Aceh Darussalam

Moderasi Beragama Tidak Menyimpang dari Islam

Ist.

Banda Aceh, desernews.com
Moderasi beragama yang diterapkan dengan benar tidak menyimpang dari ajaran Islam. Sebaliknya, moderasi ini mendukung pelaksanaan ajaran Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Pusat Moderasi Beragama (PKMB) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Saifuddin A. Rasyid, dalam khutbahnya di Masjid Fathun Qarib, kampus UIN Ar-Raniry, pada Jumat, (13/9/2024).

Saifuddin mengawali khutbahnya dengan membacakan dan mengulas ayat ke-28 dari Surat Al-Fath yang menegaskan bahwa Allah SWT mengutus Rasul-Nya, Muhammad SAW, dengan membawa Al-Quran (sebagai petunjuk) dan agama yang benar (Islam) untuk unggul di antara agama-agama lainnya.

“Kita tidak dapat mencari alasan lain. Kita ditugaskan untuk meyakini dan beriman bahwa Allah adalah Sang Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Allah mengutus Rasulullah SAW untuk membawa risalah Islam dengan Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia,” ujar Saifuddin.

Saifuddin, yang juga menjabat sebagai Ketua BKM Masjid Fathun Qarib, menegaskan bahwa walaupun kita meyakini kebenaran Islam, kita tidak berhak merendahkan agama lain, apalagi menghina pemeluknya. Hal tersebut tidak sejalan dengan karakter Islam yang sebenarnya. Begitu pula, pemeluk agama lain juga tidak diperkenankan merendahkan ajaran Islam.

“Rasulullah SAW tidak pernah menghina agama lain. Kita tidak menemukan dalam sejarah kehidupan beliau, sikap merendahkan pemeluk agama lain. Sebaliknya, beliau selalu menghargai dan membantu tetangganya, terlepas dari keyakinan mereka, dengan tujuan menjaga keharmonisan hidup bersama,” tambahnya.

Berbicara mengenai program moderasi beragama yang dijalankan oleh UIN Ar-Raniry — sebagai bagian dari program prioritas Kementerian Agama — Saifuddin menegaskan bahwa program ini jangan dipersepsikan sebagai upaya melemahkan Islam. Justru program ini bertujuan untuk memperkuat Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Beberapa pihak, baik dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, maupun para pemangku kepentingan lainnya, terkadang salah memahami program ini. Saifuddin menegaskan bahwa dalam moderasi beragama, seorang Muslim tidak boleh goyah dalam prinsip keimanan dan akidahnya.

Seorang Muslim harus tetap kokoh (fundamentalis) dan radikal dalam hal keimanan (wilayah imani), namun toleran dan saling menghargai dalam urusan kemanusiaan (hablun minannas). Dalam aspek amaliyah (wilayah amali), kita diminta untuk bersikap moderat, yaitu berdiri di tengah dalam menghadapi perbedaan, baik antar sesama umat Muslim maupun antara umat Islam dengan pemeluk agama lainnya.

Di akhir khutbahnya, Saifuddin menekankan bahwa jika terdapat pihak atau kelompok yang menunjukkan kecenderungan untuk melecehkan ajaran Islam atau bahkan mencampuradukkan ajaran agama dalam kegiatan atau ritual atas nama moderasi beragama, hal tersebut adalah perilaku yang berlebihan dan tidak sejalan dengan prinsip moderasi beragama yang sejati. (Sayed M. Husen/TJ/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close