Fungsi Kolam Jadi Lahan Jagung, Harga Ikan Air Tawar Melonjak Tajam

Pasaman, desernews.com
Harga ikan air tawar di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga ini dipicu berkurangnya produksi ikan kolam akibat banyaknya petani tambak yang mengalihkan usahanya ke sektor pertanian jagung dan hortikultura.
Pantauan di lapangan, harga ikan nila dan lele yang sebelumnya berada di kisaran harga normal kini naik signifikan. Para pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dari petani lokal karena banyak kolam ikan yang sudah berubah fungsi menjadi lahan tanaman jagung.
“Sekarang ikan susah didapat. Banyak kolam yang sudah jadi kebun jagung. Mau tidak mau, harga kami naikkan karena barang terbatas,” ujar salah seorang pedagang ikan di pasar tradisional setempat.
Sejumlah petani mengakui bahwa tingginya harga pakan ikan atau pelet menjadi alasan utama mereka meninggalkan usaha budidaya ikan.
Biaya produksi yang terus meningkat tidak sebanding dengan harga jual ikan di tingkat petani, sehingga keuntungan semakin menipis bahkan merugi.
Pakan mahal, biaya operasional tinggi.
Kalau jagung, modalnya lebih ringan dan hasilnya lebih pasti. Jadi banyak yang beralih,” ungkap seorang mantan petani kolam yang kini menanam jagung di lahan bekas tambaknya.
Akibat alih fungsi tersebut, suplai ikan air tawar di pasaran menurun drastis. Kondisi ini berdampak langsung pada lonjakan harga yang dirasakan masyarakat sebagai konsumen akhir.
Ikan nila yang ukuran 3 ekor 1 kg yang biasanya Rp 30 ribu sekarang menjadi Rp.40 ribu. Ikan mas yang biasanya Rp.30 ribu/kg menjadi 38 ribu. Ikan patin yang biasanya Rp 30/kg menjadi Rp 35 / kg.
Bahkan beberapa pedagang terpaksa mengambil pasokan dari luar daerah dengan harga yang lebih tinggi.
Tokoh masyarakat setempat berharap pemerintah daerah segera turun tangan mencari solusi, terutama terkait stabilitas harga pakan ikan dan dukungan bagi petani tambak agar kembali bergairah membudidayakan ikan.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi, dikhawatirkan harga ikan air tawar akan semakin tidak terkendali dan memberatkan daya beli masyarakat, sekaligus mengancam ketahanan pangan sektor perikanan air tawar di daerah Pasaman dan Pasaman Barat. (H.Eddi Gultom)




