Program Makan Gratis Merupakan Implementasi Surah Al Maun dalam Membangun Kepedulian Sosial
Islam adalah agama yang sempurna, mencakup segala aspek kehidupan, termasuk perhatian terhadap kesejahteraan sosial. Salah satu ajaran penting Islam adalah kepedulian terhadap kaum dhuafa, fakir miskin, dan anak yatim. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Ma’un, sebuah surah pendek tetapi sarat makna, yang memberikan peringatan keras kepada mereka yang lalai dalam menjalankan tanggung jawab sosial.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Ma’un:
> “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak memperingatkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan ( memberikan) bantuan.” (QS. Al-Ma’un : 1-7)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagamaan seseorang tidak hanya diukur dari ritual ibadahnya, tetapi juga dari kepedulian sosialnya. Kepedulian ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah program makan siang gratis yang kini menjadi perhatian publik.
Makna dan Tafsir Surat Al-Ma’un
1. Tafsir Ayat 1-3: Mendustakan Agama dengan Mengabaikan Anak Yatim dan Fakir Miskin
Menurut Imam Al-Qurthubi, dalam tafsirnya, ayat pertama surah ini menyebutkan sifat mendustakan agama bukan hanya terkait dengan keimanan secara lisan, tetapi juga perbuatan. Orang yang tidak peduli pada anak yatim dan fakir miskin adalah contoh orang yang mendustakan nilai-nilai agama secara praktis.
Ibnu Katsir menambahkan bahwa menghardik anak yatim berarti berlaku kasar, tidak memberikan perhatian, dan tidak membantu memenuhi kebutuhannya. Sedangkan tidak memaksa memberi makan kepada orang miskin menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan sosial.
2. Tafsir Ayat 4-7 : Celakalah Orang yang Lalai dalam Shalatnya
Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa ritual ibadah seperti shalat tidak berarti jika hanya dilakukan untuk pamer (riya) tanpa diiringi kesadaran akan tanggung jawab sosial. Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut bahwa keimanan yang benar harus mencakup keselarasan antara hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas).
Hadis-Hadis tentang Kepedulian Sosial
Rasulullah ﷺ memberikan banyak contoh bagaimana Islam menekankan pentingnya memberi kepada yang membutuhkan:
1. “Tidaklah memberi makan orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahui hal itu.”(HR. Thabrani)
Hadis ini menunjukkan bahwa iman seseorang ditanyai jika ia tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan.
2. “Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang lapar, niscaya Allah akan memberi makanan dari buah-buahan surga.”(HR. Tirmidzi)
Hadis ini merupakan jawaban besar dari Allah ﷻ bagi mereka yang peduli terhadap kebutuhan dasar orang lain, yaitu makanan.
3. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan permulaan dari orang yang menjadi tanggunganmu.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan kita untuk menjadi pemberitakan, memprioritaskan kebutuhan keluarga, dan meluas ke masyarakat.
Pendapat Ulama tentang Tanggung Jawab Sosial
Para ulama sepakat bahwa membantu sesama adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Berikut beberapa pendapat ulama terkait:
1. Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya keseimbangan antara ibadah ritual dan sosial. Menurutnya, seseorang yang rajin beribadah tetapi tidak peduli pada orang miskin sebenarnya telah lalai terhadap ajaran Islam yang sejati.
2. Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Fiqh Zakat menjelaskan bahwa zakat dan sedekah adalah cara untuk mendistribusikan kekayaan agar tidak masuk hanya pada segelintir orang. Program-program seperti makan siang gratis adalah wujud sedekah sosial yang perlu diperbanyak.
3. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menyebutkan bahwa memberi makan adalah salah satu bentuk ibadah yang paling dicintai Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ:
Amalan yang paling dicintai Allah adalah memberi makan sesama kepada.
Program Makan Siang Gratis dalam Konteks Surah Al-Ma’un
Program makan siang gratis, seperti yang diinisiasi oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, adalah implementasi nyata dari pesan Surah Al-Ma’un. Program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga membangun semangat berbagi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Berikut beberapa nilai Islami yang dapat diambil dari program ini:
1. Garis Perintah Allah:
Memberi makan kepada orang miskin adalah bentuk ketaatan kepada Allah ﷻ sebagaimana yang diperintahkan dalam Surat Al-Insan:
> “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”(QS. Al-Insan: 8)
2. Kesombongan:
Dengan berbagi makanan, seseorang diajarkan untuk bersyukur rendah hati dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.
3. Menumbuhkan Solidaritas Sosial:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumamaan kaum mukminin dalam cinta kasih, sayang-menyayangi, dan saling tolong-menolong adalah seperti satu tubuh; bila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya.”(HR. Muslim)
Cara Menghidupkan Nilai Al-Ma’un di Masyarakat
1. Berbagi dalam Keterbatasan:
Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jagalah dirimu dari neraka, meski hanya dengan bersedekah sebagian butir kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. dimulai dari Lingkungan Terdekat:
Kepedulian sosial dapat dimulai dari keluarga, tetangga, atau komunitas sekitar. Pastikan tidak ada orang yang kelaparan di sekitar kita.
3. Mendukung Program Sosial yang Ada:
Jika tidak mampu membuat program sendiri, kita bisa mendukung program-program seperti makan siang gratis melalui donasi atau tenaga sukarela.
4. Mengembangkan Generasi Muda:
Ajarkan anak-anak untuk peduli kepada sesama, misalnya dengan berbagi makanan atau menyisihkan sebagian uang jajan untuk sedekah.
Penutup: Menjadikan Kepedulian Sosial sebagai Bagian dari Iman
Islam mengajarkan bahwa iman tidak hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama. Surah Al-Ma’un mengingatkan kita untuk peduli kepada anak yatim dan fakir miskin, sementara Rasulullah ﷺ memberikan banyak teladan tentang pentingnya berbagi.
Program makan siang gratis yang kini banyak diperkenalkan di beberapa daerab adalah salah satu bentuk nyata dari pengamalan ajaran Islam ini. Sebagai umat Islam, mari kita jadikan Surat Al-Ma’un sebagai inspirasi untuk terus meningkatkan kepedulian sosial, baik melalui program seperti ini maupun melalui langkah-langkah kecil yang bisa kita lakukan setiap hari.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang peduli, rendah hati, dan selalu bermanfaat bagi orang lain. Aamiin.
Penulis adalah Peneliti di Lembaga Ta’lif Wan Nasyr Nahdhatul Ulama (LTN – NU) Deli Serdang.





