Aceh Darussalam

Ramadhan Momentum Melatih Ketaatan dan Kesalehan Sosial

A. Malik Musa.

Banda Aceh, desernews.com
Ramadhan bulan peningkatan ibadah, momen pembentukan karakter, dan peningkatan kepedulian sosial. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh A Malik Musa menyampaikan hal itu dalam ceramah Ramadhan di Masjid Taqwa Muhammadiyah, Banda Aceh, Jumat (28/2/2025). Ia menyoroti tiga dimensi utama Ramadhan, yaitu ketaatan, kesalehan sosial, dan pengendalian diri.

Dalam dimensi ketaatan, Malik Musa menekankan pentingnya melatih karakter, terutama dalam menghadapi tantangan era digital.

“Saat ini, banyak orang sulit mengontrol penggunaan media sosial. Pendidikan tertinggal dibandingkan dengan media sosial karena masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan agar umat Islam menjaga etika dalam menyampaikan kritik terhadap pemimpin. “Hindari caci maki kepada pemimpin yang telah kita pilih. Jika ingin memberikan koreksi, sampaikan dengan cara yang baik dan beradab,” tambahnya.

Malik Musa juga menyoroti urgensi menjaga akhlak dalam interaksi sosial, termasuk menghindari bahasa kasar atau makian (teumeunak).

Dalam praktik ibadah, Malik Musa mendorong masyarakat lebih menunjukkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan menutup warung kopi saat waktu shalat tiba. “Ini langkah sederhana agar praktik syariat Islam lebih terlihat,” ujarnya.

Malik Musa mengajak masyarakat membiasakan sedekah, terutama saat berada di masjid. “Jika kotak infak lewat, jangan ragu menyisihkan sebagian rezeki kita,” pesannya.

Selain ketaatan, Ramadhan memiliki dimensi kesalehan sosial. Puasa mengajarkan empati terhadap sesama, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan. Malik Musa mengingatkan, seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi pribadi yang taat secara individu tanpa peduli terhadap lingkungannya.

“Ketika meugang misalnya, jangan hanya memikirkan kebutuhan keluarga sendiri. Sisihkan juga sebagian daging yang kita beli untuk anak yatim dan fakir miskin,” ujarnya.

Ia mengajak umat Islam menekan sifat konsumtif dan menghindari pemborosan selama Ramadhan. “Sering kali kita justru lebih boros saat berbuka dibandingkan hari-hari biasa. Mestinya, kita membatasi konsumsi agar lebih banyak yang bisa disalurkan kepada mereka yang membutuhkan,” tambahnya.

Melalui tiga dimensi ini, Ramadhan diharapkan menjadi sarana memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat.(Sayed Muhammad Husen/ T.Jamaluddin/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close