Aceh Darussalam

Kepemimpinan Ibrahim AS Lebih Fokus Bangsa dan Negara

Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA.

Aceh Besar, desernews.com
Kepemimpinan Nabi Ibrahim AS lebih fokus memberi perhatian terhadap bangsa dan negara melebihi fokus terhadap diri dan keluarga, sehingga beliau senantiasa berdoa dan berusaha agar negaranya selalu aman dan kehidupan diri dan keluarga jauh dari penyembahan berhala.

Firman Allah Swt: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim: 35).

Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Babul Iman, Lambheu, Keutapang, Aceh Besar, 5 Juni 2026 bertepatan 19 Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Ia menjelaskan unsur lainnya dalam kepemimpinan Ibrahim AS bahwa memimpin itu harus dengan ketauhidan karena pemimpin dan rakyat yang dipimpin itu merupakan hamba dan ciptaan Allah.

“Dengan demikian kepemimpinan yang tidak berdasarkan ketauhidan bukan hanya kepemimpinan tidak baik, melainkan menjadi kepemimpinan musyrik seperti yang terjadi di berbagai belahan dunia hari ini,” ungkapnya.

Menurut Hasanuddin, kepemimpinan Nabi Ibrahim juga fokus untuk kepentingan rakyat dan kesuksesan ibadah. Dengan demikian tidak ada pemimpin yang ketika tiba waktu shalat lima waktu tutup pintu kedai, rumah, atau kantor lalu tidur di dalamnya sebagaimana praktik para pemimpin sekarang ini.

“Demikian pula, format kepemimpinan Ibrahim untuk beramal makruf dan bernahi mungkar selaras dengan tuntunan Allah yang Maha Perkasa. Format ini melingkupi upaya mengajak rakyat beribadah dan melarang rakyat agar tidak bermaksiat oleh para pemimpin hari ini dilakukan sebaliknya, yaitu berlomba-lomba berbuat jahat dengan meninggalkan beribadat, sehingga rakyat dan negara jauh dari rahmat Allah,” urainya.

Hasanuddin juga menjelaskan, Ibrahim AS hanya berdoa dan berharap kepada rakyat yang mengikutinya menjadi bahagian darinya dan bagi rakyat yang tidak mengikutinya diserahkan kepada Allah.

“Tidak ada konsep tangkap, periksa, siksa dan aniaya dalam format kepemimpinan Ibrahim, yang berbeda jauh dengan kepemimpinan hari ini yang paling doyan menangkap, menahan, memeriksa, serta menganiaya rakyatnya sendiri,” tegasnya.

Semua hal itu sangat asing dari model kepemimpinan Nabi Ibrahim AS yang penuh dengan ketauhidan, kasih sayang, dan tunduk patuh hanya kepada tuhan, bukan kepada Cina dan Amerika, seperti yang terjadi bertahun-tahun di negara Indonesia.

“Itulah penyebab paling utama kenapa negara ini senantiasa amburadul, ricuh dan kacau balau karena tidak pernah menerapkan ketauladanan kepemimpinan Nabi Ibrahim AS sebagai Khalilullah,” pungkas Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh ini. (T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close