Indahnya Kebersamaan dan Persaudaraan Dalam Islam Usai Pesta Demokrasi
Oleh: H. Suhartoyo, QIA (Wartawan Dessernews.com)

Tebingtinggi, desernews.com
Bangsa Indonesia, baru saja mengikuti jalannya Pesta Demokrasi, untuk memilih pemimpin negeri ini lima tahun kedepan. _*Telah banyak yang terobek dan tersobek, effeck atau imbas dari perjalanan Pesta Demokrasi ala Indonesia dan perlu di jahit lagi untuk menyatukannya atau bahkan perlu juga ditambal, agar tidak terlarut bocornya, hingga bisa pulih kembali.*_
Berikut ini, sedikit narasi dan rangkaian kata, untuk coba memulihkan luka yang sempat tergores. Kebersamaan merupakan Sumber Rahmat dari Allah SWT, karena rahmat-Nya hanya terdapat pada mereka yang menyebarkan rahmat di muka bumi. Mereka dapat membangun hidup dengan kebersamaan jika tidak ada kebencian dan kecemburuan dalam dada mereka, yang ada hanyalah kasih sayang di antara mereka.
Islam adalah agama kebersamaan. Ajakan agama untuk hidup bersama dilandasi oleh posisi, kedudukan dan kapasitas manusia sebagai makhluk sosial. Salah satu upaya yang efektif dalam memperkukuh kebersamaan, adalah kesadaran untuk mengembangkan dialog secara intensif di kalangan anggota masyarakat, baik antara satu individu dan individu lain, maupun antara satu kelompok dan kelompok lain dalam suatu masyarakat.

Kebersamaan dalam Islam disebut dengan al-jama’ah . Makna al-jama’ah dalam hadis dari 171 kali penyebutannya, dapat dikategorisasikan –untuk sementara sebagai kajian awal—dalam empat hal, yakni kebersamaan dalam ibadah, kebersamaan merupakan sumber rahmat, kebersamaan merupakan sumber berkah dan kebersamaan melahirkan ‘tangan’ [kekuasaan dan pertolongan ] Allah.
Kebersamaan merupakan sumber rahmat dari Allah SWT, karena Rahmat-Nya hanya terdapat pada mereka yang menyebarkan rahmat di muka bumi.
Mereka dapat membangun kehidupan dengan kebersamaan jika tidak ada kebencian dan kebencian di dalam dada mereka, yang ada hanyalah kasih sayang di antara mereka. Kebersamaan akan melahirkan kebaikan-kebaikan sebagai perwujudan dari saling menghormati, saling membantu, saling merasakan dan saling menghargai di antara anggota masyarakat.

Prinsip dan karakter seperti ini, harus dimiliki oleh setiap orang, agar tercipta sebuah kerukunan dalam berinteraksi secara horizontal. Kebersamaan dapat dibangun jika masing-masing individu memiliki sikap untuk saling memberi pertolongan.
Pertolongan kepada sesama manusia akan melahirkan pertolongan dari Allah SWT. Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Nabi bersabda, ‘Allah akan selalu memberi pertolongan kepada seseorang, selama ia memberi pertolongan kepada saudaranya [sesamanya].
Ungkapan Nabi di atas, menunjukkan bahwa pertolongan Allah akan datang melalui kerjasama antara manusia. Sebagai makhluk sosial, seseorang harus sadar bahwa ia bergantung kepada pihak lain, di mana kebutuhannya tidak dapat terpenuhi melalui usahanya, usaha kelompoknya, bahkan usaha bangsanya sendiri.

Menurut Dr. H. Aang Ridwan, M.Ag, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, hidup hanya mungkin dan nyaman jika dibagi dengan orang lain, sehingga masing-masing berperan serta dalam menyediakan kebutuhan bersama.
*Jaga Kebersamaan Dalam Bingkai Kekitaan*
Dalam usaha membangun keimanan dan ketakwaan, yang harus dilakukan umat Islam adalah membangun kebersamaan dalam spirit kekitaaan.
Kebersamaan adalah sesuatu yang diperintahkan Allah kepada umat Islam. Dalam setiap perintah-Nya, Allah selalu menggunakan bentuk jama’i (komunal) bukan infiradi (individual), ya ayyuhalladzina amanu, wahai orang-orang yang beriman. Bukan ya ayyuhal mu’minu, wahai orang beriman. Dengan bentuk ini sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk menjaga kebersamaan.

Kebersamaan dalam sudut pandang Islam, merupakan hajat insaniyah, yakni kebutuhan dasar kemanusiaan. Dalam narasi para ulama disimpulkan, tidak ada kemanusiaan tanpa kebersamaan.
Selain itu kebersamaan merupakan dharurah harakiah, yakni kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjaga kelestarian kedamaian pemeluk agama. Hingga Allah menegaskan, dalam QS Al-Hasyr ayat 14, “la tuqotilanukum jami’a”, _*tidak akan ada yang mampu membinasakan umat Islam_*, apabila ia menjaga kebersamaan.
Rajut Persatuan dan Persaudaraan Usai Pemilu
Sebagaimana kita tahu, demokrasi dengan memilih calon pemimpin melalui Pemilu, memungkinkan seseorang beda pilihan dengan yang lain, termasuk orang dekat sekalipun. Dalam demokrasi, seseorang memiliki kebebasan mutlak dalam memilih calon pemimpin.
Demokrasi mengajak setiap orang, memilih calon pemimpin sesuai hati nurani dan preferensi dengan melihat program, rekam jejak, dan lainnya. _*Perbedaan pilihan adalah hal wajar dalam alam demokrasi, tidak perlu ditentang atau dipertengkarkan.*_

Namun perlu diingat, beda pilihan politik, jangan sampai memutuskan tali silaturahmi yang sudah terjalin bertahun-tahun. Oleh karenanya, pascapemilu ini mari kembali rajut persatuan dan persaudaraan antar-umat.
Kita sudah melewati berbagai tahapan pemilihan umum (Pemilu) di tahun ini. Yang terakhir, kita sudah berpartisipasi aktif dengan menggunakan hak pilih kita, kepada calon presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD.
Harapannya, lahir pemimpin bangsa dan legislator yang benar-benar amanah, mengayomi rakyatnya, dan _*menebar kecintaan kepada semua warga Indonesia*_.
Pilihan kita tentu tidak bisa seragam. Inilah demokrasi kita, memberikan ruang kepada semua warga Indonesia, kebebasan yang mutlak dalam memilih calon pemimpin. _*Kita tidak bisa dipaksa pihak lain, untuk memilih calon-calon tertentu atau dipengaruhi dengan berbagai narasi dan video melalui whatsapp grup.*_
Demokrasi mengajak kita untuk memilih calon pemimpin, calon legislatif sesuai hati nurani dan preferensi yang didasarkan pada program yang ditawarkan, rekam jejak, integritas, dan lain sebagainya.
Berbagai dinamika di tahun politik sudah kita saksikan bersama, dan alhamdulillah dapat kita lalui. Rakyat Indonesia sudah menunaikan hak pilihnya masing-masing. Para simpatisan, pendukung, tim sukses sudah bekerja maksimal. Kini saatnya berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT.
Apapun hasilnya, bila semua tahapan dilalui dengan baik dan sesuai aturan berlaku, kita harus terima. _*Di sinilah sikap kedewasaan kita kemudian diuji, kita harus legowo bila calon yang kita pilih, belum ditakdirkan menjadi pemimpin saat ini.*_ *Kita juga harus ikhlas dan menjauhi sikap-sikap yang tak pantas.*
Saatnya kita menyatu kembali. Dalam konteks kebangsaan, kita adalah satu dan menyatu dalam satu negara, yaitu Indonesia. Kepentingan kita adalah menjaga negeri ini tetap utuh. Dan keutuhan tersebut dapat diwujudkan oleh rakyatnya yang selalu mencintai persatuan, mencintai perdamaian, dan mencintai persaudaraan.
Terkait pentingnya persatuan ini, Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an :
_وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا_
Artinya, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya, pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS Ali ‘Imran [3]: 103).
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib menyatakan, para ulama ahli tafsir memiliki pandangan yang berbeda-beda, perihal maksud dari hablillah (agama Allah). Pertama, memiliki arti taat atas segala perintah dan menjauhi larangan. Kedua, ada yang mengartikan dengan bertaubat kepada Allah. Ketiga, ulama manafsirkan perihal spirit persatuan antar-umat, dan pendapat yang terakhir itu merupakan pandangan yang paling kuat dari penafsiran lainnya.
Dengan demikian, membangun dan mempertahankan persatuan merupakan kewajiban kita semua yang tidak boleh dilalaikan. Semua media atau perantara penting, yang bisa menjadi pendukung terciptanya persatuan harus kita lakukan.
_*Salah satunya adalah dengan menumbuhkan sifat saling menghargai, mengakui keragaman, dan tidak saling menyalahkan antar yang satu dengan yang lainnya, meskipun kita*_ *Beda Pilihan Politiknya atau Beda Pilihan Presiden dan Wapresnya.*
Ikhtiar agar selalu merajut persatuan juga diajarkan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat berjuang, untuk menciptakan persatuan sejak masa awal kenabiannya.
Beliau tidak henti-hentinya mengajak para sahabat, untuk terus bersatu menghindari perpecahan di saat khutbah. _&Dan, salah satu buktinya adalah keberhasilan nabi, dalam mempersatukan dua sahabat, yaitu sahabat Anshor dan Muhajir,*_ hingga tercipta sahabat yang solid dan saling bahu membahu antar keduanya.
Teladan Rasulullah dalam mengajak untuk bersatu ini terus dilanjutkan oleh para sahabat setelah ia wafat. Para sahabat selalu berupaya untuk terus mempertahankan persatuan yang telah diwariskan oleh Baginda Nabi. Di antara contohnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud sebagaimana diceritakan dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir, bahwa dalam suatu kesempatan, ia berkhutbah di hadapan para sahabat yang lainnya untuk terus memperjuangkan persatuan dan kesatuan.
Ia berkata : Wahai manusia! Bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan berpegang teguhlah dengan ketaatan dan persatuan, karena persatuan itu adalah tali Allah yang telah Dia perintahkan. Sungguh, apa yang dibenci dalam ketaatan dan persatuan, lebih baik dari apa yang disenangi dalam perpecahan.”
Allah SWT juga telah melarang kita, melakukan tindakan-tindakan dan semua ucapan yang merusak persatuan. Semua itu, harus kita hindari. Bahkan, Allah SWT mengancam dengan azab yang sangat berat kepada orang-orang yang merusak persatuan ini, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya, “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.” (QS Ali ‘Imran [3]: 105).
Mari kita rajut kebersamaan dan persaudaraan, dalam Bingkai Ukhuwah Islamyah, yang selama ini sudah terbina, tanpa ada menyimpan rasa dalam hati yang paling dalam. Biarlah semua yang terjadi dalam Demokrasi Indonesia, berproses sesuai aturan dan undang-undang yang berlalu.
Kita hanya bagian terkecil dari rakyat dan negara ini, yang tidak bisa berbuat lebih jauh, karena kita memang tidak punya kuasa untuk itu. Doa dan harapan yang bisa kita panjatkan, moga Indonesia aman damai dan pemimpinnya bisa bekerja dengan baik.
Karena, kita harus juga bisa menghargai dan menjaga perasaan, pada rakyat yang telah menentukan pilihan nya, walau pilihan itu tidak sama dengan pilihan kita. Salam Merdeka Anak Bangsa !!!
Dari berbagai sumber dan refrensi




