Aceh Darussalam

Kurban Wujud Nyata Filantropi Islam

Tgk. Shafwan Bendadeh, SHI., M.Sh

Banda Aceh, desernews.com
Ibadah kurban bagian dari wujud nyata semangat filantropi Islam. Kurban bukan hanya ibadah individual, tetapi juga ibadah sosial. Ia mengajarkan kita bahwa dalam setiap harta yang kita miliki, ada hak orang lain yang harus kita tunaikan.

Melalui kurban, kita belajar memberi. Melalui zakat, kita membersihkan harta. Melalui infak, kita melatih keikhlasan. Dan melalui wakaf, kita membangun kebaikan yang terus mengalir tanpa henti.

Dosen Tetap pada Prodi Hukum Ekonomi Syariah STIS Nahdlatul Ulama Aceh, Tgk. Shafwan Bendadeh, SHI., M.Sh menyampaikan hal itu dalam khutbah Hari Raya Idul Adha 1447 H di Masjid Baitul ‘Alam Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, (27/5/2026).

“Karena itu, bayangkan jika semangat kurban ini tidak hanya hidup satu hari, tetapi terus berlanjut dalam bentuk zakat yang ditunaikan dengan benar, infak yang dilakukan dengan ringan, dan wakaf yang dirancang untuk masa depan umat. Maka umat ini tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kokoh secara sosial dan ekonomi,” urainya.

Shafwan menambahkan, seringkali kita begitu mudah mengeluarkan harta untuk memenuhi keinginan dunia. Kita tidak ragu membeli apa yang kita sukai. Namun ketika datang panggilan untuk berkurban, kita mulai berhitung, menunda, bahkan mencari alasan.

Ini adalah cermin kejujuran kita, apakah kita lebih mencintai dunia, atau lebih mencintai Allah? Padahal, setiap harta yang kita keluarkan di jalan Allah tidak pernah benar-benar berkurang. Ia justru menjadi investasi abadi yang akan kita temukan balasannya di akhirat kelak.

“Ibadah kurban juga mengajarkan kita tentang empati. Daging yang kita bagikan hari ini mungkin hanya dinikmati dalam waktu singkat, tetapi rasa kebersamaan dan kepedulian yang terbangun seharusnya bertahan lebih lama,” ungkapnya.

Menurut Shafwan, masih banyak saudara kita yang hidup dalam keterbatasan. Masih banyak yang menunggu uluran tangan kita. Maka jangan biarkan semangat berbagi ini berhenti di hari ini saja. Jika kurban hanya membuat kita peduli satu hari dalam setahun, maka kita belum benar-benar memahami maknanya.

Di zaman sekarang, ada satu ujian yang tidak kalah berat: keikhlasan. Ketika ibadah mudah terlihat, mudah dibagikan, dan mudah dipuji, maka menjaga niat menjadi semakin sulit.

“Untuk itu, mari kita bertanya dalam hati, apakah kurban ini benar-benar karena Allah? Ataukah ada keinginan untuk dilihat dan diakui? Keikhlasan adalah ruh dari setiap ibadah. Tanpanya, kurban hanya menjadi simbol tanpa makna,” ujarnya.

Pada bagian lain khutbahnya, Shafwan mendorong umat Islam untuk menjadikan momentum Idul Adha sebagai titik perubahan. Mulai hari ini, kita belajar lebih ikhlas, kita kuatkan kepedulian sosial, kita hidupkan zakat, infak, dan wakaf dalam keseharian.

“Kita harus berani mengorbankan segala hal yang menjauhkan kita dari Allah. Karena sejatinya, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang membentuk jiwa-jiwa yang tunduk, jiwa yang peduli, dan jiwa yang siap berkorban di jalan Allah,” tegas amil Baitul Mal Aceh ini. (Sayed M. Husen/TJ/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close