Aceh Darussalam

Bolehkah Berteman dengan Syaitan?

Oleh: Ustazd Hermansyah Adnan, S.Ag, M.Sos. Pengajian rutin Sabtu Subuh, 15 Agustus 2026 di Mesjid Tgk Jakfar Hanafiah Kampus UNMUHA Batoh, Banda Aceh.

Ustazd Hermansyah Adnan, S.Ag, M.Sos.

Banda Aceh, desernews.com
Pada kesempatan subuh ini kita akan membicarakan sesuatu yang sering kita dengar, tetapi kadang belum kita pahami dengan benar: “Bolehkah Berteman dengan Syaitan?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat serius. Sebab Al-Qur’an tidak hanya mengingatkan kita tentang keberadaan syaitan, tetapi juga memperingatkan bahwa syaitan mempunyai strategi untuk menyesatkan manusia.

Allah SWT menciptakan berbagai makhluk. Di antara yang kita kenal adalah malaikat, jin, dan manusia. Malaikat diciptakan untuk taat kepada Allah SWT, sedangkan jin dan manusia diberi pilihan untuk taat atau durhaka. Iblis sendiri termasuk dari golongan jin. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kahfi ayat 50 bahwa Iblis berasal dari golongan jin dan ia durhaka terhadap perintah Tuhannya.

Lalu, apa sebenarnya syaitan?

Syaitan bukanlah nama satu jenis makhluk tertentu. Kata syaitan menunjuk kepada sifat dan peran makhluk yang membangkang, menyesatkan, dan mengajak kepada keburukan. Karena itu, Al-Qur’an menyebut adanya syaitan dari kalangan jin dan syaitan dari kalangan manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-An‘am ayat 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu syaitan-syaitan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan indah untuk menipu.”

Ayat ini memberikan pelajaran penting: syaitan tidak selalu tampil dalam bentuk yang menakutkan. Bahkan Al-Qur’an mengatakan mereka dapat menggunakan zukhruful-qawl—perkataan yang terlihat indah—untuk menipu manusia.

Karena itu, godaan syaitan tidak selalu berbentuk ajakan, “Ayo lakukan dosa!” Justru sering kali dosa dibuat terlihat menarik. Korupsi disebut “kesempatan”. Kebohongan disebut “strategi”. Ghibah disebut “sekadar membicarakan fakta”. Pergaulan bebas disebut “kebebasan”. Riba disebut “keuntungan”. Bahkan kesombongan kadang disebut “harga diri”.

Di sinilah bahayanya.

Allah SWT kemudian memberikan peringatan yang sangat tegas:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh.”
(QS. Fatir: 6)

Perhatikan kalimat Allah SWT: “Fat-takhidzuhu ‘aduwwa”—jadikanlah ia musuh.

Allah tidak mengatakan, “jadikan syaitan teman.” Allah justru memerintahkan kita untuk menjadikannya musuh. Sebab tujuan syaitan sangat jelas: membawa manusia mengikuti jalannya hingga menjadi penghuni neraka.

Kalau begitu, bagaimana Iblis menjadi musuh manusia?

Kisahnya bermula ketika Allah SWT memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan terhadap perintah Allah. Iblis menolak karena kesombongannya. Ia merasa dirinya lebih baik daripada Adam.

Kesombongan itulah yang menjadi awal permusuhan Iblis terhadap manusia.

Iblis kemudian bersumpah akan menyesatkan keturunan Adam. Allah mengabadikan dialog tersebut dalam QS. Al-A‘raf ayat 16–17. Iblis mengatakan bahwa ia akan menunggu manusia di jalan yang lurus, kemudian mendatangi mereka dari berbagai arah agar manusia tidak bersyukur kepada Allah SWT.

Artinya, target utama syaitan bukan sekadar membuat manusia melakukan satu dosa, tetapi menjauhkan manusia dari jalan Allah.

Kadang ia mulai dengan dosa kecil. Setelah manusia terbiasa, dosa itu menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi karakter. Karakter akhirnya membentuk kehidupan.

Karena itu, jangan pernah meremehkan dosa kecil.

Syaitan juga tidak memiliki kekuasaan mutlak atas manusia. Allah SWT menjelaskan dalam QS. Ibrahim ayat 22 bahwa pada hari kiamat syaitan sendiri akan mengakui bahwa ia tidak memiliki kekuasaan untuk memaksa manusia. Ia hanya mengajak, kemudian manusia merespons ajakan tersebut.

Ini sangat penting untuk kita pahami.

Syaitan membisikkan, tetapi manusia yang memilih. Syaitan mengajak, tetapi manusia yang memutuskan.

Karena itu, kita tidak boleh menjadikan syaitan sebagai alasan untuk membenarkan dosa.

Lalu bagaimana dengan qarin?
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki pendamping dari kalangan jin. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, para sahabat bertanya apakah Rasulullah SAW juga memiliki qarin. Beliau menjawab bahwa beliau juga demikian, tetapi Allah SWT menolong beliau sehingga qarin tersebut tidak memerintahkan kecuali kepada kebaikan.

Hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan qarin adalah sesuatu yang perlu kita waspadai. Namun jangan sampai kita salah memahami bahwa setiap gangguan, setiap pikiran buruk, atau setiap kejahatan pasti berasal dari qarin.

Manusia tetap memiliki kehendak, akal, hawa nafsu, dan tanggung jawab atas pilihannya.

Bahkan Allah SWT memberikan kepada kita perlindungan melalui iman, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, dan ketaatan.

Ada sebuah hadis qudsi yang sangat indah tentang bagaimana Allah SWT memperlakukan hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila seorang hamba berniat melakukan keburukan tetapi tidak mengerjakannya, keburukan itu tidak dicatat sebagai dosa. Namun apabila ia benar-benar mengerjakannya, barulah dicatat sebagai satu keburukan. Sebaliknya, apabila ia berniat melakukan kebaikan, maka kebaikan itu dapat dicatat meskipun belum dikerjakan; dan jika dikerjakan, pahalanya dilipatgandakan. (HR. Muslim)

Hadis ini jangan dipahami bahwa setiap pikiran buruk pasti berasal dari syaitan. Tidak demikian. Manusia sendiri dapat memiliki lintasan pikiran, dorongan hawa nafsu, atau keinginan yang buruk.

Tetapi syaitan memang membisikkan dan memperindah keburukan agar manusia terdorong untuk melakukannya.

Karena itu, ketika muncul dorongan melakukan keburukan, jangan langsung diikuti. Berhenti. Ingat Allah. Istighfar. Berwudhu. Tinggalkan lingkungan yang mendorong dosa. Dan jangan memberi kesempatan kepada bisikan itu berkembang menjadi tindakan.

Lalu muncul pertanyaan penting: Bolehkah berteman dengan syaitan?

Allah SWT justru memerintahkan kita menjadikan syaitan sebagai musuh. Maka jangan sengaja mencari hubungan dengan jin melalui praktik perdukunan, ramalan, sihir, atau meminta bantuan makhluk gaib untuk mendapatkan sesuatu yang tidak dibenarkan syariat.

Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras tentang mendatangi para peramal atau kahin. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Nabi SAW menjelaskan bahwa apa yang disampaikan oleh para kahin dapat bercampur dengan kebohongan yang sangat banyak.

Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mencari pertolongan kepada jin atau dukun untuk mengetahui perkara gaib, mencari kekayaan, membalas dendam, mendapatkan pengasihan, maupun menyelesaikan persoalan kehidupan.

Namun ada bentuk “berteman dengan syaitan” yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Ketika seseorang mengetahui kebenaran tetapi terus memilih kebatilan, ia sedang mengikuti jalan syaitan.

Ketika seseorang korupsi, menipu, memakan harta orang lain, menyebarkan fitnah, merusak rumah tangga orang, mengadu domba, melakukan kezaliman, atau menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, maka perilakunya sedang sejalan dengan apa yang dikehendaki syaitan.

Rasulullah SAW bahkan menjelaskan bahwa salah satu keberhasilan besar bagi syaitan adalah ketika ia berhasil menimbulkan perpecahan di antara manusia, termasuk merusak hubungan suami dan istri. Dalam Sahih Muslim disebutkan bahwa Iblis sangat menghargai pengikutnya yang berhasil menanamkan perselisihan di antara manusia.

Maka jangan kita mengira syaitan hanya bekerja di tempat-tempat gelap atau melalui perkara-perkara mistis.

Syaitan juga bekerja di rumah kita.
Syaitan bisa bekerja di kantor kita.
Syaitan bisa bekerja di organisasi kita.
Syaitan bisa bekerja di media sosial kita.
Bahkan syaitan bisa bekerja melalui lisan kita.

Ketika satu berita belum jelas langsung kita sebarkan, ketika kita senang melihat orang lain jatuh, ketika kita memelihara dendam, ketika kita mengadu domba dua orang, ketika kita merasa paling benar dan merendahkan orang lain, kita harus berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:
“Jangan-jangan saya sedang membantu pekerjaan syaitan?”

Karena itu, manusia dapat menjadi “syaitan manusia” apabila ia memilih jalan penyesatan, kejahatan, dan permusuhan terhadap kebenaran. QS. Al-An‘am ayat 112 secara jelas menyebut syayathin al-ins—syaitan dari kalangan manusia.

Jadi, yang harus kita takuti bukan hanya “syaitan di luar diri kita”, tetapi juga sifat-sifat syaitan yang mulai tumbuh dalam diri kita.

Iblis memiliki sifat sombong. Maka kita harus memerangi kesombongan.

Iblis membangkang terhadap perintah Allah. Maka kita harus membiasakan diri taat.

Syaitan menipu dengan memperindah keburukan. Maka kita harus belajar membedakan antara yang benar-benar baik dengan sesuatu yang hanya terlihat baik.

Syaitan menebarkan permusuhan. Maka kita harus menjadi orang yang mendamaikan.

Syaitan mengajak manusia menjauh dari Allah. Maka kita harus memperkuat hubungan dengan Allah melalui shalat, Al-Qur’an, dzikir, doa, dan amal saleh.

Allah SWT tidak membiarkan kita menghadapi godaan syaitan tanpa perlindungan. Al-Qur’an mengajarkan agar kita berlindung kepada Allah dari bisikan syaitan. Ketika membaca Al-Qur’an, kita diperintahkan membaca isti‘adzah: A‘udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.

Kita juga harus memperkuat iman, menjaga shalat, memperbanyak dzikir, menjaga pergaulan, mengendalikan hawa nafsu, dan berhati-hati terhadap langkah-langkah kecil menuju kemaksiatan.

Sebab syaitan tidak selalu mengajak manusia melompat langsung ke jurang dosa. Ia sering mengajak manusia selangkah demi selangkah.

Allah SWT berfirman:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Perhatikan kata “langkah-langkah”. Ini menunjukkan bahwa penyesatan sering terjadi secara bertahap. Awalnya hanya melihat. Kemudian tertarik. Lalu mencoba. Setelah itu terbiasa. Akhirnya menjadi kecanduan dan sulit meninggalkannya.

Karena itu, jangan menunggu dosa menjadi besar untuk berhenti. Putuslah sejak langkah pertama.

Pada akhirnya, pertanyaan “bolehkah berteman dengan syaitan?” bukan hanya pertanyaan tentang jin atau Iblis. Ini adalah pertanyaan tentang siapa yang kita ikuti dalam kehidupan ini.

Apakah kita mengikuti petunjuk Allah atau bisikan syaitan?
Apakah kita memilih kejujuran atau kebohongan?
Apakah kita memilih amanah atau pengkhianatan?
Apakah kita memilih persaudaraan atau permusuhan?
Apakah kita memilih kesederhanaan atau keserakahan?
Apakah kita memilih ketakwaan atau memperturutkan hawa nafsu?

Allah SWT sudah memberikan jawabannya dengan sangat jelas:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fatir: 6)

Maka jangan berteman dengan syaitan. Jangan pula menjadi “teman” bagi pekerjaan syaitan.

Jadilah manusia yang menjadi sahabat bagi kebaikan, penebar kedamaian, penjaga amanah, pembela kebenaran, dan hamba yang semakin dekat kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT melindungi kita, keluarga kita, dan generasi kita dari godaan syaitan yang terkutuk. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mengenali bisikan keburukan, keberanian untuk menolaknya, dan istiqamah untuk tetap berada di jalan-Nya.

اللهم إنا نعوذ بك من الشيطان الرجيم، ومن همزه ونفخه ونفثه.

Ya Allah, lindungilah kami dari godaan syaitan yang terkutuk. Bersihkan hati kami dari kesombongan, iri hati, dendam, kebencian, dan berbagai penyakit hati. Jadikan kami hamba-Mu yang taat, jujur, amanah, dan senantiasa mengikuti jalan-Mu.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close