Nusantara

Akhsan Arief, Sosok Pendidik yang Mengabdi Tanpa Banyak Publikasi, Empat Tahun Menakhodai SMAN 1 Panti

‎Siswa/i SMAN 1 Panti saat melaksanakan upacara kenaikan Bendera Merah Putih yang dipimpin Kapolsek Panti, Iptu Arifin.

‎
‎Pasaman (Panti), desernews.com
‎Ditengah dunia pendidikan yang semakin terbuka dan menuntut setiap capaian untuk dipublikasikan, namun masih ada sosok pendidik yang justru memilih bekerja dalam kesunyian, jauh dari sorotan publik. Salah satunya adalah Akhsan Arief, M.Pd, Kepala SMAN 1 Panti, Kabupaten Pasaman.
‎
‎Selama kurang lebih empat tahun dipercaya memimpin SMAN 1 Panti, Akhsan Arief dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak menjadikan jabatan maupun publikasi sebagai tujuan utama dalam menjalankan amanah pendidikan.
‎
‎Bahkan, ketika wartawan Desernews.com berkunjung ke SMAN 1 Panti untuk menyusun profil sekolah sekaligus merekam perjalanan kariernya sebagai seorang pendidik, Akhsan Arief sempat menyampaikan bahwa dirinya tidak terlalu berkenan jika sekolah maupun dirinya terlalu banyak dipublikasikan.
‎
‎”Saya sebenarnya tidak suka dipublikasikan. Di sekolah saya ini tidak ada prestasi yang menonjol, standar saja, biasa-biasa saja,” ujar Akhsan Arief.
‎Sikap tersebut memperlihatkan karakter seorang birokrat pendidikan yang lebih menempatkan pengabdian dan tanggung jawab sebagai bagian utama dari pekerjaannya, bukan mengejar popularitas.
‎
‎Namun demikian, penelusuran terhadap perjalanan SMAN 1 Panti menunjukkan bahwa sekolah tersebut bukan tanpa capaian. Laman resmi SMAN 1 Panti mencatat bahwa pada FLS3N tingkat Kabupaten Pasaman 2026, sejumlah siswinya berhasil meraih juara pertama dalam cabang komik digital, cipta puisi, jurnalistik dan tari kreasi.
‎
‎Empat Tahun Memimpin SMAN 1 Panti
‎
‎Saat ini SMAN 1 Panti memiliki sekitar 590 siswa, dengan jumlah peserta didik baru tahun pelajaran 2026/2027 mencapai sekitar 205 siswa. Jumlah peserta didik baru tersebut relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penerimaan sekitar enam rombongan belajar.
‎
‎Secara kelembagaan, sekolah memiliki sekitar 18 ruang kelas, didukung kurang lebih 40 orang guru dan sekitar enam tenaga kependidikan.
‎Data resmi sekolah juga mencatat SMAN 1 Panti sebagai sekolah negeri yang berada di Jalan Ekonomi No. 123, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, dengan NPSN 10300829. Sekolah tersebut mulai beroperasi pada 1993 dan sebelumnya merupakan kelas jauh dari SMAN 1 Rao.Akhsan Arief merupakan kepala sekolah kedelapan dalam perjalanan sejarah SMAN 1 Panti.
‎
‎Ia diperkirakan masih memiliki masa pengabdian sekitar dua setengah tahun sebelum memasuki masa pensiun. Dengan demikian, pengalaman panjangnya di dunia pendidikan menjadi modal penting dalam menjaga kesinambungan proses pembelajaran dan pembinaan peserta didik di sekolah tersebut.
‎
‎Karier Pendidikan Sejak 1991
‎
‎Perjalanan Akhsan Arief sebagai pendidik tergolong panjang. Ia mulai mengabdikan diri sebagai guru pada 1991 di SMAN 1 Rao dan selama sekitar 17 tahun menjalankan tugas sebagai guru.
‎
‎Setelah itu, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala SMPN 1 Simpati selama kurang lebih dua setengah tahun. Pengabdiannya kemudian berlanjut sebagai Kepala SMPN 1 Bonjol selama sekitar sembilan tahun.
‎
‎Dari Bonjol, ia kemudian dipercaya memimpin SMAN 2 Lubuk Sikaping selama kurang lebih enam bulan. Setelah itu, ia mendapat penugasan di Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman selama sekitar sembilan bulan.
‎
‎Karier kepemimpinannya kembali berlanjut ketika dipercaya memimpin SMPN 1 Lubuk Sikaping selama kurang lebih satu tahun. Setelah itu, ia bertugas di SMAN 3 Sumatera Barat di Lubuk Sikaping selama sekitar empat tahun sebelum akhirnya dipercaya memimpin SMAN 1 Panti.
‎
‎Rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa Akhsan Arief bukanlah sosok yang tiba-tiba hadir dalam dunia manajemen pendidikan. Sebaliknya, ia tumbuh melalui proses panjang sebagai guru, kepala sekolah dan pejabat pendidikan.
‎
‎Catatan resmi SMAN 1 Panti juga mencantumkan Akhsan Arief, M.Pd sebagai kepala sekolah, lengkap dengan NIP 196901181991011001.
‎
‎”Saya Tidak Pernah Meminta Jabatan”
‎
‎Dalam perbincangan dengan wartawan, Akhsan Arief juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menjadikan jabatan sebagai sesuatu yang harus dikejar.
‎Menurutnya, setiap penugasan yang diberikan pimpinan diterima sebagai bagian dari amanah dan tanggung jawab sebagai seorang aparatur sekaligus pendidik.
‎
‎”Saya tidak pernah meminta-minta jabatan, misalnya agar saya diangkat menjadi kepala sekolah. Saya tidak mau seperti itu. Saya hanya pasrah dan menyerahkan kepada pimpinan, jabatan apa yang akan diberikan, saya terima,” tuturnya.
‎
‎Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan filosofi kepemimpinan yang dijalaninya, menerima amanah, melaksanakan tugas dan mempertanggungjawabkannya tanpa harus menjadikan jabatan sebagai panggung untuk memperoleh pengakuan.
‎
‎Tidak Mengejar Publikasi
‎
‎Keengganan Akhsan Arief untuk dipublikasikan menjadi sisi menarik tersendiri dalam perjalanan jurnalistik Desernews.com.

‎”Saya banyak didatangi wartawan. Mereka menanyakan, apa yang mau dipublikasikan? Saya bilang tidak ada, karena saya memang tidak suka untuk dipublikasikan,” katanya.
‎
‎Namun, ketika wartawan menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bukan semata-mata untuk mencari sensasi pemberitaan, melainkan mendokumentasikan profil sekolah dan perjalanan panjang seorang pendidik, Akhsan Arief akhirnya bersedia menceritakan perjalanan kariernya.
‎
‎Sikap rendah hati tersebut patut dilihat dalam konteks yang lebih luas. Sebab, tidak semua keberhasilan pendidikan harus selalu diukur dari seberapa sering seorang kepala sekolah tampil di media. Ada pula kerja-kerja pendidikan yang berlangsung setiap hari di ruang kelas, melalui pembinaan guru, pengelolaan sekolah, pendampingan siswa dan penciptaan lingkungan belajar yang kondusif.
‎
‎Menjaga Tradisi Pendidikan dan Karakter
‎
‎Sebagai sekolah yang telah beroperasi sejak 1993, SMAN 1 Panti telah melalui perjalanan panjang dan pergantian sejumlah kepala sekolah. Kehadiran Akhsan Arief menjadi bagian dari kesinambungan sejarah tersebut. Visi sekolah yang mengedepankan peserta didik berkarakter, cerdas, terampil, peduli lingkungan serta dilandasi iman dan takwa menjadi bagian penting dari arah pendidikan SMAN 1 Panti.
‎
‎Dalam kunjungan Desernews.com, salah satu sisi yang cukup menarik perhatian adalah keberadaan mushala sekolah. Fasilitas ibadah tersebut terlihat cukup luas, bersih dan tertata, serta dilengkapi tempat wudu yang nyaman.Wartawan bahkan berkesempatan melaksanakan salat Zuhur berjamaah bersama siswa siswi dan Akhsan Arief di mushala sekolah.
‎
‎Suasana tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan di sekolah tidak semata-mata berbicara mengenai angka akademik, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter, kedisiplinan, kebersamaan dan penguatan nilai-nilai keagamaan.
‎
‎Gubernur Sumbar dan Kepercayaan kepada Rekam Jejak Pendidik
‎
‎Kepercayaan pemerintah daerah kepada Akhsan Arief untuk memimpin SMAN 1 Panti dapat dipandang dalam konteks perjalanan panjangnya sebagai pendidik dan pengelola satuan pendidikan. ‎Rekam jejak yang dimulai sejak 1991 menunjukkan bahwa lebih dari tiga dekade kehidupannya telah dihabiskan dalam dunia pendidikan.
‎
‎Karena itu, meskipun Akhsan Arief sendiri memilih untuk tidak membesar-besarkan capaian maupun perjalanan kariernya, rekam jejak tersebut tetap memiliki nilai dokumenter dan layak diketahui publik sebagai bagian dari sejarah pendidikan di Kabupaten Pasaman.
‎
‎Bagi seorang pendidik, pengabdian tidak selalu harus hadir dalam bentuk seremoni dan publikasi. Kadang-kadang, pengabdian justru tumbuh dari rutinitas sederhana: datang ke sekolah, memastikan guru mengajar, mendampingi siswa, menjaga fasilitas, membangun kedisiplinan dan memastikan proses pendidikan berjalan sebagaimana mestinya.Di situlah sosok Akhsan Arief menempatkan dirinya.
‎
‎Menjelang sekitar dua setengah tahun masa pengabdiannya sebelum pensiun, perjalanan Akhsan Arief di SMAN 1 Panti masih terus berlangsung. Dan seperti yang ia sampaikan sendiri, ia memilih menjalankan amanah tersebut secara sederhana, tanpa banyak bicara, tanpa meminta dipuji dan tanpa menjadikan jabatan sebagai tujuan.
‎
‎Bagi dunia pendidikan, mungkin justru karakter seperti inilah yang sering kali bekerja dalam diam, tetapi meninggalkan jejak dalam perjalanan panjang sebuah sekolah.
‎
‎Akhsan Arief kepada Desernews.com mengatakan dia berharap agar profil SMAN 1 Panti tidak dipublikasikan,namun karena tujuan awal wartawan melangkahkan kakinya ke Panti untuk membuat profil SMAN 1 Panti.
‎
‎Namun bila Akhsan Arief tidak berkenan dengan tayangnya profil ini Desernews.com menyampaikan permohonan maaf (H.Eddi Gultom)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close