Toleransi Antar Umat Beragama di Aceh

Banda Aceh, desernews.com
Intoleransi adalah sikap tidak mau menerima, menghargai, atau menghormati perbedaan, baik dalam hal agama, keyakinan, pandangan, maupun latar belakang sosial dan budaya. Intoleransi biasanya ditandai dengan adanya penolakan, prasangka, bahkan perlakuan tidak adil terhadap pihak lain yang dianggap berbeda.
Hal itu disampaikan oleh Ustazd T. Azhar Ibrahim LC, M.Sos pada Kajian Dzuha di Kampus Universitas Ahmad Dahlan Aceh Pada Hari Jum’at, 10 April 2026.
Dihadapan Mahasiswa dan Dosen UAD Aceh, Ustazd Teuku Azhar menyampaikan, dalam konteks kehidupan beragama, intoleransi muncul ketika seseorang merasa paling benar sendiri, lalu menutup diri dari pemahaman orang lain, bahkan sampai merendahkan atau memusuhi perbedaan tersebut.
Secara sederhana, intoleransi bukan sekadar perbedaan pendapat, tetapi ketidakmampuan untuk hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan.
Intoleransi tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya:
Pertama, faktor keterbatasan pengetahuan.
Sebagian orang memahami agama hanya dari satu sudut pandang, misalnya hanya mengenal satu mazhab tanpa membuka diri terhadap perbedaan. Akibatnya, perbedaan dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai rahmat.
Kedua, adanya kepentingan tertentu.
Dalam sejarah, agama kadang dijadikan alat untuk meraih kekuasaan, baik dalam bentuk ekonomi, politik, maupun jabatan.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di lingkungan kita, tetapi juga pernah terjadi diluar, seperti dalam sejarah lahirnya sekularisme di Barat akibat dominasi lembaga keagamaan pada masa itu.
Namun demikian, hadirin yang berbahagia, jika kita melihat Aceh sebagai contoh, kita akan menemukan nilai yang sangat berharga.
Secara umum, Aceh dikenal sebagai daerah yang relatif aman dalam hal hubungan antar umat beragama. Bahkan sejak zaman penjajahan Belanda hingga masa konflik bersenjata, tidak banyak terjadi penyerangan terhadap kelompok agama lain.
Hal ini pernah diakui oleh seorang pendeta dalam sebuah wawancara.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Karena masyarakat Aceh memiliki budaya keterbukaan dan penghormatan terhadap sesama.
Contoh sederhana, ketika orang Aceh berkumpul dan berbicara dengan bahasa daerah, lalu datang orang dari suku lain, maka mereka dengan sadar mengganti bahasa menjadi bahasa Indonesia agar semua bisa memahami. Ini adalah bentuk toleransi yang hidup dalam keseharian.
Dalam sejarah kepemimpinan Aceh pun, kita melihat keterbukaan itu. Beberapa pemimpin berasal dari luar, seperti Sultan Alaiddin Syah dari Perlis, serta tokoh-tokoh lain yang memiliki keturunan Arab. Ini menunjukkan bahwa Aceh tidak tertutup terhadap perbedaan asal-usul.
Begitu juga dengan keberagaman etnis di berbagai daerah seperti Subulussalam. Bahkan dalam sejarah, ketika terjadi konflik, dibentuklah sistem seperti tuha peut, yang mewakili berbagai unsur masyarakat; Arab, Melayu, dan lainnya, sebagai upaya menjaga keseimbangan dan kedamaian.
Kita juga bisa belajar dari tempat lain, seperti di Mesir, di mana umat Islam hidup berdampingan dengan sekitar 15% penduduk beragama Kristen. Di sana, umat Islam bebas memilih mazhab, dan kerukunan tetap terjaga.
Semua ini menunjukkan bahwa toleransi bukan hal yang mustahil, tetapi sesuatu yang bisa dibangun.
Peran tokoh masyarakat juga sangat penting. Nilai-nilai adat seperti “adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala” mengajarkan keseimbangan antara adat dan syariat. Tokoh-tokoh seperti Abu Tumin dikenal dengan pemikiran yang moderat dan mampu merawat harmoni di tengah masyarakat.
Namun kita juga harus menyadari bahwa perbedaan, terutama perbedaan agama, dapat mempengaruhi komunikasi jika tidak dikelola dengan baik.
Di beberapa tempat, perbedaan menjadi sumber konflik. Namun di tempat lain, justru menjadi kekuatan. Misalnya di daerah Danau Paris, terdapat masyarakat yang bisa hidup dalam satu atap dengan empat agama berbeda, dan tetap rukun sejak tahun 1980-an. Bahkan anak-anak dari keluarga non-Muslim ada yang bersekolah di lembaga Islam karena melihat nilai akhlak yang baik, dan orang tua mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Ada beberapa faktor yang membuat toleransi bisa terjaga:
1. Keterpaksaan, di mana orang belajar hidup berdampingan karena kondisi.
2. Pengalaman melihat akhlak yang baik, sehingga muncul penghargaan terhadap perbedaan.
3. Ikatan keluarga, meskipun berbeda agama, hubungan darah menjaga kedamaian.
4. Ikatan adat, yang mengajarkan kehati-hatian dalam berkomunikasi dan saling menghormati.
5. Bijak dalam menjaga isu sensitif, tidak memperdebatkan hal-hal yang bisa memicu konflik, khususnya isu agama.
Dari semua uraian ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa toleransi bukan berarti mengaburkan keyakinan, tetapi menghormati perbedaan tanpa kehilangan prinsip.
Mari kita jaga nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan kita di keluarga, di masyarakat, dan di lingkungan kita, agar Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi pribadi yang bijak, terbuka, dan penuh kasih dalam menyikapi perbedaan. (T. Jamaluddin)




