Muhasabah diri untuk Mengevaluasi Masa Lalu Sebagai Langkah Awal Menatap Masa Depan
Oleh: Ust. Dr. H. Aslam Nur, MA

Banda Aceh, desernews.com
Dalam perjalanan hidup manusia, kita sering mendengar istilah muhasabah, yaitu melihat kembali perjalanan masa lalu sebagai bahan evaluasi untuk melangkah lebih baik di masa depan.
Muhasabah mengajarkan kita agar tidak larut dalam penyesalan, tetapi menjadikannya sebagai sarana memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan contoh yang sangat indah tentang bagaimana menyikapi kegelisahan hidup.
Dikisahkan suatu hari Rasulullah SAW datang ke masjid dan melihat seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Setiap pagi, Abu Umamah terlihat duduk lama di masjid di luar waktu shalat. Rasulullah pun bertanya, “Wahai Abu Umamah, aku melihat engkau sering duduk di masjid di luar waktu shalat. Apa yang sedang engkau rasakan?”
Abu Umamah menjawab dengan jujur, “Wahai Rasulullah, aku sedang diliputi rasa cemas dan sedih, terutama karena hutang yang membebaniku.”
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Maukah engkau aku ajarkan satu kalimat, jika engkau membacanya Allah akan menghilangkan kecemasanmu dan memudahkanmu melunasi hutangmu?”
Abu Umamah pun menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Lalu Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa yang sangat agung:
Allahumma inni a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan,wa a‘ūdzu bika minal-‘ajzi wal-kasal,wa a‘ūdzu bika minal-jubni wal-bukhli,wa a‘ūdzu bika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijāl.
Artinya:”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan manusia.”
Doa ini menunjukkan bahwa Islam sangat memahami kondisi manusia. Banyak orang merasa sedih dan cemas bukan karena kekurangan iman, tetapi karena takut tidak cukup rezeki, takut miskin, dan khawatir menghadapi masa depan. Padahal, rezeki setiap hamba telah Allah atur dengan penuh keadilan dan hikmah.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak akan membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya. Maka, tugas kita adalah meneguhkan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya, dan menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah SWT.
Namun, penyerahan diri kepada Allah tidak berarti pasrah tanpa usaha. Zikir dan doa adalah bentuk penghambaan dan permohonan perlindungan kepada Allah, tetapi harus disertai dengan ikhtiar. Rasulullah SAW tidak mengajarkan kita untuk hanya duduk diam mengadukan kegelisahan, melainkan berdoa sambil terus berusaha.
Jika kita sakit, maka berobatlah. Jika kita khawatir miskin, maka bekerjalah dan berusahalah dengan cara yang halal. Dan iringilah setiap langkah itu dengan zikir serta doa yang diajarkan Rasulullah SAW, agar hati kita tenang, langkah kita terarah, dan hidup kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang kuat imannya, tenang hatinya, dan istiqamah dalam usaha serta doa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.(T.Jamaluddin)




