
Aceh, desernews.com
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah merasa jengkel atau marah, baik dalam lingkungan keluarga maupun di tengah masyarakat. Seringkali karena emosi, terbesit dalam hati kita ungkapan seperti: “Ya Allah, kenapa tidak dimatikan saja mereka?”
Namun, Islam mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menghakimi atau melaknat, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya Allah siapkan untuk mereka. Bisa jadi, apa yang kita benci justru menjadi jalan kebaikan yang tidak kita sadari.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, saat para malaikat mempertanyakan penciptaan manusia, Allah menjawab:
قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa urusan hidayah, nasib, dan takdir seseorang adalah hak prerogatif Allah. Kita tidak berhak melaknat atau merasa lebih tahu dari-Nya.
Contoh dari Rasulullah
Bahkan Rasulullah SAW, manusia paling mulia, pernah merasakan kesedihan dan kemarahan yang mendalam. Dalam peristiwa pembunuhan para penghafal Al-Qur’an (peristiwa Bi’r Ma’unah), beliau sempat berdoa (qunut nazilah) selama satu bulan untuk melaknat pelakunya. Namun kemudian turunlah ayat:
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
“Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 128)
Ayat ini menegaskan bahwa bahkan Nabi pun tidak diberi wewenang untuk menentukan azab bagi seseorang. Hal ini tentu menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai umatnya, agar lebih berhati-hati dalam berbicara dan mendoakan orang lain.
Perjanjian Hudaibiyah: Hikmah di Balik yang Terlihat Buruk
Satu contoh lagi dari sejarah Islam adalah Perjanjian Hudaibiyah. Saat perjanjian damai antara kaum Muslimin dan Quraisy ditandatangani, Umar bin Khattab sangat marah karena nama Rasulullah hanya ditulis sebagai “Muhammad bin Abdullah”, bukan “Rasulullah”. Namun Rasulullah ﷺ menerima hal itu dengan sabar.
Ternyata, perjanjian inilah yang menjadi titik balik kemajuan umat Islam. Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak tidak menyenangkan, jika dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan, justru bisa menjadi pintu kemenangan.
Islam Menganjurkan Doa yang Baik, Bukan Laknat
Islam melarang kita untuk mudah melaknat, apalagi terhadap sesama Muslim. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk mendoakan kebaikan, bahkan kepada orang yang menyakiti kita. Kita tidak tahu bagaimana masa depan seseorang. Orang yang hari ini buruk, bisa jadi kelak mendapat hidayah dan menjadi lebih baik dari kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 1977)
Lihatlah bagaimana para Nabi menahan diri dalam menghadapi umat mereka. Nabi Luth ‘alaihissalam, misalnya, tidak langsung mendoakan musibah bagi kaumnya yang melakukan kemaksiatan. Beliau tetap menyeru mereka kepada kebaikan dengan penuh kesabaran.
Balasan untuk Orang yang Menahan Amarah
Allah menjanjikan pahala besar bagi orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 133–134)
Disebutkan pula bahwa surga memiliki delapan pintu, dan salah satunya diperuntukkan bagi mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan.
Di akhir surat Al-Maidah, Allah mengisahkan dialog antara Allah dan Nabi Isa ‘alaihissalam, yang menegaskan bahwa urusan membalas atau mengampuni adalah hak Allah sepenuhnya:
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ma’idah: 118)
Marilah kita latih diri untuk menahan amarah, dan menggantinya dengan doa-doa kebaikan. Jangan biasakan melaknat orang lain, karena bisa jadi mereka yang kita anggap buruk hari ini, akan menjadi kekasih Allah di kemudian hari.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kesabaran, keikhlasan, dan kemuliaan akhlak, serta dimasukkan ke dalam surga melalui pintu orang-orang yang menahan amarah. Aamiin ya Rabbal Alamin.(T.Jamaluddin)




