Advertisement

KISAH NASI BRIYANI

Layanan Katering Terhenti, Nasi Briyani Jadi Sasaran Jemaah Haji Indonesia

Konsumen sedang memesan Nasi Briyani disebuah Restoran di Mall Zamzam Tower Kota Mekkah. (Foto : H. Suhartoyo).

Mekkah (Arab Saudi), desernews.com
Berawal dari dihentikannya layanan Katering ke seluruh Jemaah Haji (259.000 jemaah) Indonesia oleh Kemenag RI, dengan alasan beberapa hari sebelum dan sesudah kegiatan ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina), jalan di Seputaran Kota Mekkah macet.

Akibat terhentinya layanan katering selama kurang lebih 5 hari, membuat ratusan ribu jemaah kelimpungan mencari makanan.

Ada memang pedagang berasal dari Indonesia asal Jawa Barat yang sudah mukim disana dan bersedia menyiapkan pesan nasi dan lauknya, namun selain harganya mahal, rasanya juga kurang menggugah selera.

Kenapa tidak? Nasi putih dengan telur ayam rebus 1 butir, terkadang separuhnya dan ditaburi sedikit urap dihargai 5 riyal (Rp. 20 ribu). Jika pakai sepotong ikan dan lauk tumis kacang dibanderol 10 riyal (Rp. 40 ribu). Rasanya juga kurang sesuai dengan lidah orang Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara.

Ada memang didekat hotel kami berjarak 1500 meter, Rumah Makan Indonesia yang berjualan nasi campur, bakso dan lainnya. Namun harganya berat dikantong, karena untuk 1 porsi nasi campur harganya 25 riyal atau setara Rp. 100 ribu dan Bakso 1 porsi 18 riyal (Rp. 75 ribu).

Pusing mencari makan dari nasi sebagaimana menu utama orang Indonesia, akhirnya para jemaah melirik makanan khas India dan sudah menjadi menu biasa di Tanah Arab, yaitu _”Nasi Briyani”_ atau Nasi Berani kata jemaah asal Kota Tebingtinggi.

Nasi Briyani ini memang namanya nasi, tapi bentuknya beda dengan Nasi Indonesia. Nasi orang India ini, bentuknya kecil dan ukurannya lebih panjang.
Satu porsi bisa untuk makan 6 sampai 8 orang, dengan harga 20 riyal (Rp. 80 ribu), sehingga dianggap murah, karena setiap orang cuma bayar 2,5 riyal (Rp. 10 ribu).

Banyak jemaah dari Tebingtinggi seperti H. Wakijan, H. Amiruddin dan lainnya yang beralih makan nasi Briyani, selain harganya murah, rasanya juga bisa menggugah selera dan makannya rame-rame.

“Asyik aja makannya, yang penting perut terisi, sehingga kita bisa tetap bugar,” kata H. Wakijan tersenyum.

CERITA NASI BERANI
Makanan ini berasal dari Anak benua India (India dan Pakistan). Di Kepulauan Melayu, hidangan ini disebut dengan tambahan kata nasi (nasi biryani, nasi briyani, nasi briani, nasi beriani atau nasi berani).

Nama hidangan ini (“Biryani”) berasal dari bahasa Persia, beryā(n) (بریان) yang berarti goreng atau panggang.

Biryani dibuat dari beras yang sudah direbus di panci terpisah. Setelah beras setengah matang, beras dicampur dengan kaldu berbumbu, lalu ditutup rapat di dalam panci, dan dimasak hingga matang sampai kaldu terserap ke dalam nasi.

Biryani berbeda dengan pullao (baca: pallao) dalam cara memasak. Kalau memasak pullao, beras digoreng bersama rempah-rempah di dalam minyak samin, dan langsung dimasak hingga matang.

Pendatang dan pedagang dari bangsa Persia, memperkenalkan cara memasak biryani kepada orang India dan Pakistan.

Hidangan ini tidak hanya populer di India dan Pakistan, melainkan juga di Arab Saudi, Irak, Iran, Afganistan, Bangladesh, dan kalangan penduduk muslim Sri Lanka, khususnya di Asia Selatan yang merupakan wilayah Sub Continent.

Sementara Calcuta Biryani, justru menyajikan nasi biryani dengan potongan kentang yang berukuran besar dan mendominasi dibandingkan daging.

Perbedaan utama antara nasi biryani India dengan nasi biryani negara lain, adalah pilihan bumbu sehingga menghasilkan rasa yang sangat khas.

Nasi biryani India, saat ini mayoritas menggunakan garam masala dan pewarna alami seperti kunyit atau saffron. Rempah-rempah yang digunakan juga lebih kaya sehingga rasa pedas dan gurihnya lebih kuat. Sementara nasi biryani di negara Timur Tengah atau Arab rasanya lebih halus.

Di sisi lain, nasi biryani India juga memiliki varian unik yang membuatnya wajib untuk dicicipi oleh wisatawan asing. Nasi biryani dari India Selatan memiliki rasa kelapa dan sedikit rasa asam atau terkadang bisa memiliki rasa sedikit rasa cabai.

Akan tetapi, di India Utara nasi biryani menggunakan dadih sebagai bumbu perendam dan rempah-rempah utuh yang lembut seperti kapulaga, kayu manis, dan daun salam.

Beberapa nasi biryani India juga dibumbui dengan wangian bunga yang membuat nasi ini sangat berbeda. Beberapa jenis wewangian yang sering digunakan adalah melati, mawar, kewra, serta menggunakan pinus, ulir atau buah kering lainnya.

Rasa ini juga bisa diperoleh dengan menggoreng nasi dalam ghee sebelum dimasak dengan daging atau sayuran.

Dikarenakan sejarahnya yang panjang serta sudah lama menjadi hidangan khas dari India, maka nasi biryani sangat populer pada acara besar maupun perayaan keagamaan.

Tak hanya itu, saat ini nasi biryani juga sudah memiliki puluhan jenis yang tersebar di berbagai daerah India maupun di negara-negara tetangganya.

Nasi Briyani atau Nasi Berani Made In Kota medan

Pengunjung tengah menikmati hidangan Nasi Briyani di Basnul Cafe Jln. Ring Road Kota Medan, Sumatera Utara. (Foto : H. Suhartoyo).

Kota Medan terus dimeriahkan dengan tempat makan yang menyediakan hidangan asal Asia Selatan dan Timur Tengah, dan Nasi Biryani pastinya tidak asing lagi di telinga maupun lidah orang Medan.

Kerap dikenal dengan aromanya dan penggunaan rempah-rempah yang khas, bukan suatu hal yang mengherankan apabila masakan dari India dan Pakistan ini digemari banyak orang.

Nasi Biryani dari Basnul Cafe
Nasi Biryani biasanya dimasak dengan rempah-rempah seperti jintan, cengkeh, kapulaga, kayu manis, dan ketumbar. Warna kuning atau oranye yang memang sudah menjadi trademark Nasi Biryani sendiri datang dari safron.

Jenis beras yang digunakan untuk Nasi Biryani juga berbeda dengan beras putih yang kita kenal. Disebut beras Basmati, beras yang berasal dari wilayah India dan Pakistan ini memiliki bentuk yang panjang dan ramping, tidak lengket setelah dimasak, dan memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga cocok untuk menjaga berat badan dan kadar gula darah.

Dihidangkan bersama acar, sambal salsa dengan jeruk nipis, dan garnis kismis,
Nasi Biryani dari Basnul Cafe sendiri sudah diatur rasanya agar lebih cocok di lidah orang lokal. Harum khas dari rempah-rempah yang digunakan langsung menggugah selera.

Rasa gurih dari karinya menari indah di dalam mulut bersama dengan rasa manis dari kismis yang ditambahkan sebagai garnis pada nasinya.

Sedikit fun fact, jintan dan beberapa rempah-rempah lainnya, yang mereka gunakan diambil langsung dari Madina Arab Saudi !

Bikin ketagihan?
Ini dia tempat makan Nasi Briyani yang selalu diserbu para wisatawan, pada pilihan pertama ada Basnul Cafe.

Untuk kalian yang merupakan pecinta kuliner dengan menu khas Timur Tengah, bisa berkunjung kesini ya. Karena kalian tidak akan kecewa setelah menyantap Nasi Briyani di Basnul Cafe ini.

Seporsi Nasi Briyani yang kalian pesan akan disuguhkan dengan nampan besar. Nasi Briyani ini menggunakan beras Basmati Premium, dicampur dengan berbagai rempah, ditambahkan daging kambing yang teksturnya lembut dan bumbu masakan khas Timur Tengah, sehingga tercipta menu Nasi Briyani yang begitu menggugah selera, citarasanya juga begitu lezat lho.

Tak hanya Nasi Briyani, kalian juga bisa memesan berbagai menu lainnya, termasuk kopi nikmat dan dessert-nya.

Yuk buruan ke Basnul Cafe yang berlokasi di Jln. Ring Road No.10, Pasar 2 Tanjung Sari, Medan, Sumatera Utara.(H. Suhartoyo)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Harap nonaktifkan aplikasi AdBlock nya terlebih dahulu.. Terima Kasih