Diserang Hama dan Pupuk Subsidi yang Langka, Petani di Sergai Khawatir Hasil Panen Berkurang
Sergai, desernews.com
Puluhan petani di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) merasa sedih. Perasaan sedih itu muncul ketika mengetahui usia padi yang dalam hitungan 20 hari lagi mau panen malah diserang hama ulat.
Hama ulat ini menyerang batang sehingga berdampak terhadap pertumbuhan bahkan hasil panen sangat dikhawatirkan menjadi berkurang. Hama ini kata Samsul (51 th) salah seorang petani yang bergabung dalam Kelompok Tani Paung Pugak Desa Pematang Guntung, sudah diatasi dengan menyemprot berbagai jenis racun hama. “Namun hama ulat itu tidak kunjung hilang dan mati,” keluhnya, Jumat (17/2).
Selain dipengaruhi hama, pertumbuhan padi mengalami gangguan sejak awal tanam, hal itu dikarenakan pupuk subsidi urea sudah berkurang sehingga terjadi kelangkaan pupuk. Kondisi ini menjadikan petani semakin terbebani dan bisa mengalami kerugian besar.
Pasalnya, modal untuk biaya tanam yang dikeluarkan tidak sesuai dengan hasil panen. “Sulitnya memperoleh pupuk subsidi urea itu sudah dialami setahun belakangan,” ucapnya.
Ketua Kelompok Tani Paung Pugak, Aminullah, menyebut banyak petani yang merasa sedih dan mengeluh akibat kesulitan mengatasi hama ulat ini. Ditambah lagi terjadi kelangkaan pupuk subsidi urea.
“Seluas 42 hektare lahan yang ditanami padi mengalami kekurangan pupuk subsidi urea dan terpaksa membeli di luar dengan harga ‘mencekik leher’ mencapai Rp500 ribu per sak ukuran 50 kg. Sedihnya lagi, pupuk tersebut juga sulit diperoleh. Kalau pun ada, petani tidak mampu membelinya,” ungkap Aminullah.
“Pupuk subsidi itu sangat membantu para petani dengan harganya yang terjangkau. Untuk 1 karung pupuk subsidi urea ukuran 50 kg, petani hanya mengeluarkan uang sebesar Rp150 ribu,” tambahnya. Untuk mengatasi dua permasalahan itu, ucap Amin, sangat diharapkan bantuan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten untuk mencarikan solusi dan mengatasinya dengan segera.
Selanjutnya, kata Amin, petani mengharapkan pemerintah dapat menstabilkan kembali harga gabah basah padi yang sebelumnya sudah mencapai Rp6000/kg, kini malah berkurang menjadi Rp5300/kg.
Sedangkan menurut penjelasan Nita, Kios Pupuk Anugrah di Desa Pematang Guntung, bahwa pupuk subsidi urea tidak langka, akan tetapi para petani yang bergabung dalam Kelompok Tani Paung Pugak sering terlambat mengambil ke kios. Nah, dari 28 petani, hanya 3-5 orang saja datang mengambil pupuk setiap masuk.
“Kios Pupuk Anugrah ini membawahi 6 Kelompok Tani. Sementara pupuk yang masuk dari distributor tidak sesuai dengan pesanan. Umpanya, saya pesan 10 ton, yang datang itu hanya 5 ton. Sisa uangnya memang dikembalikan. Artinya, kebutuhan pupuk itu dua tahun belakangan ini memang sudah dikurangi sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan petani,” kata Nita.
Dikatakan, selain ada pengurangan, pupuk datangnya sering terlambat sampai 1-2 bulan. Ini juga menjadi kendala bagi Kios Pupuk untuk memenuhi sesuai permintaan petani. Saat ini lanjut Nita, pupuk NPK yang mengalami kelangkaan, sedangkan pupuk urea ada tapi jumlahnya berkurang.
Kadis Pertanian Sergai, Dedy Iskandar SP, yang dihubungi via WahtsApp terkait langkanya pupuk urea dan gangguan hama ulat, mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan dan koordinasi dengan pihak Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara sesegera mungkin.(wol/DN)





