Suasana embun pagi telah usai sejak tadi. Dinginnya pagi berangsur berkurang seiring sinar matahari mulai terpancar jauh dari ufuk timur. Dilihat dari langit yang bersih dari awan, hari ini akan cerah dan terik.
Suara-suara burung pun sudah mulai menghiasi sawah yang luas ini. Sebentar lagi, suara mesin-mesin pun akan ramai terdengar. Mesin panen padi, mesin bajak sawah, dan mesin sepeda motor.
Para petani berangsur mulai berdatangan dengan berjalan kaki, atau berkendaraan, lengkap dengan alat dan bekal mereka masing-masing.
Seorang ibu membawa bekal di dalam tas karungnya dengan menenteng jerigen berisi air minum, ditemani seorang bapak yang membawa parang terikat di pinggang, atau seorang ibu yang datang dengan membawa anak-anaknya kesawah.
Sekelompok anak-anak pun berdatangan ke persawahan ini, untuk mengambil buah kuini yang berjatuhan tadi malam. Anak-anak itu sengaja datang pagi-pagi, agar tidak berjumpa dengan pemilik pohon kuini itu. Berbeda lagi dengan pemuda yang datang malam hari.
Sebagian pemuda datang menjaga yang dimilikinya di sawah ini. Sebagian lagi datang untuk mengklaim yang tidak dijaga pemiliknya. Pohon kelapa menjadi milik mereka ketika tidak ada yang menjaganya. Pohon kuini, mangga, jambu, ikan yang ada di kolam, dan pohon pinang menjadi milik mereka. Kepemilikan itu berubah ketika mereka mencuri buah dari pohon-pohon yang tidak dijaga pemiliknya.
Tuan saya pun pagi ini sudah datang, berberes-berers dan menyebar jerami di lahan sawah untuk dibakar. “Bagaimana hasil panen semalam? Apakah sesuai dengan harapan yang ditunjukkan oleh bulir padi yang merunduk?” Tanya ibu Duma kepada tuan saya.
“Jauh dari harapan, bu. Padinya banyak menipu, tampilannya saja yang terlihat bagus. Tapi, kalau hasil panennya kurang memuaskan.” Jawab tuan saya dengan sedikit merasa kecewa.
“Padahal, padi bapak adalah yang terbaik menurut petani disini. Pupuk cukup, perawatan rutin, hama tidak banyak, dan airnya cukup.” Puji bu Duma.
“Ya, begitulah bu. Mungkin untuk balik modal saja belum, bu. Pupuk mahal, dan biaya perawarannya juga mahal.” Sampai tuan saya.
“Kami saja khawatir ini, pak. Pupuknya tak tercukupi karena mahal itu, pak. Pengairannya pun kurang. Sawah yang di hulu kami tidak mau berbagi air, pak. Tikus pun banyak, pak.” Keluh bu Duma yang sawahnya masih jauh dari tuan saya. “Saya duluan, pak.” Pamit bu Duma sambil melanjutkan perjalanannya.
Banyak petani yang saling bertikai karena pengairan sawah. Petani di hulu tidak mau berbagi air ke petani yang ada di hilir, akhirnya ada sawah petani yang kurang air.
Semenjak sawah banyak yang dialihkan jadi kebun sawit, semakin lama, semakin sedikit air yang mengalir untuk air persawahan. Para petani banyak yang mengubah sawah menjadi kebun sawit dengan alasan lebih mudah, ringan, dan hemat mengurus kebun sawit dari pada sawah.
Belum lagi hama padi, tikus, burung, atau padi yang terpaksa harus baring karena ditiup angin kencang. Pestisida yang disiram pak tani atau bu tani untuk mengusir hama kadang tidak mempan, karena hama semacam ulat itu juga ada di dalam batang padi.
Hama yang di dalam batang padi itu menyebabkan padi cepat menguning, padahal belum waktunya.
“Bagaimana hasil panen kemarin, bang?” Tanya pak Burhan kepada tuan saya.
Para petani begitu banyak bertanya, mungkin karena sawah tuan saya tepat berada di pinggir jalan. Sehingga siapapun yang lewat, senang saja menegur tuan saya, juga sawah tuan saya dalam putaran ini yang paling terurus. Sehingga banyak orang yang bertanya hasil panen tuan saya.
“Meleset dari harapan, Han.” Jawab tuan saya singkat.
“Kenapa begitu, bang? Tapi, dengar-dengar sebelah abang dapat hasil banyak putaran ini. “ Tanya pak Burhan, merasa heran dengan jawaban tuan saya.
“Tikusnya banyak sekali, Han. Jadi, sebenarnya di muara air sana, banyak yang mati padinya karena dimakan tikus-tikus bajingan itu. Tapi, kalian tak nampak, yang nampak yang di pinggir jalan ini, dan yang dipinggir jalan ini memang terlihat bagus.” Jelas tuan saya.
“Begitu, ya, bang. Saya sudah menganggap untuk putaran panen kali ini, abang lah yang paling banyak hasil panennya.” Sampai pak Burhan.
“Ternyata tidak, Han. Malah, rugi kayaknya untuk putaran ini.” Sampai tuan saya. “Sawah seberang irigasi kapan mulai panen?” Tanya tuan saya.
“Hari ini sudah ada yang mulai panen itu, bang. Besok mungkin sudah ada mesin robot panen padi, bang.” Jawab pak Burhan. “Saya duluan, ya, bang.” Sambung pak Burhan sekalian pamit.
“Baik, Han.” Jawab tuan saya singkat.
Tuan saya sangat heran dengan sawahnya putaran ini. Memang, semua perawatan sudah dilakukan sangat maksimal. Sehingga padi sangat aman dari hama, namun tidak selamat dari serangan tikus dari bawah.
Istilah tuan saya ketika merungut dihatinya “diselamatkan di atas, kena serang dari bawah.” Usaha untuk melawan tikus ini pun sudah sangat maksimal. Tuan saya sudah membuat pagar plastik keliling sawahnya. Bahkan, tuan saya sangat sering memasang racun tikus sore hari.
Seolah-olah tikus itu mati satu tumbuh satu, saking tak mau habisnya. Tikus lah yang menyerang padi tuan saya. Bahkan tikus yang dari luar sawah tuan saya tetap bisa masuk, walaupun sudah dipagar keliling dengan plastik.
Aku pernah melihatnya dimalam hari, tikus itu datang berkelompok, ketika mereka tidak bisa lewat atas, maka mereka lewat bawah.
Namun, tuan saya sangat heran dengan sawah yang di sebelahnya. Sangat sedikit sekali tikus masuk ke sawah itu. Padahal sawah kami bertetangga, hanya dibatasi pematang sawah.
“Kenapa padi anda tidak diserang tikus, padahal sawah kita berdekatan ini. Aku sudah pagar keliling, tetap saja tikus masuk, sedangkan anda tidak dipagar, dan juga tidak memasang racun. Kenapa bisa tak ada tikusnya?” Tanya tuan saya sangat ingin tau bulan lalu.
“Tak ada itu, biasa-biasa saja. Bersawah yang sewajarnya. Sawah saya pun ada tikusnya. Memang, tak sebanyak tikus di sawah, abang.” Jawab ibu di sebelah sawah kami. “Mungkin, tikus yang rakus-rakusnya masuk ke sawah, abang.” Canda ibu sebelah kami bulan lalu.
Memang betul, dua hari lalu hasil panen ibu sebelah kami lebih banyak. Saat menyebar jerami itu, tuan saya merungut-rungut dalam hati sekaligus bertanya-tanya.”Kenapa tikua tak masuk dalam sawah sebelah kami? “
Menjelang sang harinya, tua saya mulai menggulung plastik panjang yang menjadi pagar sawah ini. Ketika tuan saya menggulung plastik di sebelah sawah tetangga kami, tuan saya melihat kayu kecil yang menjepit plastik.
Tuan saya mengambil plastik itu, dan membukanya. Dugaan tuan saya pun benar. Sawah sebelah kami menggunakan jimat. Di dalam plastik itu berisi kertas yang bertuliskan jimat. Saat tertegun itu, tuan saya menatap ke pematang sawah sebelah tetangga kami, dan masih ada lagi kayu kecil yang didirikan dan menjepit plastik berisi kertas. Tulisannya sama, dan itu kertas fotokopian.
Temuan itu membuat tuan saya sangat jengkel, seraya mengumpat dengan bibir komat-kamit. “Pake jimat tak apa-apa, tapi lihat tetangga kita, jadi imbasnya. Kalau mau pakai jimat, ya minimal dipikirkan tentangga yang tidak pakai jimat.” Begitulah umpat kesal tuan saya.
Saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa berdiri terus menerus, seandainya saya jatuh pun, saya tidak bisa mendirikan diri saya sendiri. Tugas saya disini hanya menakut-nakuti burung yang mau hinggap di sawah tuan saya. Ya, saya adalah orang-orangan sawah.
Penulis : Abu Bokar Siddik Hasibuan adalah afiliasi FLP Cabang Padang Lawas , HP : 082277436793.




