Berita PilihanEkBisNasional

Buntut Korupsi BBM, Erick-Bahlil Review Total Pertamina, Ada Merger dan Dirut Diganti?

Frederikus Bata
Menteri BUMN, Erick Thohir saat diwawancarai awak media di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (1/3/2025)

Tangerang, desernews.com
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberikan penjelasan terkait situasi di Pertamina, dalam hal ini Pertamina Patra Niaga. Pertama-tama, Erick meminta semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Berikutnya, ia mengajak publik melihat dari berbagai sisi.

Menurut Erick, dinamika juga pernah terjadi di BUMN lain. Tindakan yang diambil mengarah pada perbaikan. Ia mencontohkan kasus di PT Garuda Indonesia. Jika tidak dilakukan penyelamatan, belum tentu bisa terus bertahan.

“Nah, sama juga, di Pertamina sendiri, kita akan review total. Seperti apa nanti perbaikan- perbaikan yang kita lakukan ke depannya,” kata Menteri BUMN, saat dijumpai di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (1/3/2025).

Baik itu holding, maupun subholding akan dievaluasi total. Menurut Erick, proses demikian, bagian dari improvisasi. Ia menegaskan, pernyataannya bukan berarti menyimpulkan segala sesuatu di Pertamina sedang dalam kondisi tidak baik.

“Tetapi kalau kita lihat kondisi Pertamina, keuangannya dulu dan sekarang. Itu jauh lebih baik. Pelayanannya lebih baik. Apakah ada kasus-kasus? saya rasa sama. ASDP juga ada kasus. Tapi, jangan sampai persepsinya, ketika ada oknum, ada individu (yang membuat kesalahan), akhirnya seluruh korporasinya itu dibilang tidak baik. Kita harus jaga lho, karena banyak sekali penugasan pemerintah kepada BUMN, selama ini improvisasinya luar biasa,” jelas Erick.

Ia gencar mengkampanyekan dan menunjukkan aksi bersih-bersih di BUMN. Apa yang terjadi di Pertamina Patra Niaga, menurutnya, tak mengganggu komitmen tersebut. Ia menegaskan, selama lima tahun menjabat, ia fokus membenahi sistem.

Erick mencontohkan bagaimana pihaknya mendorong transparansi laporan keuangan. Ada koreksi untuk BUMN sendiri. Dari sudut pandang demikian, wajar jika di sela-sela perjalanan, ditemukan pelanggaran.

“Kita juga mengoreksi diri kita sendiri, melaporkan kasus-kasus korupsi. Ya tentu pasti ada. Dinamika itu ada. ASDP kemarin, sekarang ada ini (Pertamina Patra Niaga). Dulu ada juga Garuda. Jangan justru gara-gara ini kita jadi setback,” ujar Menteri BUMN.

Ia sepakat jika publik ingin ada pembenahan. Alangkah lebih baiknya, jika melihat dalam perspektif menyeluruh. Pada saat yang sama, ia tetap berpegang pada keyakinan akan progres positif di BUMN.

Bahwa ada kasus hukum yang beberapa kali mendera, harus dihadapi. Di sisi lain, ia melihat juga memunculkan perkembangan yang lebih baik. Terbukti, pendapatan meningkat jika dibandingkan dengan periode sebelum dilakukan perbaikan.

“Transformasi yang kita dorong selama lima tahun ini nggak ada yang diumpetin. Ingat loh teman-teman, kalau itu semua BUMN korupsi, nggak mungkin profitnya Rp 310 triliun. Konteksnya seperti itu,” ujar Erick.

Kembali mengerucut pada kasus Pertamina Patra Niaga, Menteri BUMN sudah menjalin komunikasi dengan Kejaksaan Agung. Erick mempertegas dukungan pada proses hukum yang berjalan di insititusi tersebut.

BUMN mungkinkan ada merger anak usaha Pertamina

Sejumlah anak usaha Pertamina yang terjerat dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang melibatkan sejumlah pimpinan di PT Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina International Shipping dan PT Kilang Pertamina Internasional.

“Di Pertamina sendiri tentu kita akan review total seperti apa nanti perbaikan-perbaikan yang bisa kita lakukan ke depannya. Banyak yang bicara bagaimana peran SKK Migas, peran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri BUMN, dan juga lain-lain ini yang kita konsolidasikan. Kita harus berikan solusi. Seperti yang Pak Presiden RI selalu bilang antara menteri ini berkomunikasi,” ujar Erick.

Menurut Erick, ia dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama-sama berencana untuk melakukan pemetaan dan mencari solusi terkait Pertamina.

“InsyaAllah saya dan Pak Bahlil bisa kasih solusi ini. Dan kita sama-sama petakan mana yang kita bisa lebih efisiensikan. Ini ada holding, ada sub holding seperti apa kita review, apakah ini mungkin ada 1-2 perusahaan yang harus dimergerkan supaya nanti antara Kilang dan Patra Niaga tidak ada exchange penjualan. Kita review, tidak apa-apa karena ini bagian dari improvisasi,” katanya.

Sementara itu, terkait dengan pengganti Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga, Erick mengatakan belum dibicarakan lebih lanjut. Menurut dia, hal tersebut akan dikonsultasikan dahulu bersama Komisaris Utama.

Sumber: republika

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close