Aceh DarussalamKhasanah

Mencari Malam Lailatul Qadar

Ist.

desernews.com
Di antara keutamaan bulan Ramadhan yaitu adanya malam Lailatul Qadar. Keutamaan malam ini adalah nilai pahala ibadah padanya lebih baik daripada seribu bulan atau lebih kurang delapan puluh tiga tahun.

Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul Qadr. Dan tahukah kamu lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al-Qadr: 1-3).

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang (ibadah padanya) lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa dihalangi kebaikan malam ini, maka sunggah ia terhalang dari mendapatkan kebaikan tersebut (yaitu sangat merugi)”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid untuk beribadah) pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, dalam rangka mencari Lailatul Qadar mengikuti sunnah Rasul shallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), Nabi menghidupkan waktu malam beliau, membangunkan keluarga beliau (untuk beribadah), bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dan mengencangkan ikat pinggang (yakni tidak melakukan hubungan suami istri).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
.
Makna Lailatul Qadar

Para Ulama berbeda pendapat mengenai makna Lailatul Qadar. Menurut sebahagian ulama, makna Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan. Dinamakannya dengan malam kemuliaan karena keagungan kedudukan, kemuliaan dan ketinggian malam ini di sisi Allah ta’ala. Karena Dia menurunkan Al-Qur’an yang memiliki kemuliaan, dengan perantara malaikat yang memilki kemuliaan, atas umat yang memiliki kemuliaan. Maka umat Islam menjadi mulia dan mempunyai kedudukan yang tinggi dengan turun Al-Qur’an.

Maka datangnya malam Lailatul Qadar pada setiap tahun untuk mengingatkan umat Islam bahwa jika umat ingin kemuliaan dan kedudukan yang tinggi, maka umat wajib kembali kepada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai manhaj (pedoman hidup).

Sebahagian ulama lain berpendapat bahwa maknanya adalah malam ketetapan. Dinamakan malam Lailatul Qadar dengan malam ketetapan karena pada malam ini semua amalan manusia dan lainnya selama setahun ditetapkan berdasarkan firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. ” (Ad-Dukhan: 3-4).

Ibnu Qutaibah menjelaskan makna Lailatul Qadr dalam ayat diatas, “Makna al-Qadr adalah al-qadar (ketetapan). Maka makna Lailatul Qadar adalah malam yang ditetapkan hukum-hukum (ketetapan-ketetapan) Allah dalam setahun..”

Ada juga yang berpendapat al-Qadr itu bermakna adh-dhaiq berarti sempit. Maka makna malam Lailatul Qadr adalah malam yang sempit. Maksudnya malam yang bumi menjadi sempit dengan turunnya para malaikat. Makna ini diperkuat dengan ayat, “Namun, apabila Tuhan mengujinya, lalu membatasi rezkinya,” (Al-Fajr: 16).

Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani -rahimahullah- berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam maksud Al-Qadr yang disandarkan kepada Lailah (malam). Ada ulama yang berpendapat maksudnya at-ta’zhim (pengagungan) sebagaimana firman Allah ta’ala, “Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya…” (Al-An’am: 91). Maknanya adalah malam yang mempunyai keagungan karena padanya turun Al-Qur’an, atau karena padanya terjadi turunnya para malaikat, atau karena padanya turun keberkahan, rahmat dan maghfirah, atau apa yang dihidupkan (ibadah) padanya menjadi mulia. Ada juga ulama yang berpendapat maknanya at-tadhyiq (penyempitan), sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan orang yang terbatas rezkinya” (Ath-Thalaq: 7). Makna ath-thadyiq padanya (malam ini) adalah tersembunyinya malam ini dari pengetahuan secara pastinya, atau karena dunia sempit padanya dengan para malaikat (yang turun ke bumi). Ada juga yang berpendapat bahwa al-Qadr disini dengan fathah dal (al-qadar) yang bermakna sama dengan al-qadha’ (ketetapan). Maknanya, pada malam ini ditetapkan hukum-hukum tahun itu sebagaimana firman Allah ta’ala, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhan: 4). Dengan inilah imam An-Nawawi memulai perkataannya, ia berkata, “Para ulama telah berkata, dinamakan Lailatul Qadr karena para malaikat menulis ketetapan-ketetapan sebagaimana firman Allah ta’ala, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh.” (Ad-Dukhan: 4). Dan diriwayatkan dengan makna ini oleh Abdurrazaq dan lainnya dari para ulama tafsir dengan sanad-sanad yang shahih dari Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan lainnya.” (Fathul Bari: 4/390).

Syaikh Al-U’tsaimin berkata, “Dinamakan malam Lallatul Qadr karena dua segi: Pertama, karena pada malam itu amalan-amalan manusia dan lainnya dalam setahun ditetapkan. Dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh. ” (Ad-Dukhan: 3-4). Yakni dirinci dan dijelaskan. Kedua; kemuliaan itu – yakni Lailatul Qadr berarti malam yang memilik kemuliaan, karena kedudukannya sangat agung. Hal itu ditunjukkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadr. Dan tahukah kamu apa malam Qadr itu? malam Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadr: 1-3). (Syarhu Riyadhish Shalihin: 5/221-222)

Anjuran Mencari Malam Lailatul Qadar

Dianjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan memperbanyak ibadah padanya dengan shalat Tarawih, Tahajud, Witir, i’tikaf, zikir dan doa.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa yang melakukan melakukan qiyam pada malam Lailatul Qadar dengan keimanan dan berharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih).

Tidak ada kepastian kapan malam Lailatul Qadar, karena tidak ada hadits shahih yang menjelaskannya. Ini rahasia Allah ta’ala yang tidak diberikan kepada seorangpun termasuk Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam–. Hikmahnya, agar kita senantiasa bersungguh-sungguh beribadah pada malam-malam ini.

Yang jelas, malam Lailatul Qadar itu disediakan oleh Allah ta’ala pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits shahih. Maka kita diperintahkan untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, karena pada salah satu malamnya terdapat malam Lailatul Qadar.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya para sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melihat Lailatul Qadar dalam mimpi pada tujuh malam terakhir, maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Aku lihat mimpi kalian sepakat dalam tujuh malam yang terakhir, maka barangsiapa yang benar-benar mencarinya, hendaknya mencarinya pada tujuh malam yang terakhir.” (Muttafaq ‘alaih).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ia bersabda, “Carilah oleh kalian sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Jika salah seorang dari kalian lemah maka janganlah ia meninggalkan tujuh malam terakhir.” (HR..Muslim)

Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan dengan bersungguh-bersungguh dalam beribadah dan melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid untuk beribadah dengan maksimal) pada sepuluh malam ini sesuai dengan petunjuk (sunnah) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam–.Tujuannya, untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar dan meraih keutamaannya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menghidupkan malamnya (dengan ibadah), membangunkan keluarganya (untuk beribadah), bersungguh-sungguh (beribadah) dan mengencangkan kain sarungnya (yakni tidak melakukan hubungan suami istri).” (Muttafaq ‘alaih).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersungguh-bersungguh (dalam beribadah) pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan melebihi hari-hari lainnya.” (HR. Muslim).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah ta’ala mewafatkankan beliau. Kemudian para istri beliau beri’tikaf setelah beliau (wafat).’ (Muttafaq ‘alaih).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata, “Malam Lallatul Qadar itu di bulan Ramadhan, berada pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Lebih kuatnya ada malam-malam ganjilnya. Lebih kuatnya pada malam ke dua puluh tujuh. Akan tetapi ia berpindah-pindah di dalam sepuluh malam. Yaitu bisa jadi pada tahun ini malam ke duapuluh satu. Pada tahun kedua malam ke dua puluh tiga. Pada tahun ketiga malam ke dua puluh lima atau malam dua puluh tujuh atau malam ke dua puluh ke sembilan atau malam dua puluh empat atau malam dua puluh enam atau malam dua puluh dua. Selalu berpindah-pindah, karena selamanya ia bukan malam tertentu. Akan tetapi yang paling kuat kemungkinan adalah malam kedua puluh tujuh lalu malam-malam ganjil.

Paling kuat di antara sepuluh hari terakhir adalah tujuh hari terakhir, karena sekelompok sahabat bermimpi melihat Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Aku lihat mimpi kalian sepakat dalam tujuh malam yang terakhir, maka barangsiapa yang benar-benar mencarinya, hendaknya mencarinya pada tujuh malam yang terakhir.” Ini mengandung kemungkinan pada setiap tahun atau hanya pada tahun itu saja. Yang pasti, Lailatul Qadar itu pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, bukan di tengah, dan bukan pula di awal bulan Ramadhan, namun di sepuluh terakhir.” (Syarhu Riyadhish Shalihin: 5/222-223).

Demikianlah anjuran Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah pada malam-malam ini berupa shalat Tarawih, Tahajud, Witir, dan i’tikaf, serta zikir dan doa yang diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yaitu Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka memberi ampunan, maka ampunilah aku).

Mari kita bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan ibadah-ibadah tersebut pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan sesuai dengan petunjuk (sunnah) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam–. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah ta’ala dan semoga kita mendapatkan malam Lailatul Qadar. Aamin..!!

Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
Penulis: adalah Dosen Fiqh dan Ushul pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Doktor Fiqh dan Ushul Fiqh pada International Islamic University Malaysia (IIUM), Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Syah Kuala Banda Aceh, dan Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara. Dilaporkan oleh T. Jamaluddin wartawan desernews.com Biro Aceh Darussalm.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close