Perang Israel-Hamas, Upaya Netanyahu Amankan Kekuasaan?

desernews.com
Perang Israel dan milisi di Palestina, Hamas, menjadi sorotan internasional. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pun memutar otak demi mengalahkan kelompok itu. Salah satu cara dia adalah “bersumpah akan membalas serangan besar-besaran”.
Jauh sebelum perang ini berkecamuk warga Israel sempat demo besar-besaran bahkan internal pemerintah terpecah usai Netanyahu mereformasi sistem peradilan. Publik menganggap perubahan itu melemahkan sistem pengawasan ke pemerintah.
Terlepas dari itu, apakah upaya Netanyahu atasi perang sanggup mengamankan kekuasaan?
Pengamat Studi Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, mengatakan strategi perang Netanyahu untuk melawan Hamas tak cukup mampu mengamankan posisi dia.
“Bisa jadi perang ini dijadikan mobilisasi oleh Netanyahu untuk melawan musuh bersama,” ujar Yon saat dihubungi, Kamis (12/10).
Ia kemudian berkata, “Hanya saja saya melihat ini akan menjadi serangan balik dari rakyat Israel yang menganggap Netanyahu gagal melindungi rakyatnya.”
Musuh bersama yang dimaksud yakni Hamas. Milisi ini menyerang Israel dari darat, laut, dan udara. Sejumlah anggota Hamas bahkan berhasil merangsek ke wilayah Israel dan menyusup ke desa-desanya.
Menanggapi serangan Hamas, Netanyahu mengeluarkan komentar tak terduga. Ia mengumumkan “warga Israel, kita sedang berperang.”
Netanyahu lantas meluncurkan serangan besar-besaran ke daerah yang dikendalikan Hamas, Jalur Gaza; mengirim ratusan ribu tentara cadangan ke dekat perbatasan wilayah itu; hingga membentuk unit khusus perang.
Melihat tanggapan Netanyahu, Yon pesimis dia bisa mengamankan kursi PM lebih lama.
Menurut Yon, rakyat mulai sadar bahwa mereka tak sudi menjadi korban ambisi politik Netanyahu yang mengedepankan perang.
“Saya prediksi Netanyahu akan tumbang karena ambisi perangnya yang tidak sepenuhnya didukung rakyatnya,” lanjut dia.
Dugaan Yon tak jauh berbeda dengan hasil jajak pendapat yang dirilis Dialog Center pada Kamis. Survei ini melibatkan 620 warga Israel dari berbagai negara.
Hasil jajak pendapat itu menyebut 56 persen warga Israel ingin Netanyahu mengundurkan diri dari kursi PM usai konflik dengan Palestina berakhir.
Momen ini juga bisa menjadi jalan bagi kelompok yang kontra terhadap Netanyahu untuk mendepak dia dari pemerintahan, demikian menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Riau Fahmi Salsabila.
“Fokus sekarang semua tertuju bagaimana menghancurkan atau membalas Hamas. Setelah reda [perang ini] bisa jadi amunisi oposisi untuk menjatuhkannya dari kekuasaan,” kata Fahmi.
Kembali ke hasil survei Dialog Center, sebanyak 86 persen responden mengaku serangan mendadak dari Gaza merupakan kegagalan pemerintah Israel saat ini.
Tak hanya itu, 94 persen responden juga meyakini pemerintah harus bertanggung atas kesiapan yang minim sehingga menyebabkan serangan kali ini terjadi, demikian dikutip Jerusalem Post.
Meski PM Israel ini meluncurkan serangkaian manuver untuk melawan Hamas, tetapi tak membuat dia aman dari kritik.
Pengamat Barat menilai pemerintah Netanyahu kebobolan padahal selama ini mereka dikenal memiliki pertahanan yang kokoh dan ketat.
Jurnalis senior yang fokus isu Timur Tengah dan kerap menulis analasis soal Israel dari Haaretz, Ravit Hecht, menyalahkan intelijen militer dan Dinas Keamanan Shin Bet yang dianggap teledor.
Salah satu sumber politik yang akrab dengan dinas keamanan mengatakan intelijen tak menerima informasi soal kemungkinan serangan Hamas dalam beberapa pekan.
“Tidak ada informasi intelijen yang diberikan kepada mereka,” kata Hecht mengutip sumber terpercaya, dalam analisisnya yang dirilis Haaretz.
Laporan yang mereka lihat terutama berkaitan dengan provokasi Hizbullah di bagian utara Israel dan situasi yang bergejolak di Tepi Barat. Informasi baru berdatangan beberapa jam sebelum serangan Hamas muncul.
Hecth menduga banyak informasi intelijen yang tak ditangani secara serius karena konsepsi selama ini. Konsepsi itu seperti Hamas tak akan berani menyerang, mereka lebih mementingkan ketenangan di Gaza, memilih mengobarkan api di Tepi Barat, dan mempertimbangkan situasi ekonomi.
Netanyahu dan agendanya, lanjut dia, menghancurkan Israel menjadi berkeping-keping.
Situasi Israel yang juga terpecah-belah, bahkan orang-orang di lembaga pertahanan bahkan sempat mogok kerja, membuat Hamas tergoda untuk menyerang.
Hecth menyebut serangan Hamas ini menjadi bukti kegagalan politik Netanyahu.
“Ini merupakan kegagalan yang luar biasa yang sekarang bisa masuk dalam catatan sejarah Benjamin Netanyahu,” kata dia dalam laporannya.
Menurut Hecht pemerintah bahkan tak menjalankan fungsinya di masa-masa gelap Israel.(cnn/DN)



