Aceh Darussalam

Risalah Nabi Muhammad SAW: Membangun Manusia Berilmu dan Berakhlak

Pengajian Rutin Ahad Subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh. 18 Oktober 2026, oleh: Ust. H. Abrar Zym, S.Ag, MH

Ustadz. H. Abrar Zym, S.Ag, MH.

Banda Aceh, desernews.com
Jika kita bertanya, apa sesungguhnya misi utama Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi? Jawabannya tidak cukup hanya mengatakan bahwa beliau membawa agama Islam. Risalah beliau memiliki misi yang jauh lebih mendasar: membebaskan manusia dari kesyirikan, membangun manusia yang berilmu, membersihkan jiwa, dan membentuk akhlak yang mulia.

Untuk memahami misi besar tersebut, marilah kita merenungkan tiga landasan utama dalam Al-Qur’an.

1. Membangun Manusia Bertauhid dan Beramal Saleh

Dalam surat Al-Kahfi ayat 110, Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Ayat ini memberikan tiga pesan penting.

Pertama, Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang menerima wahyu. Beliau bukan Tuhan, bukan pula manusia yang harus dipertuhankan. Beliau adalah Rasul yang membawa petunjuk Allah untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya kebenaran.

Kedua, tauhid merupakan fondasi seluruh kehidupan. Pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan keyakinan yang menempatkan Allah sebagai tujuan tertinggi dalam kehidupan. Manusia tidak boleh diperbudak oleh harta, jabatan, popularitas, ataupun kekuasaan hingga melupakan Allah dan nilai-nilai kebenaran.

Ketiga, iman harus melahirkan amal saleh. Tauhid tidak berhenti di masjid, di sajadah, atau dalam ucapan. Tauhid harus hadir dalam kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kepedulian sosial, dan kesungguhan menjalankan amanah.

Inilah manusia yang ingin dibangun oleh risalah Nabi: manusia yang benar keyakinannya, lurus orientasi hidupnya, dan nyata kebaikannya.

Sebab, keberagamaan yang hanya tampak dalam simbol, tetapi tidak melahirkan kejujuran dan kepedulian, belum mencerminkan kesempurnaan pengamalan ajaran Islam.

Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk, sedangkan amal saleh membuktikan bahwa tauhid itu hidup dalam dirinya.

2. Membangun Manusia Berilmu dan Berjiwa Bersih

Dalam surah Al-Baqarah ayat 151, Allah SWT berfirman: “Sebagaimana Kami telah menyempurnakan nikmat kepadamu, Kami pun mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”

Ayat ini menjelaskan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar menyampaikan wahyu, melainkan juga membangun manusia melalui pendidikan yang menyeluruh. Ada tiga tugas utama Rasul yang patut kita perhatikan.

Pertama, membacakan ayat-ayat Allah. Manusia diajak mengenal petunjuk Ilahi agar mampu membedakan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil. Wahyu menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, bukan sekadar bacaan yang dilantunkan tanpa dipahami maknanya.

Kedua, menyucikan jiwa manusia. Ilmu saja tidak cukup apabila hati dipenuhi kesombongan, kedengkian, ketamakan, dan keinginan merendahkan orang lain. Karena itu, pendidikan Islam harus membentuk manusia yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bersih hatinya.

Ketiga, mengajarkan Al-Kitab dan hikmah. Al-Qur’an memberikan pedoman, sedangkan hikmah mengajarkan pemahaman dan penerapan yang tepat dalam kehidupan. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin bijaksana, bukan semakin angkuh; semakin bermanfaat, bukan semakin merasa paling benar.

Disinilah kita memahami bahwa pendidikan dalam risalah Nabi tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kebijaksanaan.

Manusia berilmu bukan semata-mata manusia yang memiliki gelar tinggi, banyak membaca buku, atau menguasai teknologi. Manusia berilmu adalah manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk menemukan kebenaran, menyelesaikan persoalan, memperbaiki kehidupan, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Ilmu yang tidak membimbing manusia kepada kebaikan dapat kehilangan arah. Sebaliknya, akhlak yang tidak ditopang pengetahuan dapat kehilangan kebijaksanaan.

Karena itu, risalah Nabi mengajarkan kita untuk menyatukan ilmu, kebersihan jiwa, dan hikmah dalam satu kesatuan.

3. Membangun Peradaban melalui Pendidikan dan Akhlak

Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah ayat 2: “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang ummi dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”

Ayat ini menggambarkan perubahan besar yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus kepada masyarakat yang ketika itu banyak hidup dalam kebodohan, kesukuan yang sempit, ketidakadilan, dan berbagai praktik kemusyrikan. Melalui wahyu dan pendidikan, beliau membimbing mereka menuju kehidupan yang berlandaskan tauhid, ilmu, dan akhlak.

Dari ayat ini, ada tiga pelajaran penting.

Pertama, pendidikan adalah jalan perubahan manusia dan masyarakat. Rasulullah SAW tidak membangun umat hanya dengan perintah dan larangan. Beliau mendidik, memberi teladan, membimbing, dan menumbuhkan kesadaran. Perubahan yang mendalam dimulai ketika manusia memahami kebenaran dan bersedia memperbaiki dirinya.

Kedua, ilmu harus melahirkan peradaban yang berakhlak. Masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang memiliki bangunan megah, teknologi canggih, atau lembaga pendidikan yang banyak. Kemajuan juga harus terlihat dari kejujuran pemimpinnya, keadilan hukumnya, kepedulian terhadap orang lemah, serta tanggung jawab warganya.

Ketiga, perubahan besar memerlukan keteladanan. Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengajarkan kebaikan dengan kata-kata, tetapi menghadirkannya melalui perilaku. Beliau menunjukkan bagaimana ilmu diterapkan, bagaimana kekuasaan dijalankan dengan amanah, bagaimana perbedaan disikapi dengan bijaksana, dan bagaimana manusia dimuliakan.

Maka, tugas pendidikan hari ini tidak boleh berhenti pada menghasilkan lulusan yang pintar dan siap bekerja. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang jujur, berintegritas, peduli, serta berani membela kebenaran.

Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, masjid, dan seluruh institusi masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama: membangun manusia yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus kemuliaan akhlak.

Sebab, ilmu tanpa akhlak dapat menjadi alat untuk menindas, sementara akhlak yang baik dan didukung ilmu akan menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang adil dan bermartabat.

Itulah inti peradaban yang dibangun oleh risalah Nabi Muhammad SAW: manusia yang tercerahkan pikirannya, tersucikan jiwanya, dan dimuliakan perilakunya.

Meneladani Risalah Nabi dalam Kehidupan

Dari ketiga ayat yang telah kita renungkan, kita dapat menyimpulkan tiga fondasi besar risalah Nabi Muhammad SAW.

• QS. Al-Kahfi ayat 110 menegaskan fondasi tauhid dan amal saleh: manusia harus memiliki keyakinan yang lurus dan membuktikannya melalui perbuatan.
• QS. Al-Baqarah ayat 151 menegaskan fondasi pendidikan yang menyeluruh: membacakan wahyu, menyucikan jiwa, serta mengajarkan ilmu dan hikmah.
• QS. Al-Jumu’ah ayat 2 menegaskan misi perubahan peradaban: membimbing manusia keluar dari kesesatan menuju kehidupan yang berilmu, berakhlak, dan bermartabat.

Ketiganya bukan misi yang terpisah. Tauhid memberikan arah, ilmu memberikan pemahaman, penyucian jiwa membentuk karakter, dan amal saleh mewujudkan semuanya dalam kehidupan nyata.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kebangkitan umat Islam, jangan hanya bertanya berapa banyak sekolah, perguruan tinggi, masjid, atau lembaga yang telah kita bangun. Kita juga harus bertanya: sudahkah semua itu melahirkan manusia yang semakin berilmu, semakin berakhlak, semakin jujur, dan semakin bermanfaat bagi masyarakat?

Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas menjawab soal, tetapi juga jujur ketika menghadapi godaan. Bukan hanya pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi berani menegakkannya. Bukan hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memikirkan kemaslahatan umat manusia.

Inilah pekerjaan besar yang diwariskan oleh risalah Nabi Muhammad SAW kepada kita semua.

Mari kita jadikan tauhid sebagai fondasi, ilmu sebagai penerang, akhlak sebagai karakter, dan amal saleh sebagai bukti pengabdian kita kepada Allah SWT.

Semoga Allah membimbing kita menjadi umat yang mampu memahami, menghayati, dan meneruskan risalah Nabi Muhammad SAW dalam membangun manusia yang berilmu, berakhlak mulia, serta menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close