PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Silau Peringati Hari Kebangkitan Nasional ke 117
Asahan, desernews.com
Perkebunan PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Silau memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 tahun. Peringatan dilakukan dengan menghelat Upacara Bendera di halaman kantor PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Silau, Desa Sei Silau Barat, Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan, pada Selasa 20/5/2025, pagi.
Manager PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Silau, Febryandi Bangun menjadi Inspektur Upacara (Irup) peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-117, dan Komandan Upacara Serka (Purn)RH.Sitanggang.
Kegiatan Upacara Hari Kebangkitan Nasional di hadiri Ketua SpBun, Askep Rayon A-B, Asisten Afdeling/Bahagian, Guru Agama, Krani, dan Anggota Satuan Pengamanan PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Silau.
Febryandi Bangun pada kesempatan itu membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, Meutya Viada Hafid dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional Ke-117 tahun yang bertemakan, “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat”.
Dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Digital menyampaikan tentang pentingnya membangun kebangkitan dari pondasi kehidupan sehari-hari yang sederhana namun berdampak besar, mulai dari ketahanan pangan, hingga perlindungan di ruang digital.
Peristiwa penting ini bermula pada awal abad ke-20, saat masyarakat dari berbagai daerah mulai menyadari bahwa mereka bagian dari satu bangsa yang sama yakni bangsa Indonesia, dan bukan lagi kelompok suku atau wilayah yang terpisah.
Pada masa itu, sistem pemerintahan kolonial Belanda juga sangat parah dan membuat rakyat pribumi menderita karena eksploitasi ekonomi dan politik liberal.
Kondisi ini membuat kaum liberal menyindir kolonial, seperti Eduard Douwes Dekker yang menulis novel berjudul “Max Havelaar”. Novel tersebut berisi kecaman kebijakan pemerintah kolonial dan menuntut agar Belanda tidak tutup mata terhadap penderitaan rakyat jajahannya.
Sehingga, lahir kebijakan balas budi pemerintah Belanda terhadap rakyat jajahannya bernama “Politik Etis”, yang berisi tiga program utama meliputi irigasi, edukasi, dan transmigrasi.
Kebijakan Politik Etis yang diterapkan Belanda tersebut telah membuka akses pendidikan bagi pribumi, tetapi ketimpangan sosial masih tetap terjadi. Hanya rakyat tertentu yang bisa mendapatkan pendidikan.
Di tengah keterpurukan ini, muncul kaum intelektual pribumi yang menjadi motor penggerak perubahan.
Periode ini diawali dengan berdirinya organisasi Boedi Utomo pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Soetomo dan para pelajar STOVIA di Jakarta, yang menjadi tonggak awal gerakan nasional terorganisir di tanah air, kata Menteri.
Kegiatan upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Ke-117 Tahun 2025, PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Silau berlangsung penuh khidmat.
(Hamdani)




