Merambah Jalan Keabadian
Oleh : Ustadz. Dr. Hasan Basri, MA, pengajian rutin Ahad Subuh, 9 Agustus 2026, di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh

Banda Aceh, desernews.com
Merambah berarti membuka jalan dengan menyingkirkan duri dan berbagai rintangan. Demikian pula kehidupan kita. Setiap hari kita sedang berjalan menuju suatu tempat yang pasti, yaitu pertemuan dengan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Insyiqaq ayat 6: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar perjalanan dari lahir menuju tua, kemudian mati. Hidup adalah perjalanan menuju Allah.
Pertanyaannya: jalan seperti apa yang sedang kita tempuh?
DUNIA HANYALAH PERSINGGAHAN
Allah SWT berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Kematian bukan akhir, tetapi pintu menuju kehidupan berikutnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Sahih al-Bukhari)
Seorang musafir tidak menjadikan tempat persinggahan sebagai tujuan akhir. Ia mengambil bekal lalu melanjutkan perjalanan.
Begitulah dunia.
Kita boleh memiliki harta, rumah, kendaraan, jabatan dan berbagai kenikmatan dunia. Tetapi jangan sampai semua itu menguasai hati dan membuat kita lupa kepada tujuan akhir.
Allah SWT mengingatkan: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Karena itu, persoalannya bukan berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi untuk apa harta itu kita gunakan dan ke mana harta itu membawa kita.
YANG PALING PENTING ADALAH JIWA
Dalam perjalanan menuju keabadian, yang paling penting bukan sekadar keadaan fisik kita, tetapi keadaan jiwa kita.
Allah SWT berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Rasulullah SAW bersabda: “Jika ia baik, baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Maka jalan menuju keabadian harus kita bersihkan dari berbagai penghalang: kesombongan, iri hati, dengki, kebohongan, permusuhan, cinta dunia yang berlebihan, dan dosa.
Allah SWT berfirman: “Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Karena itu, jangan menunggu tua untuk bertaubat. Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah.
Kesempatan beramal adalah hari ini.
SETIAP AMAL AKAN KITA TEMUI
Allah SWT mengingatkan: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Sedekah, membantu orang lain, mengajarkan ilmu, membersihkan masjid, menolong orang yang kesulitan, bahkan kebaikan yang dianggap kecil, semuanya memiliki nilai di sisi Allah.
Sebaliknya, jangan meremehkan dosa sekecil apa pun. Sebab ketika kematian datang, kesempatan beramal berakhir. Allah menggambarkan penyesalan manusia: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Tetapi kesempatan itu tidak akan kembali.
Maka jangan menunda kebaikan.
TUJUH BEKAL MENUJU KEABADIAN
Lalu, bagaimana kita merambah jalan menuju kehidupan abadi? Ada tujuh bekal yang perlu kita jaga:
1. Iman yang kokoh; menjadi fondasi dalam menghadapi nikmat maupun ujian.
2. Istiqamah dalam beribadah; menjaga salat, Al-Qur’an, doa, zikir, sedekah dan amal kebaikan secara konsisten.
Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
3. Akhlak yang mulia; karena kualitas iman tercermin dalam cara kita memperlakukan orang lain.
4. Bersungguh-sungguh mengamalkan ajaran Allah; Islam bukan hanya untuk diketahui, tetapi diwujudkan dalam kejujuran, amanah, kepedulian dan perbuatan nyata.
5. Memelihara silaturahim; jangan biarkan perbedaan dan kepentingan dunia memutus persaudaraan.
6. Berbakti kepada orang tua; selagi mereka masih hidup, gunakan kesempatan untuk berbuat baik; jika telah tiada, teruskan bakti dengan doa dan amal kebaikan.
7. Memperbanyak amal saleh dan amal sosial; jadilah manusia yang memberi manfaat melalui sedekah, pendidikan, pelayanan sosial, membantu fakir miskin, yatim, orang sakit, korban musibah, dan berbagai kebaikan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Sahih Muslim)
Karena itu, jangan hanya membangun sesuatu yang bermanfaat selama kita hidup. Bangun pula kebaikan yang tetap mengalir setelah kita meninggal.
BEKAL TERBAIK ADALAH TAKWA
Tujuh bekal tadi pada akhirnya bermuara pada satu kata: takwa. Allah SWT berfirman:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(QS. Al-Baqarah: 197)
Takwa membuat kita jujur ketika tidak ada yang melihat, amanah ketika memiliki kesempatan untuk berkhianat, menjaga lisan ketika mampu menyakiti, dan tetap berbuat baik meskipun tidak dipuji.
Itulah bekal perjalanan menuju keabadian.
Kita semua sedang berjalan.
Setiap hari umur kita berkurang.
Setiap hari kita semakin dekat kepada kematian.
Dan setiap napas membawa kita semakin dekat kepada pertemuan dengan Allah SWT.
Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita merambah jalan itu?
Jika ada dosa, bertaubatlah.
Jika ada kesalahan, perbaikilah.
Jika ada permusuhan, damaikanlah.
Jika ada harta, manfaatkanlah untuk kebaikan.
Jika ada ilmu, ajarkanlah.
Jika ada kesempatan berbuat baik, jangan ditunda.
Sebab pada akhirnya:
Rumah akan kita tinggalkan.
Jabatan akan kita tinggalkan.
Harta akan kita tinggalkan.
Orang-orang yang kita cintai akan mengantar kita sampai ke pemakaman, kemudian mereka kembali.
Yang tetap bersama kita adalah amal kita.
Maka mari kita gunakan sisa umur untuk memperkuat iman, memperbaiki ibadah, memuliakan akhlak, berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahim, dan memperbanyak amal saleh serta manfaat bagi sesama.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan memberikan kepada kita akhir kehidupan yang baik.
Semoga ketika sampai pada penghujung perjalanan, Allah SWT memanggil kita: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)
Semoga perjalanan kita menuju keabadian berakhir dalam ridha, rahmat, dan surga Allah SWT. (T. Jamaluddin)




