Akses Jalan Provinsi Pasaman-Pasaman Barat Lumpuh, Warga Pertanyakan Keseriusan Pemerintah Tangani Ruas Jalan yang Rusak Pascabencana

Pasaman, desernews.com
Akses jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Pasaman dengan Kabupaten Pasaman Barat kembali mengalami gangguan serius setelah sebuah truk tronton bermuatan berondolan kelapa sawit terperosok di ruas jalan rusak antara Kampung Baru dan Kampung Tengah, Kecamatan Dua Koto, Sabtu (20/6/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.
Peristiwa tersebut kembali memperlihatkan rapuhnya kondisi infrastruktur jalan yang hingga kini belum mendapat penanganan optimal pascabencana alam yang melanda kawasan itu pada Desember 2025 lalu.
Akibat kejadian tersebut, arus transportasi barang dan penumpang di jalur strategis penghubung dua kabupaten itu praktis terganggu.
Berdasarkan pantauan wartawan pada Senin (22/6/2026) pagi, kendaraan roda enam ke atas masih belum dapat melintasi lokasi. Hanya kendaraan roda empat dan sepeda motor yang dapat melintas dengan sangat hati-hati.

Sementara itu, antrean panjang kendaraan tampak mengular dari kedua arah, baik dari Pasaman Barat menuju Pasaman maupun sebaliknya.
Di antara kendaraan yang terjebak antrean terlihat sejumlah truk pengangkut barang serta satu unit bus ALS nomor pintu 177 yang melayani rute Medan–Ujung Gading.
Para penumpang mengaku telah tiba di lokasi sejak Minggu (21/6/2026) sekitar pukul 16.00 WIB dan terpaksa menginap semalam di dalam bus karena belum dapat melanjutkan perjalanan.
”Kami sudah berada di sini sejak kemarin sore. Sampai sekarang belum ada kepastian kapan kendaraan bisa melintas,” ujar salah seorang penumpang.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai keseriusan pemerintah dalam menangani ruas jalan yang memiliki peran vital bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di wilayah Pasaman dan Pasaman Barat.

Padahal, kerusakan jalan akibat bencana telah berlangsung berbulan-bulan, namun hingga kini masih menyisakan titik-titik rawan yang berpotensi menghambat arus transportasi kapan saja.
Lebih memprihatinkan lagi, hingga berita ini dikirim ke redaksi belum terlihat adanya upaya maksimal untuk mengevakuasi truk tronton yang terjebak. Lambannya penanganan di lapangan dinilai dapat memperpanjang kemacetan dan menambah kerugian bagi masyarakat, pengusaha angkutan, maupun para penumpang yang terdampak.
Jalur tersebut bukan sekadar penghubung antarwilayah, melainkan urat nadi perekonomian yang setiap hari dilalui kendaraan pengangkut hasil pertanian, perkebunan, serta kebutuhan pokok masyarakat.
Karena itu, keterlambatan penanganan kerusakan jalan dan evakuasi kendaraan yang menghalangi akses dinilai sebagai bentuk kelalaian yang tidak boleh terus dibiarkan.
Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama instansi terkait segera mengambil langkah cepat dan konkret, baik untuk mengevakuasi kendaraan yang terjebak maupun mempercepat perbaikan permanen pada ruas jalan yang rusak.

Tanpa tindakan nyata, dikhawatirkan kejadian serupa akan terus berulang dan semakin menghambat roda perekonomian masyarakat di dua kabupaten tersebut.
Berbagai kalangan menilai bahwa keselamatan pengguna jalan dan kelancaran transportasi publik harus menjadi prioritas utama pemerintah.
Sebab, infrastruktur yang layak bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bentuk nyata kehadiran negara dalam melayani dan melindungi kepentingan masyarakat.(H.Eddi Gultom)




