Daerah

Pesantren Tahfiz Quran di Sibolangit Diintimidasi, Pebisnis “Kera Hitam” Terganggu

Sejumlah orang diduga dibayar oleh pebisnis “kera hitam” untuk melakukan aksi demo dan mengintimidasi di Pesantren Tahfiz Quran Siti Hajar.

Sibolangit, desernews.com
Diduga ditunggangi pebisnis “Kera Hitam” yang merasa terusik dengan keberadaan pesantren Tahfiz Quran Siti Hajar di Sibolangit Kabupaten Deliserdang, Sumut, sehingga membayar sejumlah orang untuk melakukan aksi demo dan mengintimidasi para santri.

Diduga kuat aksi demo yang digelar sekelompok manusia beberapa waktu lalu yang menolak keberadaan Tahfiz adalah by design, setingan dari oknum oknum pengecut.

Beredar sebuah video mengatasnamakan warga menolak adanya Pesantren Tahfiz Quran di Sibolangit, Deliserdang, disinyalir adalah massa bayaran dan merupakan tindakan intoleran.

Dari keterangan pemilik, bahwa pesantren Tahfiz Quran Siti Hajar di Sibolangit dibangun di tanah keluarga seluas 4 ha.

Menurut pemilik tersebut, sebelum pesantren dibangun ada orang Cina yang diduga pemilik The Hill ingin membeli, namun keluarga tidak menjual karena ingin dibuat pesantren Tahfiz. Dan diketahui tanah di lokasi pesantren berdiri memilki Surat Hak Milik (SHM) dan juga bayar IMB.

“Di lokasi pendemo ini adalah lokasi yang dibangun pesantren Tahfiz Quran Siti Hajar yang dibuat untuk anak anak penghafal Al Quran. Apakah mungkin kegiatan anak anak menimbulkan keresahan? Lokasi bukan di pinggir jalan dan hampir tak ada orang lewat. Jika dibilang meresahkan itu bohong besar, jelas aksi penolakan itu beraroma politik. Ada dugaan pendemo bayaran dari pengusaha. Sungguh ini menyakiti hati umat Islam, sudah tak ada lagi toleransi. Kasihan siswa Tahfidz nya sudah gemetar disuruh bubar dan meninggalkan sekolah. Padahal sekolahnya gratis,” kata keluarga pemilik pesantren ini.

Aksi penolakan sekelompok orang tak dikenal itu mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama ummat Islam. Terlebih tindakan Intoleransi itu dilakukan sembari mengeluarkan ancaman berupa pembakaran dan pembunuhan jika pondok Tahfiz Quran Siti Hajar tetap beroperasi. Tentu saja hal ini membuat pengurus dan anak-anak Pondok Tahfiz menjadi khawatir dan cemas.

Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Sumatera Utara menyampaikan sikap diantaranya, meminta kepada Kapolda Sumatera Utara. Kapolres Deli Serdang untuk segera mengusut dan menangkap dalang dibalik aksi demo. Meminta kepada Bupati Deli Serdang, DPRD Deli Serdang, untuk memberikan perlindungan hukum terhadap pengelola dan anak-anak yang mondok di pesantren Tahfiz Quran Siti Hajar.

Disisi lain FUI Sumut juga menentang aksi “demo murahan” itu. “Patut kita menduga aksi itu dilakukan oleh oknum tertentu diduga demi kepentingan bisnis. Aksi demo penolakan pesantren Tahfiz Quran dengan dalih menimbulkan keresahan semacam teror berdampak psikologis dan trauma dialami para santri,” tegas Ketua Umum FUI Sumut Ustadz Indra Suheri yang dihubungi wartawan via pesan WhatsApp, Sabtu (17/09/22).

Ustadz Indra Suheri mengaku pihaknya sudah berkomunikasi dengan pengelola pesantren. Tahfiz Quran itu sudah berjalan sejak 6 tahun lalu dan selama ini tidak ada permasalahan.

“Sebelumnya ada 30 santri Tahfiz Quran yang belajar secara gratis. Sejak adanya aksi demo yang dilakukan oleh sekelompok orang, santrinya tinggal 10 orang karena trauma dan takut akan aksi demo serta teror tersebut,” terang Ustadz Indra Suheri.

Ustadz Indra menduga yang melakukan unjuk rasa itu bukan dari warga setempat, melainkan dari kelompok atau pegawai tempat bisnis yang ada di dekat pesantren.

“Saya menduga demo itu orang yang bekerja di lokasi bisnis tempat wisata itu. Diduga ada desakan kepentingan dibelakang mereka. Ditambah dengan keterangan pemilik, tidak didukung warga setempat. Patut diduga kuat segelintir orang demi kepentingan bisnis,” tegas Ustadz Indra.

Indra menyayangkan adanya unjuk rasa, karena tempat itu sudah lama berdiri. Bahkan itu merupakan tempat penghafal Quran. Sudah pasti, mereka seorang anak yang tidak menggangu masyarakat setempat.

“Saya lihat video itu, dalam spanduk tertulis “warga menolak karena menimbulkan keresahan warga”. Itu tulisan opini yang sesat, saya yakin pesantren tahfiz mengajarkan kalam suci. Mereka para santri tidak mau banyak bicara, karena takut hafalannya hilang. FUI Sumut akan melakukan koordinatif komunikatif dengan pihak terkait seperti kepolisian, pemerintah setempat lainnya,” ujar Ustadz Indra mengakhiri.(kb/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close