Punya Kartu Keluarga Sejahtera Sejak 2017, Rafilus Diduga Tak Pernah Terima Bantuan PKH

Pasaman Barat, desernews.com
Ironi kembali mencuat dari pelosok daerah. Rafilus (56), warga Jorong Kemakmuran, Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH), meski sejak tahun 2017 telah memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan buku tabungan dari Bank Mandiri.
Kepada wartawan, Rafilus menuturkan bahwa dirinya tercatat sebagai penerima bantuan sosial dan bahkan telah mengantongi KKS dengan nomor 6032989863509801.
Ia juga memiliki buku tabungan Bank Mandiri dengan nomor rekening 1110012368466 yang diterbitkan melalui unit Simpang Tigo Opir, Pasaman Barat.
“Sejak 2017 saya sudah pegang kartu dan buku tabungan. Tapi sampai sekarang tidak pernah ada bantuan yang masuk. Sementara kawan-kawan saya yang sama-sama mengurus waktu itu sudah lama menerima bantuan,” ungkap Rafilus dengan nada kecewa.
Program PKH yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia sejatinya bertujuan membantu keluarga miskin dan rentan agar mampu memenuhi kebutuhan dasar, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
Namun, fakta yang dialami Rafilus justru memunculkan tanda tanya besar.
Menurut pengakuannya, ia telah berulang kali menanyakan hal tersebut kepada pihak terkait di tingkat nagari hingga pendamping sosial, namun belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan apakah namanya masih aktif dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau terjadi kendala administrasi dalam proses pencairan.
Yang lebih membuat miris, sejumlah warga lain yang terdaftar bersamaan dengannya sebagai keluarga kurang mampu justru telah rutin menerima bantuan sejak beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya persoalan administratif atau kesalahan data yang berlarut-larut tanpa penyelesaian.
Jika benar Rafilus telah memiliki KKS dan rekening aktif sejak 2017, maka seharusnya ada transparansi dan penjelasan resmi dari Dinas Sosial Kabupaten Pasaman Barat.
Masyarakat berharap pihak Dinas Sosial segera melakukan verifikasi dan klarifikasi terbuka agar tidak ada warga yang terabaikan haknya. Bantuan sosial bukan sekadar program di atas kertas, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat kecil yang sangat bergantung pada perhatian negara.
Kasus Rafilus menjadi cermin bahwa evaluasi penyaluran bantuan sosial masih sangat dibutuhkan, agar tepat sasaran dan tidak menyisakan ketidakadilan di tengah masyarakat.
Terkait persoalan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dialami Rafilus, wartawan melakukan konfirmasi langsung kepada pendamping PKH Nagari Sinuruik, Welly Senin 23 Pebruari 2026.
Dalam keterangannya, Welly membenarkan bahwa pihaknya telah menyampaikan persoalan tersebut ke pihak Bank Mandiri unit Simpang Tigo Opir, Pasaman Barat. Namun hingga kini belum ada jawaban resmi dari pihak bank.
“Belum ada juga jawaban dari Bank Mandiri Pak. Kita tunggu sajalah dulu, Pak,” ujar Welly saat dikonfirmasi sembari menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada kabar lanjutan ataupun penjelasan resmi dari pihak perbankan.
Welly juga mengungkapkan bahwa kasus yang dialami Rafilus bukan satu-satunya yang terjadi di wilayah tersebut.
“Memang banyak juga yang terjadi seperti halnya yang dialami Pak Rafilus,” katanya.
Saat ditanya apakah kasus lainnya sama persis dengan yang dialami Rafilus, Welly menjawab bahwa permasalahannya hampir serupa.
“Mirip-mirip seperti itu kasusnya,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Bank Mandiri Simpang Tigo Opir belum memberikan keterangan resmi terkait laporan yang telah disampaikan oleh Welly pendamping PKH Nagari Sinuruik.(H Eddi Gultom)




