
Banda Aceh, desernews.com
Ramadhan telah berlalu, namun semangat ibadah yang tumbuh selama sebulan penuh tidak seharusnya ikut pergi. Para ulama selalu mengingatkan bahwa tanda diterimanya sebuah amal adalah ketika Allah memberi taufik kepada seorang hamba untuk melanjutkan kebaikan setelahnya.
Pertanyaannya untuk kita pagi ini: Apa yang harus kita lakukan setelah Ramadhan? Amalan apa yang paling dicintai Allah sehingga layak untuk dipertahankan?
1. Amalan yang Paling Dicintai Allah: Istiqamah.
Dalam sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW melakukan satu amalan, beliau melakukannya secara terus-menerus.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus menerus, meskipun sedikit.”
Ini menunjukkan bahwa yang Allah lihat bukan hanya banyaknya, tapi kontinuitasnya. Kadang kita semangat luar biasa di bulan Ramadhan, tetapi setelah Ramadhan sering kembali kosong. Padahal, Allah mencintai amalan kecil namun konsisten, walaupun hanya dua rakaat, walaupun hanya beberapa lembar Al-Qur’an, tetapi istiqamah.
2. Dua Ibadah yang Sangat Layak Dilestarikan: Qiyamul Lail & Infak
A. Shalat Malam (Qiyamul Lail)
Rasulullah SAW bersabda:
“Jangan kalian tinggalkan shalat malam. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah meninggalkannya. Bahkan ketika beliau sakit atau kelelahan, beliau tetap melakukannya sambil duduk.”
Apa istimewanya shalat malam?
Karena saat manusia terlelap, seorang hamba bangun mengetuk pintu langit. Itulah waktu ketika Allah memanggil:
“Adakah hamba-Ku yang meminta? Akan Aku berikan.Adakah yang memohon ampun? Akan Aku ampuni.”
Qiyamul lail adalah rahasia kekuatan seorang mukmin. Bukan hanya ibadah, tetapi sumber ketenangan jiwa.
B. Infak & Sedekah
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, dan pada setiap bulir seratus biji…”
Sedekah tidak pernah membuat kita miskin. Justru sedekahlah yang mengundang rezeki, meredam bala, dan membuka pintu kemudahan yang tidak pernah kita duga. Ramadhan memang telah berlalu, tetapi pahala sedekah tidak mengenal bulan.
3. Tujuh Golongan yang Dinaungi Allah pada Hari Kiamat
Di hari ketika panas matahari didekatkan sejauh satu mil, ketika manusia kebingungan dan tidak ada tempat berlindung, Allah memberikan naungan hanya kepada tujuh golongan hamba-Nya:
1. Pemimpin yang adil. Tidak zalim, tidak pilih kasih, memutuskan perkara dengan jujur.
2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah. Masa muda adalah masa penuh godaan; ketika pemuda memilih taat, kedudukannya amat mulia.
3. Laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid. Hatinya rindu kembali ke rumah Allah.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berjumpa dan berpisah karena iman, bukan urusan dunia.
5. Laki-laki yang menolak ajakan perempuan cantik dan terpandang. Ia berkata, “Aku takut kepada Allah.”
6. Orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Ikhlas, tidak pamer, tidak ingin diketahui.
7. Laki-laki yang bermunajat di keheningan malam. Ketika mata manusia terlelap, ia berdoa hingga meneteskan air mata.
Ramadhan mungkin sudah pergi, tetapi Rabb-nya Ramadhan tidak pernah pergi.Ia tetap melihat kita, tetap membuka pintu ampunan, tetap menerima amal-amal kecil yang kita lakukan setiap hari.
Mari kita jaga dua hal:
Qiyamul lail, walau hanya 2 rakaat.
Sedekah, walau hanya seribu rupiah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah, dicintai-Nya, dan termasuk salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan di hari kiamat. (T. Jamaluddin)




