Aceh Darussalam

Masalah Pendidikan Kita Sesungguhnya Berada di Ruang Kelas, Bukan diruang Rapat

Ist.

Banda Aceh, desernews.com
Saya ingin menyampaikan satu pandangan yang mungkin sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar dalam upaya memperbaiki pendidikan kita. Hal itu disampaikan oleh DR. Iskandar Hasibuan kepada desernews.com
pada hari Rabu, 27 Mei 2026 di Banda Aceh.

Selama ini ketika berbicara tentang persoalan pendidikan, perhatian kita sering diarahkan pada banyak hal: kurikulum, anggaran, sarana prasarana, sistem administrasi, pergantian kebijakan, bahkan regulasi yang terus berubah.

Semua itu memang penting. Namun, jika kita bertanya secara jujur di mana sesungguhnya masalah pendidikan kita berada, maka jawaban saya tegas, masalah pendidikan kita berada di ruang kelas,” demikian
Iskandar Muda Hasibuan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh dihadapan Kepala TK/PAUD, MI, SMP dan SMA beserta pengurus Majelis Dikdasmen Aceh Tengah dan Bener Meriah di Takengon pada saat konsolidasi Sekolah Muhammadiyah menuju Pusat Keunggulan di wilayah Tengah beberapa hari yang lalu.

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena pada akhirnya pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa banyak dokumen kebijakan yang kita hasilkan, melainkan oleh apa yang benar-benar terjadi antara guru dan murid di dalam kelas. Pendidikan hidup atau mati di sana. Mutu pendidikan lahir dari kualitas pembelajaran yang berlangsung setiap hari, menit demi menit, dalam interaksi pedagogis antara guru dan peserta didik.

Berbagai kajian internasional telah menunjukkan hal ini. Banyak penelitian pendidikan global menegaskan bahwa faktor sekolah yang paling besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa adalah kualitas pembelajaran di ruang kelas, terutama kualitas pengajaran guru. Dengan kata lain, sekolah yang baik bukan pertama-tama ditentukan oleh megahnya bangunan atau lengkapnya fasilitas, melainkan oleh baik tidaknya pengalaman belajar yang dialami peserta didik di kelas.

Kita perlu jujur mengakui bahwa di banyak tempat, tantangan terbesar pendidikan kita bukan lagi sekadar akses, melainkan mutu pembelajaran. Masih ada ruang kelas yang pembelajarannya terlalu berpusat pada guru, terlalu banyak hafalan, minim dialog, miskin eksplorasi, dan kurang memberikan ruang kepada peserta didik untuk berpikir kritis, bertanya, berdiskusi, serta membangun pemahaman secara aktif. Tidak sedikit pula waktu belajar habis untuk urusan administratif, ketertiban, atau rutinitas yang tidak memperkaya pengalaman belajar siswa.

Padahal ruang kelas seharusnya menjadi laboratorium kehidupan. Di sanalah karakter dibangun, nalar diasah, rasa ingin tahu dipelihara, dan masa depan generasi dipersiapkan. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi penggerak pikiran, penumbuh harapan, sekaligus pembentuk budaya belajar.

Ist.

Karena itu, saya berpandangan bahwa reformasi pendidikan harus dimulai dari ruang kelas. Jika kita ingin memperbaiki pendidikan Aceh maupun Indonesia, maka yang harus kita benahi bukan hanya administrasi sekolah, tetapi kualitas pembelajaran. Guru harus diberi penguatan pedagogik yang nyata, supervisi akademik harus hidup, komunitas belajar guru harus berjalan, dan sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya budaya refleksi terhadap proses pembelajaran.

Kita juga harus mengubah ukuran keberhasilan pendidikan. Jangan hanya sibuk berbicara tentang angka kelulusan, dokumen akreditasi, atau capaian administratif. Pertanyaan paling penting adalah: apakah anak-anak kita benar-benar belajar dengan baik di kelas? Apakah mereka merasa tertantang untuk berpikir? Apakah mereka mendapat umpan balik dari gurunya? Apakah mereka merasa aman, dihargai, dan termotivasi untuk berkembang?

Saya meyakini bahwa perubahan besar pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang perubahan itu dimulai dari satu kelas yang lebih hidup, satu guru yang lebih reflektif, satu sekolah yang lebih peduli pada mutu pembelajaran. Bila ruang kelas berubah, sekolah akan berubah. Bila sekolah berubah, maka pendidikan akan berubah.

Oleh sebab itu, mari kita tempatkan ruang kelas sebagai pusat perhatian bersama. Jangan sampai kita terlalu sibuk memperdebatkan kebijakan di atas, tetapi lupa melihat apa yang sesungguhnya terjadi di bawah—di tempat seorang guru berdiri di depan murid-muridnya, menyemai ilmu, karakter, dan harapan.

Karena pada akhirnya, masa depan pendidikan kita diputuskan bukan di ruang rapat, melainkan di ruang kelas.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close