Sosok Visioner Soni Yata, SPd, MPd Kepala MTsN yang Dikenal Gemar Membangun dan Membawa Perubahan

Pasaman, desernews.com
Nama Soni Yata sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan madrasah di Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat. Sosok kepala madrasah yang dikenal sederhana, disiplin, dan memiliki karakter kuat dalam membangun sekolah itu dinilai berhasil menghadirkan perubahan besar di setiap tempat tugas yang pernah dipimpinnya.
Karier kepemimpinan Soni Yata dimulai saat dipercaya memimpin MTsN Kinali selama 4 tahun. Berkat kemampuan manajerial dan semangat membangunnya, ia kemudian kembali dipercaya untuk memimpin MTsN 2 Pasaman Barat yang berada di Ujung Gading.
Saat pertama kali ditempatkan di sekolah tersebut, kondisi MTsN 2 Pasaman Barat dinilai masih tampak biasa. Namun perlahan dan pasti, tangan dingin Soni Yata mulai terlihat.
Pekarangan sekolah ditata ulang, lingkungan dibersihkan, taman diperindah, dan berbagai sarana dibenahi sehingga wajah sekolah berubah drastis menjadi lebih tertata, rapi, dan nyaman dipandang.
Perubahan itu bahkan menjadi buah bibir masyarakat. Banyak warga menilai pagar MTsN 2 Pasaman Barat tampak megah dan hampir menyerupai pagar kantor bupati.
Keindahan dan kerapian sekolah membuat madrasah tersebut semakin diminati masyarakat.
Setiap tahun penerimaan peserta didik baru (PPDB), antusias wali murid untuk memasukkan anak-anak mereka ke MTsN 2 Pasaman Barat terus meningkat.
Namun karena keterbatasan ruang belajar, tidak semua calon siswa dapat diterima.
Selain karena tenaga pendidik yang disiplin berkat pembinaan kepala sekolah, lingkungan belajar yang bersih, rapi, dan indah juga menjadi salah satu daya tarik utama.
Suasana tersebut membuat siswa lebih nyaman dan bersemangat dalam menuntut ilmu.
Setelah kurang lebih lima tahun memimpin MTsN 2 Pasaman Barat, Soni Yata kemudian dimutasi sebagai bentuk penyegaran tugas untuk memimpin MTsN 5 Pasaman yang berada di Andilan, Nagari Simpang Tonang Selatan, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman.
Saat pertama memimpin MTsN 5 Pasaman, jumlah siswa masih tergolong sedikit. Faktor geografis dan jumlah penduduk yang tidak terlalu padat disebut menjadi salah satu penyebabnya.
Namun lagi-lagi, kemampuan Soni Yata dalam membangun dan menata sekolah kembali terlihat.
Lingkungan sekolah dibenahi menjadi lebih bersih, rapi, dan indah. Perubahan itu membuat masyarakat mulai tertarik dan beramai-ramai memasukkan anak mereka untuk belajar di MTsN 5 Pasaman.
Dari tahun ke tahun, jumlah siswa terus meningkat secara signifikan.
Melihat tingginya minat masyarakat, Soni Yata bersama komite sekolah dan wali murid berinisiatif membangun lima lokal ruang belajar baru agar seluruh siswa dapat tertampung.
Saat itu, pembangunan masih dimungkinkan melalui musyawarah dan mufakat bersama wali murid.
Alhamdulillah, pembangunan lima ruang belajar tersebut berhasil diselesaikan dan hingga kini telah lama dimanfaatkan untuk menunjang proses pendidikan.
Tidak hanya itu, sebelum dipromosikan ke MTsN 3 Panti, pihak sekolah di bawah kepemimpinannya juga telah berupaya membangun satu unit mushalla sebagai sarana ibadah bagi siswa dan tenaga pendidik.
Namun pembangunan mushalla tersebut akhirnya terbengkalai setelah adanya larangan pengutipan dana kepada wali murid sejak 28 November 2023.
Di sisi lain, bantuan pemerintah melalui Kementerian Agama juga dinilai masih sangat terbatas sehingga pembangunan mushalla belum dapat dilanjutkan secara maksimal.
Ketika dipercaya memimpin MTsN 3 Panti, jumlah siswa yang ditinggalkannya di MTsN 5 Pasaman tercatat telah mencapai sekitar 518 orang. Angka itu menjadi bukti nyata meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang dipimpinnya.
Soni Yata juga dikenal sebagai salah satu kepala MTsN termuda di Sumatera Barat saat pertama kali diangkat menjadi kepala sekolah sekitar 14 tahun silam.
Ketika itu usianya diperkirakan baru sekitar 30 tahun.
Ayah dari empat putra tersebut kini dipercaya memimpin MTsN 3 Panti yang merupakan salah satu madrasah terbesar di Kabupaten Pasaman setelah MTsN Lubuk Sikaping dan Rao.
Namun di tengah semangatnya membangun sekolah, Soni Yata mengaku kini menghadapi tantangan besar akibat keterbatasan anggaran dan adanya larangan pungutan wajib di sekolah negeri.
Sesuai Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, komite sekolah hanya diperbolehkan menerima sumbangan sukarela dan tidak boleh melakukan pungutan yang bersifat wajib, mengikat, serta ditentukan nominalnya.
Menurut Soni Yata, aturan tersebut memang bertujuan baik untuk melindungi masyarakat. Namun di sisi lain, sekolah negeri juga mengalami kesulitan dalam melakukan pembangunan sarana dan prasarana apabila bantuan pemerintah belum tersedia.
“Kalau hal itu masih diberlakukan, kita tidak bisa lagi banyak berbuat untuk membangun sekolah negeri bila ada kebutuhan mendesak. Sekolah bisa jalan di tempat,” ujar Soni Yata saat ditemui wartawan belum lama ini.
Ia juga menambahkan bahwa sebelum adanya larangan tersebut, dukungan dan partisipasi wali murid sangat membantu dalam memajukan dunia pendidikan, khususnya dalam pembangunan fasilitas sekolah.
Saat ini MTsN 3 Panti yang dipimpinnya memiliki lebih dari 900 siswa dengan jumlah tenaga pendidik, tata usaha, dan staf lainnya mencapai sekitar 73 orang.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, masyarakat tetap menilai Soni Yata sebagai sosok kepala madrasah pekerja keras yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kemajuan pendidikan.
Karakter kepemimpinannya yang gemar membangun dan menata sekolah telah meninggalkan jejak perubahan nyata dan kenangan indah di setiap tempat yang pernah dipimpinnya.(H.Eddi Gultom)




