SMPN 5 Dua Koto Menatap Masa Depan: Butuh Perhatian dan Sinergi untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas di Pelosok Pasaman

Pasaman, desernews.com
Ditengah semangat Pemerintah Kabupaten Pasaman membangun sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, SMP Negeri 5 Dua Koto di Muara Tambangan, Jorong Sungai Beremas, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Dua Koto, terus berupaya memberikan layanan pendidikan terbaik bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Sekolah yang lahir dari semangat pemerataan akses pendidikan itu kini memasuki babak baru. Dengan berbagai keterbatasan sarana dan prasarana, SMPN 5 Dua Koto tetap menunjukkan komitmen kuat untuk mendidik generasi muda dan menjadi bagian penting dalam mewujudkan cita-cita besar Pasaman Bangkit.
SMPN 5 Dua Koto mulai berdiri pada Tahun Pelajaran 2008/2009 dengan status sebagai Unit Sekolah Satu Atap, bergabung dengan SDN 01 Sungai Beremas.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tingkat menengah pertama, pada tahun 2010 sekolah tersebut resmi berubah menjadi sekolah reguler dan berdiri secara mandiri.
Hingga Tahun Pelajaran 2025/2026, SMPN 5 Dua Koto telah berhasil menamatkan siswa untuk yang ke-16 kalinya. Estafet kepemimpinan sekolah kini berada di tangan Iskandar, S.Pd., M.M., yang dilantik oleh Bupati Pasaman Welly Suhery, S.T. pada 20 Juli 2026.
Kehadiran Iskandar sebagai kepala sekolah baru diharapkan mampu membawa energi positif sekaligus memperkuat tata kelola sekolah, meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperjuangkan pemenuhan sarana prasarana yang selama ini menjadi kebutuhan mendesak.

Sarana Prasarana Masih Terbatas
Sejak berdiri sebagai sekolah satu atap pada 2008 hingga menjadi sekolah reguler pada 2010, SMPN 5 Dua Koto pada awalnya hanya memiliki tiga ruang kelas belajar, satu ruang perpustakaan dan satu ruang majelis guru.
Saat ini sekolah memiliki sembilan orang guru yang terdiri dari empat PNS, tiga PPPK dan dua tenaga honorer. Selain itu, terdapat dua tenaga tata usaha yang masih berstatus honorer.
Dengan jumlah peserta didik sebanyak 51 orang, sekolah menerima dana BOS sekitar Rp56,1 juta per tahun. Kondisi tersebut membuat ruang gerak sekolah dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana menjadi sangat terbatas.
Dana BOS yang tersedia harus diprioritaskan untuk berbagai kebutuhan pokok sekolah, antara lain pengadaan buku perpustakaan, ATK, alat kebersihan, operasional sekolah serta pembayaran honor guru dan pegawai, termasuk tenaga paruh waktu dan honorer.
Di sisi lain, kebutuhan sarana pendidikan masih cukup banyak. SMPN 5 Dua Koto hingga kini belum memiliki laboratorium IPA, laboratorium TIK, kantor kepala sekolah dan tata usaha, mushalla, serta lapangan upacara, olahraga dan bermain yang representatif.
Ketersediaan air bersih juga sebelumnya menjadi persoalan serius. Sekolah masih mengandalkan penampungan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, berkat komunikasi dan kerja sama kepala sekolah, komite serta masyarakat, kini air telah berhasil dialirkan ke lingkungan sekolah.
Persoalan lainnya adalah fasilitas sanitasi. WC guru dan siswa belum memadai, bahkan kondisi WC siswa yang tersedia disebut sudah mengalami kerusakan berat.
Dalam proses pembelajaran, sekolah juga masih membutuhkan berbagai media pendukung seperti speaker aktif portabel atau perangkat pengeras suara. Keterbatasan jaringan telekomunikasi turut menjadi kendala karena kawasan sekolah belum terjangkau sinyal telepon seluler secara optimal. Untuk akses internet, sekolah saat ini masih mengandalkan jaringan kabel dengan penggunaan yang terbatas.

Kondisi Bangunan Membutuhkan Perhatian Serius
Yang menjadi perhatian utama adalah kondisi tiga ruang kelas yang digunakan untuk proses belajar-mengajar.
Sejumlah bagian konstruksi kayu, termasuk balok dan kuda-kuda, dilaporkan telah mengalami kerusakan akibat serangan rayap.
Ketika melakukan pemeriksaan ke bagian atas bangunan, Kepala SMPN 5 Dua Koto Iskandar menemukan banyak sarang rayap.
Kondisi tersebut tentu membutuhkan penanganan serius karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan peserta didik serta tenaga pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
Ruang majelis guru juga tidak luput dari persoalan. Beberapa bagian plafon telah mengalami kerusakan sehingga membutuhkan perbaikan agar lingkungan kerja para pendidik menjadi lebih layak.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Iskandar bersama jajaran guru dan komite sekolah. Namun, keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk berhenti bergerak.

Kepala Sekolah Aktif Berkoordinasi
Sejak dipercaya memimpin SMPN 5 Dua Koto, Iskandar bersama guru dan komite sekolah terus melakukan berbagai langkah strategis.
Diantaranya memastikan kondisi sarana dan prasarana yang tercatat dalam Dapodik sesuai dengan kondisi faktual di lapangan. Sekolah juga telah mengusulkan revitalisasi kepada pemerintah pusat melalui laman revitalisasi.
Namun, terdapat persoalan mendasar yang masih menjadi kendala, yakni status sertifikat tanah lokasi sekolah yang sejak 2008 hingga kini belum terselesaikan.
Padahal, sertifikat tanah menjadi salah satu persyaratan penting dalam pengusulan program revitalisasi sekolah.
Kepala sekolah telah melakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman melalui bidang sarana dan prasarana guna mencari solusi terhadap persoalan tersebut.
Kendala lain yang ditemukan adalah tidak tersedianya surat hibah tanah asli. Dokumen tersebut harus diproses kembali karena menjadi salah satu persyaratan dalam pengurusan sertifikat tanah.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa Iskandar tidak hanya berkonsentrasi pada kegiatan pembelajaran, tetapi juga berupaya membenahi aspek administrasi dan legalitas aset sekolah sebagai fondasi penting untuk membuka peluang pembangunan sarana pendidikan ke depan.

Mengapresiasi Perhatian Dinas Pendidikan dan Pemkab Pasaman
Di tengah berbagai keterbatasan itu, perhatian Pemerintah Kabupaten Pasaman terhadap pemerataan pendidikan patut mendapat apresiasi.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Muslim, S.Pd., M.Pd., sebagai salah satu figur penting dalam pengelolaan pendidikan daerah, diharapkan terus memperkuat koordinasi dengan sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil dan memiliki keterbatasan sarana.
Muslim dikenal memiliki tanggung jawab besar dalam menerjemahkan kebijakan pendidikan pemerintah daerah agar benar-benar menyentuh kebutuhan sekolah dan peserta didik hingga ke pelosok.
Terlebih lagi, visi pembangunan Bupati Pasaman Welly Suhery, S.T., yang menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian penting pembangunan daerah, tentu membutuhkan dukungan infrastruktur pendidikan yang memadai.
Pembangunan pendidikan tidak cukup hanya dengan meningkatkan kualitas guru dan peserta didik. Ketersediaan ruang belajar yang aman, laboratorium, sanitasi, air bersih, fasilitas olahraga, teknologi informasi serta lingkungan sekolah yang sehat juga merupakan bagian integral dari pendidikan berkualitas.
Karena itu, kondisi SMPN 5 Dua Koto layak menjadi perhatian bersama sebagai bagian dari upaya menghadirkan pemerataan pembangunan pendidikan di Kabupaten Pasaman.

Berharap Masuk Skala Prioritas
Untuk mempercepat pembenahan sekolah, pihak SMPN 5 Dua Koto juga telah melakukan komunikasi dengan sejumlah anggota DPRD Kabupaten Pasaman dari daerah pemilihan Dua Koto. Harapannya, kebutuhan sekolah dapat menjadi salah satu prioritas dalam pokok-pokok pikiran (Pokir) anggota DPRD.
Koordinasi dengan Dinas Pendidikan juga terus dilakukan agar SMPN 5 Dua Koto dapat dipertimbangkan dalam program perbaikan maupun pembangunan sarana pendidikan.
Kepala sekolah bersama komite dan masyarakat juga telah menggelar rapat untuk mencari solusi terhadap kebutuhan air bersih. Upaya tersebut membuahkan hasil dengan telah mengalirnya air ke lingkungan sekolah.
Langkah sederhana tetapi strategis tersebut menjadi bukti bahwa kemajuan sekolah tidak semata-mata bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan sinergi antara sekolah, pemerintah, komite, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.

Demi Pendidikan dan Pasaman Bangkit
SMPN 5 Dua Koto merupakan gambaran nyata bahwa semangat pendidikan di pelosok tidak pernah padam meskipun dibayangi keterbatasan.
Dengan dukungan kebijakan Pemerintah Kabupaten Pasaman di bawah kepemimpinan Bupati Welly Suhery, perhatian serius Dinas Pendidikan yang dipimpin Muslim, S.Pd., M.Pd., serta kerja keras Kepala SMPN 5 Dua Koto Iskandar, S.Pd., M.M. bersama para guru, tenaga kependidikan, komite dan masyarakat, sekolah tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang lebih baik.
Harapannya, secara bertahap SMPN 5 Dua Koto dapat memiliki sarana dan prasarana yang setara dengan sekolah lain di Kabupaten Pasaman sehingga peserta didik di Muara Tambangan dan sekitarnya memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang aman, nyaman dan berkualitas.
SMPN 5 Dua Koto tidak meminta keistimewaan, tetapi membutuhkan kesempatan yang adil untuk berkembang.

Sebab, membangun sekolah di pelosok pada hakikatnya adalah membangun masa depan anak-anak Pasaman. Dan ketika seluruh elemen bergerak bersama, semangat tersebut akan menjadi bagian nyata dari perjuangan mewujudkan Pasaman Bangkit.(H.Eddi Gultom)




