu, kurang tepat jika dikatakan secara sederhana bahwa Sultan Salahuddin sendiri adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid atau bahwa beliau tetap melaksanakan Maulid seperti bentuk yang dikenal sekarang. Yang lebih kuat secara sejarah adalah bahwa tradisi Maulid berkembang dalam berbagai konteks politik, sosial, dakwah, dan keagamaan, kemudian mengambil bentuk yang berbeda-beda di berbagai wilayah Muslim.
Dari sini kita belajar bahwa sebuah tradisi keagamaan yang berkembang dalam sejarah harus dipahami secara proporsional. Kita tidak perlu menjadikannya sebagai alasan untuk saling menyalahkan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap kegiatan yang mengatasnamakan kecintaan kepada Rasulullah benar-benar menghasilkan ketakwaan, persaudaraan, ilmu, amal saleh, dan akhlak yang baik.
Maulid dan Tradisi Aceh
Di Aceh, Maulid memiliki posisi yang sangat kuat dalam tradisi masyarakat. Ia tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang sosial untuk mempertemukan masyarakat, keluarga, dan antar gampong.
Majelis Adat Aceh mencatat bahwa tradisi Maulid telah menjadi bagian penting dari peradaban Aceh yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dalam tradisi Aceh, Maulid juga diisi dengan ceramah, pembacaan pujian kepada Rasulullah, dan makan bersama. Tradisi tersebut bahkan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari Rabiul Awal hingga Jumadil Awal.
Ada pula catatan mengenai surat wasiat Sultan Ali Mughayat Syah yang bertanggal 12 Rabiul Awal 913 Hijriah atau 23 Juli 1507, yang menyebut pelaksanaan Maulid sebagai sarana menyambung tali silaturahmi antarkampung di Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, kita tetap perlu berhati-hati dalam menyimpulkan bahwa bentuk pelaksanaan Maulid pada masa itu persis sama dengan kenduri Maulid yang kita kenal sekarang.
Dalam konteks masyarakat Aceh, Maulid dahulu juga menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar. Orang-orang yang merantau dan tinggal jauh dari kampung halaman pulang untuk bertemu orang tua, saudara, dan kerabat. Mereka makan bersama, saling mengunjungi, mempererat persaudaraan dan memperkuat hubungan sosial.
Inilah nilai Maulid yang sangat indah: kecintaan kepada Rasulullah diterjemahkan menjadi kecintaan kepada sesama manusia.
Tetapi pertanyaannya adalah: apakah nilai itu masih kita pertahankan hari ini?
JANGAN SAMPAI KEMERIAHAN MENGALAHKAN KETELADANAN
Kita perlu melakukan introspeksi. Jangan sampai kegiatan Maulid yang semestinya mengingatkan kita kepada Rasulullah justru membuat kita lupa terhadap ajaran Rasulullah.
Misalnya, Maulid dilaksanakan di kompleks masjid, tetapi ketika waktu shalat tiba, sebagian peserta sibuk dengan kegiatan Maulid dan tidak ikut shalat berjamaah. Bahkan ada yang tidak menunaikan shalat.
Kalau hal seperti ini terjadi, kita harus bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang kita rayakan?
Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya shalat. Maka tidak mungkin kita mengatakan mencintai Rasulullah, tetapi pada saat yang sama meremehkan salah satu ibadah yang paling beliau jaga.
Jangan sampai kita sangat bersemangat membaca kisah Rasulullah, tetapi tidak bersemangat mengikuti akhlaknya. Jangan sampai kita begitu lantang bershalawat, tetapi masih mudah berbohong, memfitnah, menghina, bertengkar, memutus silaturahmi, mengambil hak orang lain, atau berlaku zalim.
Cinta kepada Rasulullah harus terlihat dalam perilaku.
Kalau kita mencintai Rasulullah, maka kita belajar kejujurannya.
Kalau kita mencintai Rasulullah, kita belajar amanahnya.
Kalau kita mencintai Rasulullah, kita belajar kasih sayangnya.
Kalau kita mencintai Rasulullah, kita belajar kesabarannya.
Kalau kita mencintai Rasulullah, kita belajar keberaniannya dalam membela kebenaran.
Dan kalau kita mencintai Rasulullah, kita harus berusaha mengikuti sunnahnya dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa.
JANGAN JADIKAN MAULID SEBAGAI AJANG PERLOMBAAN
Hal lain yang perlu kita renungkan adalah jangan sampai Maulid berubah menjadi ajang perlombaan dalam kemewahan.
Siapa yang membawa makanan paling banyak?
Siapa yang membawa hidangan paling besar?
Siapa yang paling mewah?
Siapa yang paling menonjol?
Semangat berbagi tentu merupakan sesuatu yang baik. Memberi makan kepada orang lain adalah amal yang mulia. Tetapi ketika pemberian itu mulai didorong oleh keinginan untuk dipuji, dipamerkan, dibandingkan, atau menunjukkan kemampuan ekonomi, maka kita harus berhati-hati.
Sebab amal yang besar dapat kehilangan nilainya ketika niatnya berubah.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa Allah tidak melihat kemeriahan lahiriah semata, tetapi keikhlasan dan kebenaran amal.
Karena itu, kenduri Maulid jangan sampai menjadi perlombaan gengsi. Jadikan ia sebagai perlombaan kebaikan.
Lebih baik sederhana tetapi ikhlas daripada mewah tetapi penuh riya.
Lebih baik makanan tidak terlalu banyak tetapi semua jamaah mendapatkan manfaat daripada makanan berlimpah tetapi shalat berjamaah terabaikan.
Lebih baik biaya Maulid sekaligus digunakan untuk membantu fakir miskin, anak yatim, pendidikan, masjid, dan dakwah daripada seluruh anggaran habis hanya untuk kemeriahan sesaat.
JANGAN BERLEBIHAN DALAM MEMUJI RASULULLAH
Ada satu hal yang juga sangat penting: mencintai Rasulullah tidak berarti mengangkat beliau melebihi kedudukan yang Allah berikan kepadanya.
Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 56, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi. Jadi, bershalawat adalah ibadah yang jelas landasannya.
Tetapi kecintaan kepada Rasulullah harus tetap berada dalam batas tauhid.
Rasulullah SAW sendiri mengingatkan agar umatnya tidak berlebihan dalam memuji beliau sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam. Beliau menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari.
Karena itu, kita harus membedakan antara memuliakan Rasulullah dan menyamakan Rasulullah dengan Allah.
Rasulullah adalah manusia pilihan Allah, nabi dan rasul terakhir, manusia paling mulia, teladan terbaik bagi umat manusia. Tetapi beliau bukan Tuhan. Beliau tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan. Beliau tidak boleh disembah, tidak boleh dimintai sesuatu yang merupakan kekhususan Allah, dan tidak boleh diberikan sifat-sifat yang hanya milik Allah.
Kita mencintai Rasulullah justru dengan mengikuti apa yang beliau ajarkan tentang tauhid: menyembah Allah semata.
Inilah keseimbangan dalam mencintai Rasulullah: tidak meremehkan beliau, tetapi juga tidak mengangkat beliau melampaui batas yang Allah tetapkan.
LALU, APA BENTUK CINTA KITA KEPADA RASULULLAH?
Kalau kita ingin menjadikan Maulid sebagai momentum memperbaharui cinta kepada Rasulullah, maka setidaknya ada beberapa hal yang harus kita lakukan:
Mengenal Rasulullah, bukan hanya nama dan kelahirannya, tetapi perjuangan, akhlak, sunnah, dan perjuangannya menegakkan tauhid.
Memperbanyak shalawat kepada beliau sebagai bentuk ibadah dan penghormatan yang diajarkan agama.
Mengikuti sunnahnya, karena Al-Qur’an menjadikan Rasulullah sebagai teladan dan menjadikan ittiba’ sebagai bukti cinta kepada Allah.
Menjaga shalat, karena cinta kepada Rasulullah tidak boleh mengalahkan atau bertentangan dengan ketaatan kepada Allah.
Meneladani akhlaknya dalam keluarga, pekerjaan, perdagangan, pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan sosial.
Memperkuat silaturahmi, sehingga Maulid benar-benar menjadi sarana mempererat persaudaraan.
Memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial, agar kecintaan kepada Rasulullah melahirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menghindari riya dan kemewahan berlebihan, agar kegiatan Maulid tetap menjadi ibadah dan bukan ajang mempertontonkan kemampuan.
Menjaga kemurnian tauhid, dengan tidak memberikan sifat-sifat Allah kepada Rasulullah SAW.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah: “Seberapa meriah kita memperingati Maulid?”
Tetapi:
“Seberapa jauh kehidupan kita berubah setelah mengenal Rasulullah?”
Kalau setelah Maulid kita semakin rajin shalat, berarti Maulid memberi pengaruh.
Kalau setelah Maulid kita semakin jujur, berarti Maulid memberi pengaruh.
Kalau setelah Maulid kita semakin sayang kepada keluarga, berarti Maulid memberi pengaruh.
Kalau setelah Maulid kita semakin peduli kepada fakir miskin dan anak yatim, berarti Maulid memberi pengaruh.
Kalau setelah Maulid kita semakin menjaga persaudaraan dan meninggalkan permusuhan, berarti Maulid memberi pengaruh.
Tetapi kalau Maulid semakin meriah sementara shalat semakin ditinggalkan, makanan semakin banyak sementara fakir miskin semakin dilupakan, pujian semakin tinggi sementara akhlak semakin buruk, maka kita harus bertanya kembali: di mana letak kecintaan kita kepada Rasulullah?
Sebab Rasulullah SAW tidak datang hanya untuk dikenang. Beliau datang untuk diikuti.
Beliau tidak hanya untuk dipuji. Beliau untuk diteladani.
Beliau tidak hanya untuk disebut namanya. Ajarannya harus hidup dalam kehidupan kita.
Maka marilah kita menjadikan Maulid bukan sekadar momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi momentum menghidupkan kembali sunnahnya dalam kehidupan kita.
Mari kita buktikan cinta kepada Rasulullah dengan shalat yang lebih baik, akhlak yang lebih mulia, keluarga yang lebih harmonis, kehidupan sosial yang lebih peduli, ekonomi yang lebih jujur, dan masyarakat yang lebih beradab.
Karena cinta yang sejati kepada Rasulullah bukan hanya terdengar dari lisan, tetapi terlihat dari kehidupan.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW, mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, menjaga tauhid, dan mendapatkan syafaat beliau pada hari akhirat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.(T. Jamaluddin)




