Aceh Darussalam

PFI Aceh Gelar Doa Bersama untuk Keselamatan 5 Jurnalis yang Hilang Disekitar Gunung Anak Krakatau

Suasana doa dan zikir bersama PFI Aceh untuk keselamatan lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda ketika meliput kegiatan meletus Gunung Anak Krakatau (T. Jamaluddin)

Banda Aceh, desernews.com
PFI Aceh mengadakan doa dan berzikir bersama untuk keselamatan 5 orang Jurnalis yang hilang diseputaran Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda baru-@baru ini.

Doa bersama yang diprakarsai oleh Pewarta Foto Aceh, sebagai solidaritas sesama Jurnalis, turut prihatin atas musibah yang menimpa rekan kita sesama Jurnalis,” ucap Ketua PFI Aceh, Muhammad Anshar dalam kata sambutannya, pada acara tersebut yang di gelar Ba’da Jum’at 11 September 2026 di Warung Sekber Jurnalis jalan SA. Mahmud Syah, Banda Aceh.

Lebih Lanjut Muhammad Anshar atau sering disebut Aan menambahkan, lima Jurnalis tersebut merupakan bagian dari delapan orang yang berada satu rombongan yaitu terdapat dua orang kru kapal dan satu orang pemandu wisata.

Rombongan sebelum kehilangan kontak berada di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk liputan aktivitas gunung merapi, komunikasi terputus sejak Senin 7/9/2026. Kita berharap mereka segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat.

Dalam kesempatan itu Muhammad Anshar mengingatkan kepada rekan-rekan jurnalis, keselamatan dalam bertugas itu harus diprioritaskan, tugas jurnalis itu penting, tetapi keselamatan jiwa pribadi itu juga lebih penting, apa lagi saat kita bertugas dalam wilayah bencana,” ujar Aan.

Doa bersama Jurnalis Aceh dipimpin oleh Ustazd Zul Arafah, yang diawali dengan bersalawat dan zikir, kemudian dirangkaikan dengan tausiah.

Ustadz Zul Arafah dalam tausiahnya menekankan, bahwa umur manusia ini tidak ada yang tau kapan ajal akan datang, oleh karena itu Ustazd Zul berharap jurnalis (wartawan) jangan lepas dari Wudhu’.

“Wudhu jangan batal dan selalu dalam keadaan berwudhu’. Wartawan adalah termasuk pekerjaan yang mulia, maka jangan kotorkan profesi wartawan itu untuk memfinah. Wartawan sebagai penda’wah yang menyampaikan kebenaran dan keadilan di masyarakat.
Harus diingat, jangan pula Wartawan mencari kesalahan orang lain yang dapat menimbulkan fitnah, jika terjadi fitnah maka azab Allah akan datang, karena doa orang yang terzalimi itu di hijabah Allah,” ujarnya.

Disisi lain Ustazd Zul Arafah juga menekankan, tugas wartawan itu suci dan berani. Wartawan harus berani menyampaikan yang benar itu benar, yang salah itu salah, sekarang ini banyak maksiat di seputaran kita, namun tak ada yng memberitakannya, kemaksiatan saat ini sedang merebak ditengah ummat, korupsi, zina, judi dan lain-lain, hal ini Ustazd Zul mengajak para wartawan untuk melawan kemaksiatan.

“Tetapi jika kemaksiatan dibiarkan tumbuh dan berkembang maka Allah akan menurunkan azabnya, sebagaimana yang telah diturunkan kepada ummat terdahulu, diantaranya kaum Nabi Luth, kaum Nabi Nuh, kaum Tsamud yang semua Allah tenggelamkan karena maksiat kepada Allah,” pesannya.

“Wartawan harus berani, katakanlah walau itu pahit sekalipun,” tegas Ustazd Zul.

Sementara itu Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, menyampaikan kata prihatin atas musibah yang menimpa 5 orang jurnalis, ketua PWI berharap mereka ditemukan dengan selamat dan kepada keluarga korban semoga tabah dan sabar atas musibah ini.

Turut hadir pada acara foa solidaritas itu antara lain, Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, Ketua IJTI, Munir, Ketua PFI, Muhammad Anshar selaku penggagas.
Doa bersama yang diselenggarakan dirangkaikan rasa syukur atas suksesnya pameran foto bencana baru-baru ini yang diselenggarakan oleh Pewarta Foto Indonesia. Pameran yang digelar di Museum Tsunami Banda Aceh beberapa waktu yang lalu. (T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close