Daerah

Suara Petasan vs Suara Tadarus Al-Qur’an

Oleh: Sofyan
Suara Petasan, meriam bambu, kerap terdengar saat Ramadhan tiba. Ironisnya, suara itu terdengar jelas dan kuat saat umat Islam melaksanakan shalat tarawih dan subuh. Entah, apa maksudnya membunyikan dan meledakkannya saat umat Islam beribadah mendekatkan diri pada-Nya.

Biasa anak-anak yang doyan melakukanya. Sejatinya anak-anak diedukasi diberi bimbingan di sekolah, takmir masjid menghimbau supaya tidak meledakkan, orang tua memberikan nasihat untuk tidak menggangu orang yang ibadah serta pihak keamanan siaga mengamankan penjual petasan.

Suara lain yang sering didengar saat Ramadhan adalah suara lantunan kalam ilaihi yang kita dengar melalui toa masjid saat umat Islam telah melaksanakan shalat subuh dan malam setelah shalat tarawih.

Yang kita dengar di telinga sama-sama suara, namun tentu berbeda bentuk suaranya. Yang satu suara tanpa makna, yang hanya membuat telinga pekak, jantung mau copot dan emosipun naik mendengarnya.

Sedangkan suara satunya lagi lantunan dari kitab suci Al-Qur’an, kitab yang tidak ada keraguan dan menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Sejatinya, mereka yang mendengarkanya mendapat kedamaian, kesejukan, pahala dan rahmat Tuhan,”Dan apabila dibacakan ayat-ayat Alquran maka dengarkan dan diamlah semoga kamu mendapatkan rahmat”.

Alquran berasal dari kata qara-yaqrau artinya membaca, bacaan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Muslim harus menjadikan Alquran sebagai bacaan wajib tiada terputus. Kewajiban seorang Muslim terhadap Alquran ada empat, belajar Alquran, memahami kandungan maknanya, mengajarkan dan mengamalkan.

Nabi saw berpesan,”Baca Alquran karena dia akan datang pada hari kiamat menjadi penolong bagi si pembaca”. Kalau Nabi yang menyuruh sejatinya kita kerjakan, kita taati sami’na wa ata’na, karena yang keluar dari lisan Nabi sahih, dan bukan kebalikannya sami’na wa ‘asaina di dengar tapi diingkari.

Ini yang banyak terjadi di kalangan umat Islam tidak mau menjalankan perintah Nabi dengan bermacam alasan. Yang tidak punya waktulah, yang tidak pandai mengajilah dan ribuan alasan yang dibuat-buat.

Siapkan waktu untuk mengaji, karena kalau tidak disiapkan sampai kapanpun tak punya waktu untuk mengaji. Terakhir udah jadi mayat, saat udah mati baru dibacakan orang Alquran.

Alquran tu dibaca saat kita masih hidup, bukan dah mati. Terputus amal kalau dah dijeput malaikat nyawa ni.

Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Alquran, maka banyak kita mengaji di bulan ni, kalau bisa tiga hari khatam, tiga hari khatam. Kalau tak pandai,”belajarlah” inilah makna tadarus yaitu belajar. Merugilah kalau tak dapat syafaat dari Alquran.

Allah memiliki keluarga di dunia ini, keluarga-Nya adalah ahlul Qur’an yaitu mereka yang membaca, menghafal, memahami, belajar, mengajarkan, mengamalkan Alquran. Jadilah bagian dari keluarga Allah di dunia.

Akhirnya, suara lantunan ayat Qur’an yang kita dengar melalui toa terkadang kurang mengenakkan kita, tapi jadikan sebagai motivasi untuk mencintai Alquran. Jangan kita marah Yo mendengarkannya, karena dapat pahala mendengar bacaan tersebut. Waalaikum a’lam.

Penulis adalah Pembina Yayasan Pendidikan dan Sosial Ummi Sasmini Solihah Klambir Lima

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close